Baby From Idol

Baby From Idol
Part 9 penguntit



HAPPY READDING


Kini Jessi tengah berada di sebuah penginapan murah yang disewanya yang berada tak jauh dari pusat kota Madrid.


Jessi sengaja memilih penginapan ini walaupun ia harus naik taksi lagi untuk ke pusat kota nanti. Alasannya, karena ini adalah penginapan yang paling murah di bandingkan yang lain yang sebelumnya sudah ia cek.


Ia harus menghemat uang karena persediaan uang di tabungannya mulai menipis. Apalagi kini ada nyawa baru di perutnya yang pasti akan membutuhkan banyak uang.


Rencananya, ia akan pergi mencari Axel di hotel sebelumnya, nanti malam. Sebenarnya Jessi sudah lupa dimana alamat hotel itu. Akan tetapi itu bukan hal yang sulit untuk menemukannya, karena seingatnya hotel yang di tempati Axel itu adalah hotel bintang lima terbaik di Madrid. Ia hanya perlu mencarinya di google menggunakan kata kunci.


Daftar hotel-hotel bintang 5 yang ada di Madrid.


Dan sudah pasti hotel itu akan muncul paling atas, dengan menampilkan alamatnya.


Bukankah ia sungguh pintar?


Ada sesuatu hal yang membuatnya resah. Bagaimana jika nanti Axel sudah tak ada di sana? Ia harus mencarinya kemana lagi?


Jessi bahkan tak tau alamat di mana Axel tinggal karena pria itu tak pernah mengatakannya di depan publik karena itu adalah privasi.


Jessi menghela nafas panjang, sambil mengusap-usap perutnya yang masih datar.


semoga saja kita bisa menemukan daddymu disana.


Jessi tengah berbaring di atas kasur yang hanya cukup di tempati 1 oarang saja, sambil menatap langit-langit kamarnya.


Ingatannya terlempar ke beberapa waktu lalu, dimana saat pertama kali mengetahui dirinya tengah mengandung. Ia sempat pernah berfikir untuk menggugurkan kandungannya. Akan tetapi ia membuang jauh-jauh pemikiran itu.


Ia tak mau menambah dosa dengan menjadi pembunuh.


Apalagi ini adalah darah dagingnya sendiri, meskipun 'ia' ada karena kesalahan.


Cukup saja dosanya sudah banyak karena ia banyak berbohong dan sudah mengecewakan orangtuanya tanpa sepengetahuan mereka.


Sudahlah, ia tak perlu mengingat lagi hal bodoh itu. Kini tujuannya hanya satu. Mencari Axel dan memberitahu padanya mengenai anak di dalam kandungannya.


Mata Jessi mulai menutup perlahan-lahan, membawanya masuk ke alam mimpi.


°°°°°


Jessi menatap lurus ke sebuah pintu kamar hotel.


Ya, dirinya sedang berada di depan  pintu kamar hotel. Kamar yang menjadi saksi di mana Axel melakukan perbuatan bejatnya pada seorang gadis yang hanya ingin mengantarkan pesanannya.


Berbagai macam pemikiran hinggap di kepalanya. Mulai dari


Bagaimana jika yang membuka pintu nanti bukanlah Axel.


apa Axel masih mengingatku?


apa yang harus ku katakan pertama?


Hingga


apa Axel akan bertanggung jawab?


Kalimat terakhir itu membuat Jessi ragu untuk memencet bel, yang berada di samping pintu kamar.


Ia takut.


Bagaimana jika Axel tidak mempercayainya dan menuduhnya memanfaatkan situasi. Atau lebih parahnya lagi Axel menyuruhnya untuk menggugurkan Janinnya?


Ah, tidak, tidak!!


Ia tak boleh berpikiran seperti itu sebelum mencobanya. Siapa tahu sikap Axel berbanding jauh dengan apa yang di pikirnya.


Ya! Dia harus mencobanya.


semoga saja Axel,, semoga saja Axel.


Batinnya saat tangannya mulai mengarah ke arah bel di samping pintu.


Ding dongg ...


Ding dongg ...


Belum ada jawaban.


Ia kembali memencet bel.


Ding dongg ...


Ding dongg ...


Ia merasa gugup sekaligus takut disaat bersamaan.


Tangannya akan kembali memencet bel lagi. Akan tetapi pintu kamar lebih dulu terbuka disaat tangannya tinggal berjarak 3 Cm lagi dari bel.


Ia mencoba melihat siapa orang di dedepannya, yang sudah membukakan pintu.


Seketika tubuhnya menegang saat melihat sosok didepannya.


Ini tak seperti yang di harapkannya.


Sosok yang membukakan pintunya adalah seorang gadis yang mungkin mempunyai usia setahun atau dua tahun diatasnya.


Tubuhnya seketika melemas. Ia sepeti kehilangan harapan saat mengetahui seorang di depannya bukanlah seorang yang sama saat mebukakan pintu untuknya 2 minggu lebih yang lalu.


"Siapa?" Terdengar nada ucapan tak suka dari gadis di depannya.


