
Keesokan paginya, Mike terlihat uring-uringan di kantor. Mike meluapkan emosinya pagi itu pada semua orang yang ada disana.
Bahkan saat meeting Mike melempar kertas bahan rapat dengan alasan tidak menyukai kinerja karyawannya. Padahal tidak ada yang salah dengan proposal yang disiapkan oleh mereka.
Difan yang melihat itu kemudian menegur Mike, "Ada apa denganmu Mike?. Kenapa kamu marah-marah terus sejak pagi tadi?"
"Agghhh, banyak omong. Aku sangat kesal dengan kinerja pegawai disini. Tidak ada satupun yang becus. Brengsek!!" maki Mike.
"Ada masalah lagi dengan Karin?"
Bukannya menjawab, Mike justru melempar semua berkas yang ada di mejanya ke sembarangan arah, hingga membuat Difan terkejut. Ruangan Mike pun sudah seperti kapal pecah karena Mike terus saja meluapkan kekesalannya saat itu.
Difan menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata, "Apa aku harus membatalkan janjimu hari ini?"
"Tidak perlu," jawab Mike singkat.
Setelahnya Mike pun terlihat uring-uringan sepanjang hari. Mike bahkan menolak saat Difan menawarkan untuk membawakan gadis seksi untuk Mike agar Mike dapat berkencan dan bersenang-senang seperti biasanya untuk melupakan sejenak kekesalannya yang Difan sendiri tidak tahu penyebabnya.
Namun, Mike menolak tawaran Difan mentah-mentah.
Tiga jam berlalu, tepat pukul tiga sore, Mike menemui klien besar mereka. Mike mencoba menenangkan dirinya untuk tidak terbawa emosi saat menghadapi klien mereka itu.
"Hai, aku Claire. Kau masih ingat padaku?" ucap gadis blonde seksi bermata cokelat didepannya.
Mike dan Difan terlihat terperanjat di tempat mereka berdiri karena ternyata klien mereka adalah Claire, gadis seksi yang mereka temui di klub malam tempo hari sewaktu mereka berada di Jerman.
"Hai, Tuan Mike. Senang bisa bertemu denganmu lagi."
Mike hanya mengangguk canggung.
"Mungkin kau sudah lupa Tuan Mike, tapi aku masih sangat ingat sekali kesan basah dan bergetar yang kau tinggalkan waktu itu. Kesan yang terus saja melewati pikiranku dan membuatku menginginkan hal yang lebih darimu."
Mike menelan ludahnya kasar, sebab Mike juga masih sebenarnya tidak bisa melupakan hal itu begitu saja.
Setelah cukup berbasa-basi, Mike dan Claire melanjutkan pembahasan bisnis mereka. Setelah selesai membicarakan bisnis, Claire mengajak Mike dan Difan untuk makan malam di sebuah restoran.
Difan kemudian menyuruh Mike untuk mengiyakan ajakan Claire, siapa tau nantinya Claire akan setuju berbisnis dengan mereka kalau Mike mau ikut dengannya. Barangkali dengan minum-minum dapat meredakan stress Mike.
Namun, Mike menolak sebab dia tidak percaya pada gadis itu. Tetapi lagi-lagi Difan meyakinkan Mike, sebab dia adalah klien besar yang akan memberi keuntungan pada mereka.
Hingga akhirnya Mike pun setuju. Di resto Claire memesan bir untuk mereka. Dua jam berselang, tiba-tiba Difan mendapat telepon dari kekasihnya.
"Aku harus kembali bersama Mike. Terima kasih telah mentraktir kami makan malam."
"Bukankah kau akan terlambat menemui kekasihmu jika kau membawa pulang Mike disaat seperti ini. Lihat saja kondisinya."
Difan melihat ke arah Mike yang sudah mabuk berat, sementara ponsel Difan terus saja berdering, membuat Difan sedikit frustasi.
"Aku akan membawanya pulang, setelah aku menghabiskan sebotol wine ini," tawar Claire.
Akhirnya Difan pun dengan berat hati harus meninggalkan Mike yang sudah mabuk berat bersama dengan Claire disana. Dengan perjanjian, Claire akan mengantar Mike pulang setelahnya. Calore pun mengiyakan.
Claire menatap wajah mabuk Mike yang ada didepannya. Tentu saja Claire tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Claire kemudian mendekat ke arah Mike.
Claire mengagumi wajah tampan pria didepannya kemudian mengecup bibir pria itu dengan lembut. Claire dapat merasakan aroma alkohol disana.