
Difan memasuki rumah Mike dengan kunci yang dia miliki.
"Kenapa rumah ini sepi sekali," bisiknya.
Difan menyuruh wanita yang ada dibelakangnya untuk mengikutinya. Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan kamar Mike.
Difan mengetuk pintu kamar, tapi Mike tidak menjawab. Difan pun masuk kemudian mencari Mike ke setiap sudut ruangan. Namun, Mike tidak ada disana.
Difan meraup wajahnya kasar dan menghela nafas berat saat menyadari kalau Mike pasti sudah meniduri Karin untuk menuntaskan hasratnya.
Difan kemudian mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada wanita dibelakangnya yang tampak bingung, "Ini bayaranmu, kamu bisa kembali."
"Dimana pria yang akan aku layani?. Sayang sekali, padahal aku sudah siap melayani pria itu."
"Rahasiakan hal ini dari siapapun."
"Apa begini caramu melakukan kesepakatan?. Aku lelah berdiri diluar. Bisa kita masuk lebih dalam?" ucap wanita itu mencoba menggoda Difan dengan nada bicara penuh hasrat.
"Aku tidak tertarik. Jadi pergilah, selagi aku bicara baik-baik," ancam Difan.
Difan bukanlah Mike yang akan dengan mudah terjerumus dengan rayuan nakal seorang wanita. Meskipun jujur saja, dari dalam sana Difan sebenarnya tergoda, tapi Difan berusaha berpikir waras dan mengendalikan hawa nafsunya.
Sesaat setelahnya, wanita itu pun pergi dengan wajah kesal. Selanjutnya Difan pun menuju kamar Karin, karena Difan yakin betul Mike pasti ada di kamar itu. Dan dugaan Difan benar adanya.
Sesaat setelah pemuda itu membuka pintu, dia menemukan Mike sedang tertidur pulas di kamar Karin tanpa sehelai benangpun.
Namun, Karin tidak ada disana.
Difan lalu masuk dan mencari ke sekeliling ruangan. Sayup-sayup dia mendengar Karin sedang menangis di kamar mandi.
Difan tau apa yang telah terjadi pada Karin. Gadis itu pasti sangat menderita karena apa yang telah dilakukan Mike padanya. Namun, Difan tidak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan paginya, Mike bangun dengan kondisi kepala dan tubuhnya terasa sakit.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" ujar Mike sambil tersenyum saat samar-samar pemuda itu kembali mengingat apa yang dia lakukan pada Karin.
Mike kemudian mencari keberadaan Karin, tepat saat itu juga Karin masuk ke dalam kamar.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Karin mengiyakan. Meskipun dalam hatinya terasa sangat sakit, tapi Karin berusaha setegar mungkin untuk tidak menangis didepan Mike.
"Aku bawakan kamu sarapan."
Mike kemudian menarik Karin dalam pelukannya lalu berbisik di telinga Karin, "Aku mau sarapan yang lain. Aku lapar."
Karin menangkap sesuatu yang tersirat dalam kata-kata pemuda itu.
"Tidak Mike, aku tidak mau melakukannya lagi."
Karin tampak trauma dengan apa yang dilakukan Mike padanya tadi malam, dan dia tidak menginginkan hal itu terulang lagi pagi ini.
Bukannya menyudahi aksinya, Mike justru semakin bersemangat pada Karin. Tubuh Karin benar-benar candu bagi Mike. Meskipun tubuh Mike masih sakit, tapi Mike tidak mengacuhkannya.
Bagaimana tidak, kulit mulus, dada kencang dan pinggang semampai Karin sangat menggairahkan bagi Mike. Belum lagi gundukan daging milik Karin dibawah sana yang sangat hangat dan rapat, terasa seperti magnet yang terus menghisap milik Mike semakin dalam setiap kali pemuda itu memasukkan miliknya kedalam sana.
Mike mencumbu gadis itu kembali di setiap inci tubuhnya dengan liar. Entah bagaimana Mike masih sangat bersemangat dan bertenaga pagi ini, bahkan dia belum makan sesuai nasi pun. Mike benar-benar gila kalau sudah berurusan dengan Karin.
Sementara Karin terus menolak Mike dan menjauhkan tubuhnya dari pemuda itu saat Mike mencoba menarik pakaian dalam Karin dan bersiap untuk menunjukkan keperkasaannya kembali pada Karin.
"Jangan menolak. Aku sudah tidak tahan."
"Jangan Mike, aku tidak mau."
"Ingat kita sudah sepakat dengan hal ini."
Perlahan Karin sadar, sekuat apapun gadis itu melawan atau menolak, pemuda itu akan tetap menjadikan dirinya sebagai gadis pemuas nafsunya.
Terlebih Karin sudah menandatangani kontrak dengan Mike. Karin hanya bisa diam dan menurut dengan bagaimana cara Mike memperlakukannya.
Ayolah Mike, tidak perlu merasa bersalah. Gadis itu milikmu. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau padanya, bisik Mike dalam hati seraya melahap sarapannya pagi itu.