Baby From Idol

Baby From Idol
Part 18 Pertanyaan Herry



HAPPY READING


Jessi gelagapan mendengar pertanyaan Karin. Bagaimana bisa karin akan ke Madrid dan bertemu dengannya, sedangkan sebenarnya ia berada di Amerika.


"Mm, itu, tempat kerjaku berada cukup jauh dari rumah bibi Helen, dan aku selalu sibuk disini. Mungkin kita tak akan punya waktu berdua. Nanti saat aku kembali ke Granada, dan kita akan menghabiskan waktu bersama."


Dan aku tak tahu kapan waktu itu


"Akhir pekan pun kau sibuk?" Tanya Karin


"Ya, itu adalah waktu paling banyak pengunjung."


"Huh, kau pasti sangat lelah. Baiklah, kita akan bertemu saat kau kembali, tapi kapan?"


"Ntahlah, aku tak tahu."


"Kau aneh. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Aku harus mengerjakan beberapa tugas lagi. Dosen itu membuat kepalaku hampir pecah."


Jessi hanya terkekeh mendengarnya.


"Baiklah, cepat kerjakan . Jia tidak, itu akan lebih menumpuk."


"Kau benar, aku tutup dulu. Sampai jumpa nanti honey." Ujar Karin dengan suara dibuat semanja mungkin.


"Ewhh, baiklah sampai jumpa."


Tut ...


Panggilan pun terputus.


°°°°°


Setelah dari apartemen Jessi, Axel segera kembali menuju penthousenya.


Ia duduk di mini barnya, sembari meminum minuman kaleng bersoda.


Ia mengingat alasannya mengunjungi wanita itu.


Hampir 3 bulan ini Axel sibuk dengan pekerjaannya, yaitu sebagai seorang Idol. Ia harus melakukan konsernya ke beberapa negara. Bahkan ia tak memiliki waktu untuk istirahat. Sesaat, ia sempat melupakan keberadaan wanita itu, jika pengingat ponselnya tidak mengingatkannya. Ya, dia memang memasang pengingat di ponselnya tiap akhir bulan, sebagai pengingat untuk dirinya agar mengirimkan uang untuk wanita itu.


Dan saat iya kembali ke New york, entah kenapa batinnya seolah menyuruhnya untuk mengunjungi wanita itu. Ia melajukan mobilnya menunu apartemennya yang di huni wanita itu.


Namun, saat ia memasuki apartemen, suasana sepi menyambutnya. Ia mencobar mencari keberadaan wanita itu, akan tetapi tak menemukannya. Berbagai pemikiran muncul di kepalanya. Apa wanita itu kabur?


Tapi ia menepis pemikiran itu. Tak mungkin wanita itu kabur, karena ia sendiri yang memohon minta tanggung jawab pada Axel.


Axel segera mengecek walk in closet miliknya, dan mendapati pakaian wanita itu ada disana. Benar dugaannya, wanita itu tak mungkin kabur.


Ia mencoba menunggu, hingga saat hari mulai gelap barulah wanita itu datang.


"Dari mana saja kau?"


Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya.


Ia mendapati jawaban tak masuk akal dari wanita itu yang mengatakan bahwa ia habis mencari udara segar.


Apa ia pikir Axel akan dengan begitu mudahnya percaya? Setelah memaksa wanita itu untuk jujur, dengan sedikit kekerasan, barulah ia tahu kalu wanita itu pergi bekerja.


Ia sempat melarang, karena takut sesuatu terjadi dengar karirnya jika wanita itu bekerja. Akan tetapi jawabannya bisa Axel pertimbangkan agar tetap mengijinkannyan bekerja.


"Aku janji, ini tidak akan berpengaruh pada karirmu. Teman- temanku di sana tahu jika aku hanya seorang janda, dan sepupuku berbaik hati meminjamkan apartemen untukku."


Begitu ucap wanita itu untuk meyakininya.


"Janda?" Tanyanya yang bingung dengan ucapan wanita itu.


"Ya, itu lebih baik dari pada harus mengatakan bahwa aku korban pemerkosaan."


Sesaat ia sempat berpikir, sebrengsek itukah dirinya.


Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tidak, itu bukan salahnya. Salah wanita itu yang datang di saat alkohol sudah menguasainya.


