
HAPPY READING
"Ouhh astaga Jessi,, dari mana saja kau semalam? kami sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Karin yang terkejut melihat kedatangan Jessi.
Jessi memang sudah kembali ke rumah Bibi Helen. Ia berfikir Karin dan bibinya pasti sangat mengkhawatirkannya yang tak pulang-pulang sejak semalam.
Ia juga sudah menyiapkan alasan, Jika nanti mereka bertanya kenapa ia tak pulang semalam.
Dirinya sedang mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi padanya. Karena mau menyesal pun tak ada gunanya bukan? Semua sudah terjadi.
"Hei Jessi! Aku bertanya padamu, kau dari mana saja? Kami sangat khawatir memikirkanmu." Tanya Karin lagi melihat Jessi yang hanya melamun.
"Karin benar Jess. Kenapa kau tak kembali semalam? kami sangat khawatir padamu."
Ujar Bibi helen yang ikut mengkhawatirkannya.
Jessi merasa bersalah pada keduanya.
"Maafkan aku. Semalam saat habis mengantarkan pesanan, kepalaku terasa pusing dan aku pingsan. Aku terbangun di sebuah klinik. Seseorang yang menolongku mengatakan ia menemukanku dalam keadaan pingsan dan membawaku ke klinik. Katanya aku mungkin kelelahan hingga jatuh pingsan. Ia menyuruhku untuk menginap semalam dan pulang saat sudah pagi saja agar nanti sudah lebih baik."
semoga Bibi dan Karin percaya.
"Astaga Jessi, maafkan Bibi. Kau pasti pingsan karena terlalu lelah membantu mengantarkan pesanan." Kata Bibi Helen penuh penyesalan.
Jessi pun tak kalah menyesal dengan kebohongan yang dibuatnya. Namun tak mungkin bukan, jika ia mengatakan yang sebenarnya.
"Maafkan aku juga Jessi, seharusnya jika kau lelah kau bisa mengatakannya padaku. Tak apa jika aku harus mengantarkan semua pesanan itu." Karin percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya itu. Ia merasa bersalah pada Jessi
"Hei tak apa Karin."
"Seharusnya Aku yang minta maaf karna tidak menghubungi kalian. Aku lupa membawa ponselku. Dan tak perlu merasa bersalah, ini hanya kejadian kecil. Lagi pula aku sudah baik-baik saja bukan?" Jessi mencoba tersenyum seolah ia benar-benar baik-baik saja sesuai perkataannya.
"Benarkah kau baik-baik saja sekarang? Jika kau masih merasa kurang enak badan, kau bisa kembali istirahat. Yang penting sekarang kau sudah kembali dengan selamat."
"Tak apa Bibi, aku sudah merasa baik. Sekali lagi maafkan aku." Yang sudah berbohong. Lanjutnya dalam hati.
"Kau tak perlu meminta maaf Jess,"
"Ya, Bibi benar."
Jessi hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hati, ia berujar permintaan Maaf berkali-kali karena sudah berbohong.
"Oh iya, kita akan kembali hari ini Jess. Kebetulan Ayahku sedang ada urusan di Madrid, dan akan pulang hari ini. Aku memintanya untuk menjemput kita di rumah Bibi. Jadi kita bisa pulang bersamaan."
"Benarkah?" Tanyanya memastikan.
"Tentu saja. Aku sudah membereskan barang-barangku sejak semalam. Kau saja yang belum."
"Hmm baiklah aku akan memberesaknnya. Kapan kita akan berangkat?"
"Siang nanti mungkin"
"Yasudah, kalau begitu aku mau membereskan dulu barang-barangku.
Aku permisi sebentar Bibi, Karin."
Ujarnya meninggalkan bibi dan keponakan itu.
"Jika kau masih merasa pusing, istirahat saja dulu Jess." Kata bibi membuatnya berbalik. Bibi Helen memang masih khawatir dengan keadaan Jessi, apalagi wajahnya yang terlihat pucat.
"Bibi benar, kau istirahat saja. Biar aku yang membereskannya untukmu." Kata karin.
"Tak apa Bi, aku akan membereskan dulu barang-barangku lalu istirahat." Jawabnya.
"Baiklah jika itu maumu."
Jessi segera ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.
Saat sedang membereskan barang-barangnya, ia teringat akan perkataaan Axel pagi tadi.
Flashback
"Lupakan kejadian semalam".
Jessi yang baru saja keluar kamar dari mandi terkejut mendengarkan ucapan Axel.
Sejak kapan pria itu bangun? Bukankah tadi masih tidur?
Tapi bukan itu yang menjadi pertanyaan utamanya. Melainkan
apa maksud dari perkataan Axel padanya.
Ia memasang wajah bingungnya menanggapi perkataan Axel barusan
"Lupakan kejadian semalam. Itu hanya keselahan. Lagi pula aku melakukannya dalam keadaan tak sadar." Ucap Axel kembali seakan mengerti raut kebingungan dari Jessi.
Jessi tak menyangka dengan perkataan Axel barusan.
"Semudah itu kau mengatakan untuk melupakan kejadian semalam? Tidakkah kau berpikir apa yang sudah kau lakukan? Kau telah mengambil kehormatanku yang sudah ku jaga selama sembilan belas tahun untuk suamiku kelak dan kau segampang itu mengambilnya dariku lalu mengatakan untuk melupakannya? Dasar pria br*ngs*k!!" Ingin rasanya Jessi mengatakan itu pada pria di hadapannya ini. Akan tetapi semua kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya.