"A-aku,," Jessi tergagap. Ia bingung apa yang harus di katakannya. Tak mungkin jika ia mengatakan mencari seseorang yang menghuni kamar ini 2 minggu lalu. Jelas gadis di depannya ini tak tahu siapa penghuni sebelumnya.


Hal itu malah membuat Jessi semakin kebingungan


"I-itu.."


"Itu apa? Bicaralah yang benar!."


"Saya ingin mencar-"


"Ahh aku tahu!" Selanya memotong ucapan Jessi.


"Kau pasti seorang penguntitkan? Iya kan? Mengaku saja!" Lanjutnya menuduh jessi.


"Bukan seperti itu. Kau salah paham nona." Sanggahnya dari ucapan gadis di depannya.


"Tak usah berbohong padaku!! Ini sudah kesekian kalinya aku menghadapi penguntit sepertimu!"


"Tapi aku bukan penguntit."


"Cih! Kau tak usah berbohong. Lebih baik kau pergi atau aku memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu.!" Usirnya pada Jessi dengan ancaman


"Dengarkan dulu." Jessi mencoba menjelaskan kalau ia bukan penguntit


"PERGI!!" teriak gadis di depannya.


Jessi terkesiap mendengar teriakan itu.


"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang baru muncul dari arah belakang gadis itu.


Mata Jessi membulat melihatnya.


°°°°°


Saat ini Penelop sedang berada di kamar hotel milik Axel. Seperti yang di katakan Herry sebelumnya, bahwa ia akan menyuruh Oenelop untuk membereskan barang-barang milik Axel.


Dan disinilah Penelop.


Ia sedang membereskan barang-barang untuk Axel. Sedangkan orang yang punya barang-barang itu? Hanya berdiri sambil menggenggam gelas berisi cairan bening, sambil memperhatikan asisten di depannya.


"Hei Ax! Berhentilah untuk memperhatikanku" "Lebih baik kau membantuku dari pada hanya berdiri di situ." Kesal Penelop pada Axel.


Penelop memang sudah sangat akrab dengan Axel jauh sebelum ia menjadi asisten Axel. Hal itu di karenakan sang  kakak, Herry, yang tak lain dan tak bukan adalah manajer Axel.


Dulu, Penelop sering ikut membantu Herry untuk menyediakan keperluan Axel, meskipun Axel sendiri juga memiliki seorang asisten.


Bukan tanpa alasan. Penelop melakukan itu karena dia juga salah satu  penggemar dari Axel. Dan dia memanfaatkan posisi sang kakak, agar menjadi lebih dekat dengan sang idola. Hingga dimana asisten Axel berhenti, saat itu juga Penelop menawarkan diri untuk menjadi asisten pribadi Axel. Axel yang memang juga sudah mengenal Penelop pun menyetujuinya.


Sebelumya Herry tak mengijinkannya, karena usia Penelop yang masih sangat muda, yaitu 20 tahun, seumuran dengan Axel. Ia menginginkan Penelop untuk kuliah saja di banding menjadi asisten axel. Akan tetapi Penelop menolak itu semua dan memilih menjadi asisten Axel. Mau tak mau Herry pun menyetujui ucapan adiknya tersayang. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya.


Dan dari situlah ketiganya, Axel Herry dan Penelop mulai akrab.


"Bukankah itu pekerjaanmu? Mengapa kau meminta bantuanku?" Jawabnya pada Penelop.


"Aishh kau ini."


Ding dongg ...


Ding dongg ...


"Ax, siapa yang datang bertamu malam-malam seperti ini?." Tanyanya menatap Axel.


Yang di tatap hanya mengendikkan  bahu tanda tak tahu.


Ding dongg ...


Ding dongg ...


Lagi. Mereka mendengar bunyi bel.


"Apa itu Herry?" Tanya Axel kembali.


"Bukan. Detahuku kakak sedang ada di Amerika." "sebentar, biar aku yang memeriksanya. Kau tunggulah disini."


Lanjutnya sambil berjalan ke arah pintu.


Sedangkan Axel hanya diam menatapnya.


Axel penasaran dengan Penelop yang belum kembali.


Memangnya siapa yang datang?


Ia memutuskan untuk pergi melihatnya.


"Tapi aku bukan penguntit."


Samar-samar ia mendengar suara seorang  gadis, tapi itu bukan suara penelop.


"Cih! Kau tak usah berbohong. Lebih baik kau pergi atau aku memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu.!" Itu suara penelop.


"Dengarkan dulu." Gadis itu mencoba berbicara lagi. Tapi tunggu dulu.


Axel sepertinya pernah mendengar suara itu. Ia memutuskan untuk keluar melihatnya karena rasa pensaran.


"PERGI!!" Suara penelop lebih keras dari sebelumnya.


"Hei ada apa ini?" Tanyanya yang penasaran dengan apa yang membuat asistennya berteriak marah


Tubuhnya menegang seketika saat melihat siapa gadis yang menjadi lawan bicara penelop.


Pantas saja jika ia seperti mengenali suara itu.