
Malam harinya seperti biasa, Mike kembali ke rumah. Namun, kali ini rumahnya tampak sepi, tidak seperti biasa.
"Kenapa sepi sekali?" lirihnya.
Prang!!!
Mike terkejut saat mendengar suara gaduh dari arah kamar Karin. Dengan secepat kilat, Mike pun segera berlari ke arah suara.
Mike memutar gagang pintu, tapi terkunci sementara Karin terdengar berteriak histeris didalam sana.
"KARIN..KARIN, buka pintunya!" teriak Mike dari luar seraya berusaha mendobrak. Namun, pintu itu tidak kunjung terbuka hingga membuat Mike semakin frustasi.
"TIDAK, Kumohon jangan. TOLOONG!!!. AAAAAGHHHH!!!" histeris Karin untuk kesekian kalinya.
Mike mencoba menghubungi Difan, tapi tidak diangkat karena saat ini Difan sedang mengemudi hingga membuat Mike semakin bertambah frustasi.
Mike kemudian mengambil kursi jati berukuran besar didepannya lalu melemparkan kursi itu sekuat tenaga ke arah pintu. Alhasil pintu pun terbuka.
Mata Mike membelalak sesaat setelah ia masuk kedalam. Ia melihat seorang pria asing sedang mencoba mencumbu paksa tubuh gadis itu.
Mike segera melayangkan bogem mentah ke arah pria bermasker hitam yang ada disana.
"Siapa kau?. Apa yang kau lakukan disini?" geram Mike membabi buta.
"Berani-beraninya kau mengganggu Karin. Dia itu milikku, aku tidak akan melepaskan siapapun yang berani mengganggunya. Brengsek!!" ujar Mike sesaat sebelum kembali menghantam wajah pria itu.
Sementara Karin tampak sangat ketakutan dan menangis di sudut ruangan dengan pakaiannya yang sudah robek disana-sini. Ternyata sudah sedari tadi, Karin berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan dirinya seorang diri.
Untung Mike cepat datang, sehingga pria asing itu tidak sempat melancarkan niat bejatnya pada Karin.
Mike kemudian memeluk Karin dan menenangkan gadis mungil itu. Karin tampak gemetar hebat.
Mike terkesiap saat merasakan lengan kekar miliknya seperti ditusuk benda runcing. Benar saja, saat Mike berbalik pria asing itu tampak memegang sebuah jarum suntik di tangannya.
Mike yang marah, kembali melayangkan bogem miliknya ke wajah pria itu hingga membuat pria itu lari tunggang langgang.
Mike pun kembali merangkul Karin sesaat setelah membalut tubuh gadis itu dengan selimut.
Sementara Karin hanya bisa menangis sesenggukan dalam pelukan Mike.
Sesaat berikutnya, Mike melepas pelukan Karin. Entah kenapa Mike merasa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Tubuh pemuda itu terasa panas padahal saat itu penyejuk udara yang ada didalam kamar Karin berfungsi dengan baik.
"Aku akan mengambil pakaianmu," ucapnya sesaat setelah menghapus air mata di wajah Karin.
Mike kemudian mengambil piyama milik Karin dari lemari lalu menyodorkannya.
"Ganti bajumu Karin, aku akan menunggu di luar."
Karin mengangguk.
Mike kemudian keluar dari kamar Karin, sementara Karin segera mengganti pakaiannya.
"Kenapa tubuhku terasa panas sekali?" ujar Mike seraya mengendurkan ikatan dasinya.
Tak lama berselang, Mike merasa tubuhnya semakin panas dan dahaga.
"Ada apa ini?" bisiknya seraya mengecek penyejuk udara yang ada disana.
"Tidak ada yang aneh dengan penyejuk udara disini, tapi kenapa tubuhku terasa sangat panas--,"
Mike tampak terkejut saat menyadari tubuh bagian bawahnya sudah mengeras dan hasrat Mike terasa mulai bergejolak.
Tanpa pikir panjang, Mike segera pergi ke kamarnya untuk membasuh tubuh agar pikirannya menjadi jernih.
Mike mengguyur seluruh tubuhnya sambil sesekali melakukan aktivitas fisik untuk menghilangkan hasratnya yang makin tidak tertahan.
Bukannya semakin mereda, hasrat Mike justru semakin memuncak, sesuatu yang ada dibawah sana terus mendesak dan memaksa untuk segera dikeluarkan.
Tanpa pikir panjang, Mike pun dengan cepat menggunakan jemarinya untuk mengeluarkan gejolak tak tertahan itu dari dalam sana.
Mike mengerang dan melenguh kesakitan saat lahar panas yang sedari tadi bergejolak didalam dirinya belum berhasil dikeluarkan hingga membuat Mike mulai berkeringat dingin. Sesaat kemudian Mike merasakan hasratnya kembali bergejolak tak karuan hingga membuat Mike semakin frustasi.
"Sial!!," makinya.