
Keesokan harinya, Karin menceritakan kejadian yang terjadi didapur pada ibunya. Kemudian ibu mengatakan kalau Karin tidak diperbolehkan untuk mendekati dapur di ruang tengah karena itu merupakan dapur khusus untuk Tuan Mike.
Karin pun mengangguk karena ia tidak mau kejadian kemarin terulang kembali.
"Untung saja Tuan Mike tidak memarahi kamu. Karena biasanya Tuan Mike pasti marah besar kalau ada orang yang berani masuk ke dapur itu tanpa izin."
"Jadi Karin harus gimana, Bu?"
"Sudah, sekarang kamu anter sarapan ini ke kamar Tuan Mike. Kamu harus hati-hati, jangan sampai bikin Tuan marah lagi."
"Baik, Bu."
Karin pun segera membawa nampan berisi nasi goreng telor ceplok buatan ibunya menuju ke kamar Mike. Karin menaiki anak tangga perlahan karena takut makanan yang ia bawa terjatuh.
Karin mengetuk pintu kamar Mike, tapi tidak ada jawaban. Dengan keberanian, Karin pun membuka pintu perlahan.
"Permisi Tuan," ucapnya sambil celingukan.
Tidak ada seorangpun. Karin lalu segera menaruh sarapan yang ia bawa di atas meja dan bergegas pergi dari sana.
"Mau kemana kamu?" suara Mike dari belakang.
"Tuan butuh sesuatu lagi?. Biar saya ambilkan."
Mike tidak menjawab. Ia hanya diam dan segera menutup pintu lalu menguncinya. Karin mengerutkan keningnya. Raut ketakutan terlihat jelas disana.
Karin pun gemetar saat tiba-tiba Mike mendekat ke arah Karin.
"Tu-Tuan, kenapa?"
Mike tidak menjawab, ia hanya diam dan terus mendekat ke arah Karin yang sudah semakin ketakutan.
Hingga akhirnya Karin tersudut ke tembok dan dengan cepat pemuda didepannya mengungkung tubuh gadis itu dengan lengannya.
Karin berusaha berteriak, tapi dengan cepat tangan Mike membekap mulut Karin. Karin berontak, berusaha melepaskan diri dari hadapan Mike yang terus mengecup leher jenjang gadis itu dengan kasar.
Mike yang mulai terbakar birahi itu pun, tanpa sadar melepaskan bekapan mulut Karin yang seketika membuat Karin berteriak kemudian menampar wajah tampan Mike seraya menangis sesenggukan.
Mike yang marah, kemudian membopong Karin ke tempat tidur lalu memborgol kedua tangan gadis itu.
"Sa-sa-ya mohon jangan, Tuan," iba Karin.
"Layani aku sekali saja," ucap Mike sesaat sebelum merobek paksa pakaian Karin.
Karin berteriak memanggil ibunya sekuat tenaga saat Mike mulai menggagahinya dengan paksa. Karin hanya mampu menangis tanpa suara, saat ia menyadari kalau mahkota yang selama ini ia jaga telah direnggut paksa oleh pria brengsek didepannya.
Entah dosa apa yang telah diperbuat Karin, hingga ia harus menerima perlakuan seperti ini. Ia tidak pernah menyangka kalau kehormatannya akan dirusak oleh orang yang justru telah membantu hidupnya selama ini.
Mike pun terus menuntaskan hasratnya pada Karin tanpa melihat seperti apa wajah sembab gadis itu saat ini. Karin lemas tak berdaya saat Mike kembali menghentakkan miliknya yang sudah entah ke berapa kalinya itu.
Mike pun menghentikan kegiatannya saat melihat Karin yang sudah pingsan tak sadarkan diri.
Satu jam kemudian, Karin tersentak bangun. Ia berharap semua yang dialaminya barusan hanyalah mimpi. Namun, saat ingin bangkit, ia merasakan rasa nyeri dan sakit di bawah sana. Seketika ia menjerit saat menyadari kalau yang ia alami bukanlah mimpi belaka.
Mike kemudian menghampiri Karin dengan wajah tenang tanpa dosa.
"Laki-laki biadab. Bu..Ibu..!!" teriak Karin.
Seketika Sarah datang dan memeluk putrinya itu.
"Bu, laki-laki itu jahat. Ayo lapor polisi, dia sudah menghancurkan masa depan Karin Bu...," Karin terus menangis sesenggukan didalam pelukan ibu.
Bukannya merasa takut, Mike justru tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Karin kemudian melepaskan pelukan ibunya, lalu mencekik leher pria yang telah merampas kehormatannya itu dengan sekuat tenaga.