
"Kenapa kau berhenti sayang?" ucap wanita cantik yang sudah dipuncak gairah itu.
"Cepat kenakan pakaianmu, kau membohongiku. Ternyata kau masih perawan."
"Aku bukan membohongimu, aku hanya ingin menikmati permainan yang kau suguhkan."
"Kalau aku tau sejak awal, aku tidak akan bermain denganmu."
"Apa salah kalau aku perawan, bukankah harusnya kau senang karena kau adalah pria pertama yang bercinta denganku. Bahkan aku dengan sukarela menawarkan keperawanan ku untukmu, tapi sayangnya kau menolak. Karena gadismu itu, iya kan?"
"Cukup. Cepat pakai pakaianmu dan pergi dari sini."
Wanita itu dengan cepat memakai pakaiannya, setelahnya dia mencium pipi Mike.
"Aku suka permainanmu. Aku Claire, ingat nama ini. Aku harap kita segera bertemu kembali untuk menuntaskan permainan kita. Sampai jumpa."
Wanita itu pun kemudian pergi meninggalkan Mike yang masih mematung disana. Entah mengapa, gadis itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi Mike.
"Firasat apa ini?" lirihnya.
Dini hari Mike tiba di rumahnya, Mike berkata pada Difan kalau sedari siang tadi dia tidak bisa menghubungi Karin.
"Apa Karin baik-baik saja?"
"Kamu tenanglah, dia baik-baik saja."
"Aku mengkhawatirkannya."
"Kamu mengkhawatirkan gadis lain setelah bercinta dengan gadis yang lainnya. Lucu sekali."
"Hei, aku bukan bercinta dengannya. Aku hanya bermain. Aku hanya bercinta dengan Karin saja."
Difan tertawa.
"Kalau kamu tidak mau kehilangan dia, harusnya kamu tidak melakukan itu Mike."
"Aku sudah berusaha. Ini seperti kutukan, aku tidak bisa menahan diri lebih dari sehari. Aku seperti bom yang dipenuhi mesiu dan akan meledakkan diriku sendiri jika aku tidak melepaskannya."
"Kamu tau Difan, aku merasa aku bisa hidup seratus tahun tiap kali aku menyentuh gadis itu di ranjang. Bahkan aku mampu untuk menahan diriku lebih lama hanya agar tidak mengecewakannya."
Benar saja, meskipun Karin lugu dan pasif dalam masalah ranjang tapi Mike selalu berusaha untuk tidak membuat gadis itu menangis.
Mike menambahkan, kalau ia selalu haus dan dahaga tiap kali melihat Karin. Bahkan kalau Mike tidak menahan diri, Mike bisa menggempur Karin semalaman tanpa berhenti, meskipun tubuhnya sangat kelelahan karena Mike tidak mau melewatkan tiap momen untuk menyentuh gadisnya itu.
Aneh tapi memang itu benar adanya. Mike bahkan selalu membayangkan pergumulan mereka meskipun sudah beberapa hari berlalu. Bercinta dengan Karin membuat Mike menjadi gila.
"Tapi baru-baru ini kamu membuatnya menangis, Mike. Karin benar-benar sedih, saat dirimu menidurinya dengan paksa dan kasar waktu kamu berada dibawah pengaruh obat perangsang tempo hari."
Mike terkejut dengan ucapan Difan.
"Kamu memperlakukan nya malam itu seperti wanita panggilan. Kenapa kamu harus sebuas itu Mike?"
Difan menjelaskan kalau Karin saat itu ingin mencoba membantu Mike karena Mike tampak sangat kesakitan, padahal Difan sudah menyuruhnya untuk tidak mendekati pemuda itu.
Namun, Karin justru mendekat dan akhirnya masuk kedalam mulut harimau yang sedari tadi memang menunggu makanan.
"Apa kamu sudah menyadari kesalahan mu?" tanya Difan.
Mike mengiyakan.
"Besok pagi kita akan kembali ke Indonesia. Kemasi barang-barang mu."
Difan kemudian pergi meninggalkan Mike seorang diri di kamarnya.
Mike benar-benar tidak sadar apa yang dia lakukan pada Karin saat itu.