Ia masih terlalu syok dengan perkataan Axel.
Ia masih diam dengan raut wajah datarnya memandang Axel, menunnggu ucapan selanjutnya dari pria brengsek itu.
Axel yang menatap keterdiaman wanita di depannya itu kembali melanjutkan perkataanya.
"Katakan saja nominalnya. Aku akan memberikannya padamu sebagai permintaan maaf atas kejadian semalam dan kita bisa melupakannya lalu melanjutkan hidup kita seperti sebelumnya." Ujar Axel memberi penjelasan sambil memberikan selembar cek pada Jessi.
PLAKK!!
Ia tak menyangka pria yang di idolakannya bisa sebr*ngs*k itu.
"Apa kau pikir aku adalah seorang jal*ng yang bisa kau bayar setelah kau gunakan?" Ia berusaha menahan air matanya.
"Lalu apa maumu?" Tanya Axel.
Jessi hanya diam
"Ah, aku tahu. Kau pasti berpura-pura untuk menolak cek ini bukan? Kau tentu tau siapa aku bukan? Kau pasti akan menggunakan itu untuk menguras hartaku."
Ucapn Axel menohok.
"Apakah aku terlihat seperti itu?"
"Aku tidak mengenalmu. Bisa jadi kau wanita seperti itu."
"Kau memang brengsek Axel. Aku menyesal sudah menjadi salah satu pengagummu."
Setelah mengucapkan itu, Jessi pergi meninggalkan Axel. Ia tak sanggup lagi mendengar perkataan Axel yang menohok hatinya.
Disini dialah yang paling dirugikan tapi kenapa pria itu bersikap seolah-olah dirinya adalah yang paling dirugikan oleh Jessi.
Sedangkan Axel? Pria itu hanya diam menatap kepergian Jessi.
Flashback end
°°°°°
Saat ini Axel sedang termenung di dalam kamarnya. Kamar yang sama di mana ia melakukan perbuatan bejatnya pada Jessi.
Ia sedang memikirkan seorang gadis yang kini sudah menjadi wanita akibat ulahnya.
Tidak.
Ia memikirkan wanita itu bukan karena khawatir dengan keadannya atau apa melainkan Axel memikirkan wanita itu karena takut jika nanti wanita itu akan merusak karirnya.
Sudah cukup ayahnya yang menjadi ancaman baginya. Ia tidak mau menambah masalah lain yang membuat karirnya terancam.
Ia lupa untuk meminta kepada wanita tadi agar tidak menyebarkan masalah mereka ke media. Bahkan ia lupa untuk bertanya siapa nama wanita itu, karna sudah terlebih dahulu pergi.
"Hai Ax, apa yang terjadi denganmu?"
Tanya Penelop saat melihat kondisi kamar Axel yang memang masih berantakkan.
Axel memang sengaja memanggil Penelop untuk membereskan kekacauan ini.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan ayahmu?" Tanya penelop lagi setelah sebelumnya tak mendapat jawaban dari Axel.
"Diamlah Penelop. Jangan memancing amarahku dengan menyebut si tua bangka itu."
Mendengar ucapan Axel barusan, penelop menyimpulkan bahwa ayah Axel penyebab kekacauan ini.
Bukan rahasia lagi bagi Herry dan Penelop jika Mark, sering menghubungi putranya itu.
Dan saat Mark sudah menghubungi Axel, maka pembahasannya tidak jauh-jauh dari masalah pewaris perusahaan dan karir Axel.
Dan ujung-ujungnya yang terjadi adalah Axel marah pada Mark dan melampiaskannya pada minuman beralkohol.
Huh,, Penelop sudah sangat hafal kelakuan Axel yang satu ini.
Saat akan membereskan tempat tidur, Penelop melihat ada sebercak darah di kasur yang dilapisi seprai putih itu.
Rasa penasaran menghinggap di kepalanya hingga ia memutuskan untuk bertanya.
"Ax,, ada darah di tempat tidurmu. Apa kau terluka?"
Sedangkan Axel yang di tanya seperti itu langsung gugup. Ia lupa jika ada darah di spreinya itu karena baru memerawani seorang gadis. Ia tak mau orang lain mengetahui hal bejat yang sudah di lakuakannya, selain dirinya dan perempuan itu.
"Oh itu,, tanganku terluka akibat pecahan botol itu." Tunjuknya ke arah botol minuman yang memang ada beberapa yang sudah pecah.
Ia mencoba untuk terlihat santai agar penelop bisa percaya.
"Kau yakin?.
"Ya tentu saja."
"Apa kau sudah mengobatinya?"
"Kenapa kau banyak sekali bertanya penelop? Kerjakan saja tugasmu. Kau sudah seperti Herry saja." Ujar Axel yang mulai kesal dengan penelop.
Terkadang penelop memang akan sangat cerewet seperti Herry, dan Axel tidak menyukai itu.
Huh, dasar kakak beradik Sama saja!
Penelop hanya terdiam dengan jawaban Axel. Ia melihat tangan Axel yang terlihat normal, tanpa ada perban atau lainnya yang menunjukkan jika pria itu benar-benar terluka.
Ia juga tak bodoh dengan percaya pada Axel mengenai darah itu.
Ia hanya mencoba menepis beberapa pemikiran yang hinggap di kepala cantiknya.
Huftt
Penelop menghela napasnya.
Semoga saja ini bukan seperti yang kupikirkan.