Lalu, ia juga teringat saat wanita itu memintanya untuk menemani saat melakukan check up kehamilan. Awalnya ia menolak untuk melakukannya. Namun entah kenapa, saat Wanita itu mulai menyebut pria yang bernama El, ia seakan tak suka.


Hingga akhirnya dia menyetujui permintaan wanita itu, dan disitulah tadi dia berada. Di Rumah Sakit tempat melakukan Check up. Ia melihat titik kecil di layar monitor, serta mendengarkan suara yang katanya adalah detak jantung si bayi. Perasaan aneh mulai datang menyerbu hatinya.


Tapi ia tak tau itu apa. Kemudian ia tersadar agar tak boleh luluh, hanya karena mendengar detak jantun bayi itu. Bayi yang bisa saja merusak karirnya.


Axel mendengus mengingat itu semua.


Tingg nong ...


Tingg nong ...


Axel segera menuju ke pintu. Ia melihat dari layar monitor, siapa yang mengunjunginya. Ternyata Herry.


Ia membukakan pintu untuk menejernya itu.


"Hai Ax, apa kabar?" Ujar Herry saat memasuki penthouse artisnya itu.


"Kita baru saja bertemu dua hari yang lalu" Jawab Axel.


Herry menghela nafas. Ia sudah terbiasa dengan sikap Axel yang terkesan dingin, tak mau berbasa-basi, di bandingkan dengan sikap Axel yang saat berada di depan penggemarnya, hangat dan penuh senyum.


"Ada apa kau kemari? Bukankah kau bisa mengatakannnya lewat telepon jika ingin datang?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Ax," Ujar Herry menatap netra Ocean Blue milik pria di depannya ini.


"Apa tentang pekerjaan?" Tanya Axel.


"Bukan."


"Lalu apa? Katakan." Ujar Axel seolah tak berminat dengan hal yang ingin di tanyakan Herry padanya, saat mengetahui hal itu bukan mengenai pekerjaan.


"Sedang apa kau di Rumah sakit tadi Ax?"


Uhukk ... uhukk ...


Axel tersedak mendengar pertanyaan Herry. Apa pria itu melihatnya tadi? Herry tak boleh mengetahui semua ini. Cukup ini menjadi urusannya bersama wanit itu, sampai semuanya berakhir dan kembali seperti semula lagi.


"Apa yang kau bicarakan Herr?" Tanyanya mencoba setenang mungkin.


"Aku sedang membicarakanmu Ax, apa benar itu kau?"


"Tck, tentu saja bukan. Kau pasti salah liat. Aku berada di penthouseku seharian ini."


"Ya, awalnya aku berpikir mungkin salah liat. Tapi saat aku melihat bajumu ini, kali ini aku yakin jika yang tadi bukan salah liat." Ujar Herry dengan memperhatikan baju yang di kenakakannya.


sial! Aku lupa untuk mengganti baju ini.


"Dan pria itu juga menggunakan topi, masker, serta kaca mata untuk menutup diri. Aku semakin yakin jika itu kau Ax." Lanjut Herry.


Axel semakin bungkam di buatnya. Ia bingung harus mengatkan apa.


Sedangkan Herry yang melihat diamnya Axel, semakin yakin jika pria itu menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ya itu aku," Ujar Axel


"Tapi aku ke sana untuk menemani temanku yang sedang sakit."


"Temanmu mana yang sedang sakit Ax? Dan apa sakitnya hingga kau mengantri di ruangan pemeriksaan kandungan?" Axel semakin piasa dibuatnya.


"Te-temanku,"


"Dan satu lagi. Apa teman yang kau maksud adalah gadis yang kau bawa dari Madrid beberapa bulan lalu, yang kalau tak salah itu adalah pembantumu?"


Axel tak tau harus mengatakan apa. Ia tak menyangka jika manajernya ini akan melihatnya di sana. Jika ia tahu ini akan terjadi, ia lebih memilih untuk mengabaikan permintaan wanita itu.


****! Ini semua gara-gara wanita itu dan bayinya. Benar-benar menyusahkan


"Ax? Kenapa kau tak menjawabnya? Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"


Tanya Herry saat melihat Axel yang hanya diam, tanpa mau menjawab pertanyaan darinya.