Baby From Idol

Baby From Idol
Part 11 Tanggung Jawab



HAPPY READING


Degg


Anak sialan?


Bukankah ucapan Axel itu terlalu kasar?


Mau bagaimanapun juga bayi ini tidak bersalah, karena ia hadir atas kesalahan orang tuanya.


"Oh baiklah. Jika kau tak mau tanggung jawab." Lirih Jessi yang masih di dengar Axel.


"Tentu saja  aku tak akan bertanggung jawab."


tak ada cara lain selain mengatakan hal ini padanya


Ujar batin Jessi.


"Menurutmu, apa reaksi publik jika tahu bahwa seorang Idol yang terkenal telah memperkosa seseorang hingga orang itu mengandung anaknga tapi ia tak mau  bertanggung jawab."


"Ah, dan ya. Bukankah Ayahmu seorang pengusaha? Bagaimana jika ia tau putranya melakukan hal seperti ini? Bukankah itu juga akan merusak reputasinya?"


Dengan keberaniannya, ia mencoba mengancam Axel. Meskipun jika nanti Axel tak terpengaruh dengan ancamannya. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa di lakukannya. Jika Axel menolak lagi untuk tanggung jawab ia tak punya pilihan lain selain menyerah.


"Kau!!"


"Sialan!! Kau pikir siapa dirimu hah?"


Mendengar ucapan Jessi yang mengancamnya, membuat Axel murka.


Apalagi Jessi membawa-bawa orang yang paling di bencinya saat ini.


Ayahnya.


"Katakan padaku! Apa sebenarnya mau mu hah?" Geram Axel.


"Bukankah sudah jelas? Aku hanya mau kau bertanggung jawab."


"Dan jika aku tak mau?"


"Maka aku akan menyebarkan kepublik berita ini."


"Arghhhh"


"Baiklah jika itu maumu! Aku akan bertanggung jawab atas bayimu itu. Tapi jangan harap aku akan mengakuinya sebagai anakku! Dan satu lagi, jangan pernah merusak reputasiku dengan anakmu itu." Tunjuknya di depan perut Jessi.


ternyata Daddymu lebih menyayangi karirnya dibanding dirimu Nak.


Tak apa jika Axel belum mau mengakuinya, yang terpenting sekarang ia mau bertanggung jawab.


Lama-kelamaan juga pasti ia akan mengakui anaknya sendiri.


"Besok kau ikut aku ke Amerika."


Ujar Axel. Ia memutuskan untuk segera kembali ke negara asalnya, walaupun sebenarnya ia masih mempunyai waktu libur 3 hari.


"Ha?" Jessi terkejut dengan ucapan Axel. Amerika? Bahkan tempat paling jauh yang ia datangi adalah Madrid.


"Kenapa? Kaget? Bukankah itu maumu agar aku bertanggung jawab?."


"T-tapi a-aku tak ingin ke Amerika. Itu sangat jauh." Cicitnya sembari menunduk.


"Lalu apa? Kau ingin aku tetap tinggal disini bersamamu? Heh! Jangan bermimpi ja*ang."


"Ikut bersamaku ke Amerika atau kutinggalkan kau di sini dan jangan pernah mencariku!" Kini berbalik Axel yang mengancam.


Apa aku harus pergi bersamanya?


"Baiklah aku ikut denganmu"


Putusnya. Ini semua dilakukannya demi bayi ini agar mendapat tanggung jawab dari sang ayah.


"Pergilah" usir Axel dengan wajah datar.


"Ehm,, Itu, tak bisakah kita pergi lusa saja? Aku ...." ia ingin masih ingin pulang ke Granada untuk berpamitan dengan keluarganya.


"Tak usah mengaturku! Jika kau tak ingin pergi tak apa. Itu lebih bagus."


"Hm,, baiklah. Aku akan esok pagi."


Mungkin aku bisa berpamitan lewat telepon.


"Jika sudah selesai silahkan pergi."


