
Mike pun menepati janjinya pada Sarah bahkan Mike memberikan Sarah sebuah villa mewah agar Karin bisa tinggal berdua saja bersama Mike tanpa adanya Sarah diantara mereka supaya Mike lebih leluasa didekat Karin.
Setelah Sarah pindah, Mike memberikan kertas berisikan kontrak pada Karin. Dengan isi kontrak yang sangat tidak masuk akal. Karin membaca isi kontrak tersebut satu persatu.
"Dasar laki-laki sampah!" kesal Karin.
Kontrak mereka akan berakhir jika Mike sudah bosan dengan Karin dan Karin akan diberikan kompensasi untuk menikah dan biaya hidupnya akan dibiayai oleh Mike seumur hidup Karin.
"Bagaimana?" tanya Mike.
"Kalau saya hamil bagaimana?"
"Kamu tidak usah khawatir, aku ini mandul. Aku tidak akan bisa membuatmu hamil," tipu muslihat Mike untuk meyakinkan Karin si lugu.
Difan mengerutkan dahinya saat mendengar kebohongan bosnya.
"Saya juga punya syarat," ucap Karin dengan tegas.
"Syarat apa honey?" jawab Mike.
"Hapus syarat menjijikkan poin pertama. Saat saya menstruasi, saya berhak melarang kamu menyentuh saya."
"What?!. No, Karin. No. Kalau aku setuju dengan syarat itu, aku harus menunggu selama seminggu. Oh my God, aku tidak bisa menunggu selama itu."
"Kalau kamu nggak sanggup, kamu masih bisa kan berhubungan sama wanita lain dengan syarat wanita itu harus sehat. Aku tidak mau terkena penyakit."
"Oke, setuju."
Kesepakatan pun disetujui. Dengan berat hati, Karin menandatangani kontrak bodoh itu.
"Baiklah. Aku pergi dulu, sejujurnya aku sudah tidak tahan but it's okay bagaimanapun sekarang kamu adalah milikku. Sampai ketemu nanti malam. Bye."
Mike mengecup kening gadis itu sementara Karin memejamkan matanya, ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini.
Di kantor, sepanjang jalan Mike tersenyum sumringah rasanya seperti ia mendapatkan gundukan lotere pagi itu.
"Fan, kenapa si bos?. Abis menang tender besar?" tanya seorang karyawan pada Difan.
"Iya, yang pasti lebih berharga dari sekedar tender milyaran."
"Apaan?"
Setibanya di ruangan, Mike menyuruh Difan untuk membelikan beberapa lingerie untuk Karin. Namun, Difan menolak sebab ia merasa malu kalau harus membeli barang-barang menggelikan seperti itu.
"Aku rasa lebih baik kamu tidak usah menyuruhnya memakai itu, toh juga pakaian itu akan kamu rusak."
Mike tertawa terbahak-bahak.
"Ngomong-ngomong rapatku jam berapa?"
"Jam 10,"
Mike melihat jam di tangannya, masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.
"Baiklah, bawakan aku berkas untuk rapat pagi ini."
Difan pun segera keluar. Tak lama asisten pribadi Difan, membawa tumpukan berkas masuk ke dalam ruangan Mike.
Terlihat Mike sangat tampan saat sedang menatap serius layar komputer didepannya.
"Ini pak berkasnya," ujar wanita itu dengan sedikit manja.
Mike menoleh, dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya dan berkata, "Taruh saja disitu."
Mike terkesiap saat wanita itu tiba-tiba meraba titik lemah Mike yang membuat libido Mike pun terpancing. Dasar Mike.
Mike dengan cepat membawa gadis itu kedalam ruangan kecil yang ada didalam ruang kerja Mike. Ruangan yang memang khusus diperuntukkan untuknya.
Gadis itu melancarkan aksinya dengan menggerayangi dan mencumbui tubuh kekar Mike hingga membuat Mike tak kuasa menahan hasratnya.
Kini giliran Mike. Mike mendaratkan kecupannya diberbagai sudut intim gadis itu yang sukses membuat gadis didepannya menggeliat hebat saat merasakan sensasi sentuhan Mike ditubuhnya.
Mike melucuti pakaian gadis itu satu persatu, kemudian kembali mencumbuinya dengan brutal. Bibir manis gadis itupun akhirnya meloloskan sebuah *******, meminta Mike untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Gadis itu memegang milik Mike untuk dimasukkan ke gadis itu. Namun, dengan cepat Mike menghentikan gerakan gesit gadis didepannya.
"Aku tidak melakukan 'itu' dengan gadis lain."
Mike pun segera memakai pakaiannya lalu menuju toilet dengan santai meninggalkan wanita yang sudah tampak sangat kesal itu.