Bad CEO

Bad CEO
Khawatir



Nafas Karin terengah-engah dengan wajah yang bersemu merah. Entah kenapa kali ini justru Karin menginginkan Mike kembali menyemburkan lahar panas itu kedalam miliknya.


Pergumulan mereka kali ini membuat Karin menjadi gila. Kali ini tubuh Karin tidak menolak, gadis itu justru sangat menikmati permainan Mike.


"Aaahhh....," sebuah lenguhan pun berhasil lolos dari bibir Karin yang sukses membuat Mike tersenyum karena paham kalau Karin mulai nyaman dengan permainan yang Mike ciptakan.


Karin menatap wajah Mike lekat, pemuda itu sangat berbeda dari malam kemarin. Pagi itu Mike menggagahi Karin dengan sangat lembut. Meskipun terkadang masih sedikit liar, setidaknya tidak seperti kemarin malam.


Mike mengeras, "Aku akan keluar. Aaggghhhh..., agghhhh..., aggghhhhhh.., euugghhhhh.., eeuuugggh.., aaaaaa..aaaakkhh," ujar nya seraya semakin memacu semangatnya untuk memompa Karin lebih cepat yang diikuti dengan teriakan Karin dibawah sana.


Setelah pergumulan mereka berakhir, Mike segera bergegas pergi meninggalkan Karin yang terkulai lemas di atas ranjang sesaat setelah menerima panggilan telepon dari Difan.


Karin menatap punggung Mike sesaat sebelum Mike meninggalkan Karin disana.


Empat puluh lima menit berselang, Mike sudah tiba di kantornya.


Difan segera melaporkan hasil rapat mereka pagi itu.


Difan mengatakan bahwa kali ini Mike harus pergi ke Jerman bersamanya, karena hanya Mike yang bisa mengurus kekacauan ini.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Karin sendirian disini?. Apa dia tidak bisa ikut denganku?"


"Tidak Mike, apa yang akan kamu katakan kalau keluargamu bertanya tentang Karin?"


"Bukankah itu bagus, aku cukup bilang kalau Karin adalah kekasihku. Jadi mereka bisa berhenti menjodohkan aku dengan Kristin."


"Apa kamu yakin keluargamu akan percaya?" timpal Difan.


Mike diam.


Difan melanjutkan, "Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan seorang bodyguard untuk menjaganya selama kita disana."


"Pria atau wanita?"


"Tentu saja seorang pria, dia adalah lulusan terbaik."


"Tidak. Aku mau pengawal wanita untuk menjaga Karin. Aku tidak suka melihat gadisku dekat dengan pria lain."


"Kapan kita berangkat?"


"Hari ini, lima jam lagi."


...****************...


Di rumah Karin sedang berbincang dengan mba Pur yang saat itu baru saja kembali dari kampung halamannya.


Karin mengobrol dengan mba Pur sambil sesekali melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Mba, kenapa tuan Mike belum pulang?. Tidak biasanya Tuan Mike belum pulang jam segini."


"Waduh, mba kurang tau Non. Setahu mba, Tuan memang selalu pulang larut malam atau subuh bahkan jarang pulang ke rumah. Semenjak ada Non Karin, mba jadi jarang tuh liat Tuan Mike pulang malam."


"Ah, mba bisa aja," Karin tersipu malu.


Mba Pur tertawa, "Lebih baik Non coba telepon Tuan Mike biar lega."


Karin pun mengiyakan.


Setelahnya Karin bergegas meninggalkan mba Pur dan mencoba menghubungi ponsel Mike. Gadis itu mulai khawatir sebab ponsel Mike tidak dapat dihubungi.


"Dasar Karin bodoh. Untuk apa kamu mencemaskan pria mesum itu, sudah jelas dia pasti bersenang-senang dengan wanita lain diluar sana," ujarnya sambil mewek.


Sementara didalam pesawat, Mike menatap ponselnya yang sedari tadi mati. Pemuda itu juga mengkhawatirkan gadisnya yang akan dia tinggalkan selama seminggu disana.


"Tidak usah khawatir. Pengawal yang kamu minta sudah aku siapkan. Bertahanlah selama seminggu ini," ujar Difan melirik ke bagian bawah Mike kemudian tersenyum mengejek.


"Apa kamu sedang meledekku?" ujar Mike kesal.


"Aku hanya mengingatkan, kalau selama seminggu kita disana aku minta kamu menjaga sikap dan menahan diri untuk tidak menggali terowongan orang lain," ujar Difan pada Mike.


"Iya, aku tau," balas Mike kesal.