Setelah mengatakan itu, Axel berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan  Jessi yang masih diam duduk disana memikirkan sesuatu.


"Ah iya, bukankah aku tak punya paspor untuk ke luar negri?"


Ya. Dia ingat dia tak punya paspor karena tak pernah bepergian ke luar negri.


Segera Jessi melangkahkan kakinya menuju kamar yang baru di masuki Axel tadi.


Tokk,, tok,, tok,,


"Axel?" Jessi mencoba memanggilnya.


Ceklek


"Apalagi?!" Bentak Axel membuatnya terkejut.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi!"


"I-itu,, bukankah kau bilang kita akan ke Amerika?"


"Apa telingamu kurang jelas hingga masih harus bertanya lagi?"


"Bukan itu,, tapi aku, aku tak punya paspor karena tak pernah ke luar negri sebelumnya." Ucapnya menunduk


"Dasar merepotkan! Pergilah. Aku akan menyuruh orangku untuk mengurus itu."


J*l*ang yang merepotkan! Sama seperti anaknya


"Benarkah?" Tanya Jessi memastikan.


Brakkk!


Namun bukan jawaban yang ia dapat melainkan suara keras dari pintu kamar yang di tutup dengan kasar.


"Tak apa. Aku percaya padanya."


Setelah mengatkan itu, Jessi kembali pulang ke penginapannya.


"Mau kemana kau?" Tanya penelop.


"Tentu saja mau pulang Nona."


"Apa yang sudah kau lakukan pada Axel? Mengapa kalian lama sekali berbincangnya?" Selidik Penelop dengan rasa penasaran. Ia sudah menunggu sedari tadi di depan pintu kamar Axel tapi tak ada tanda-tanda mereka akan keluar.


"Bukan urusanmu Nona." Jessi hendak melanjutkan kembali jalannya, tapi panggilan dari Penelop membuatnya berhenti.


"Hei tunggu!"


"Apa  lagi?" Tanya Jessi tanpa membalikkan badannya.


"Awas saja jika sesuatu terjadi pada  Axel. Aku takkan membiarkanmu hidup dengan tenang."


Jessi memutarkan bola matanya dengan malas, mendengar tuduhan Penelop.


"Silahkan anda cek sendiri keadannya Nona." Ia membalikan  badannya dan mengatakan itu pada Penelop


"Siapa namamu? Katakan agar aku bisa mencarimu jika sesuatu terjadi padanya nanti."


oh, ayolah itu sangat berlebihan.


"Jesseliyn Carrola."


"Bagaimana aku bisa percaya?"


Tanya Penelop .


"Lihatlah ini." Jessi mengambil kartu tanda pengenalnya dan memperlihatkannya pada Penelop yang menjengkelkan itu menurutnya.


"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang."


Hei! Aku memang akan pergi dari tadi! Kau saja yang terus menahanku.


Ujar batinnya lalu segera pergi meinggalkan Penelop.


°°°°°


Tok,, tok,, tok,,


Suara  ketukan pintu di kamar Axel


Apa ja*ang itu belum pergi juga?


Tok,, tok,, tok,,


"****!"


Ia segera berjalan untuk membuka pintu kamar.


"APA KAU TAK MENGERTI AKU SUDAH MENYURUHMU UNTUK PERGI!!"


Ujar Axel berteriak membuat orang yang mengetuk pintu terkejut mendengarnya.


"Ax, ini aku."


"Ah kau Penelop. kukira orang lain." Ujarnya setelah mengetahui siapa yang mengetuk pintu.


"Ada apa Ax? Apa gadis tadi melakukan sesuatu padamu?"


gadis? Huh!


"Tidak ada apa-apa Penelop"


"Ax? Jangan berbohong. Kalian sangat lama di dalam dan pasti terjadi sesuatu." ujar Penelop yang curiga


"Ku bilang tidak ya tidak Penelop. Jangan ikut campur urusanku."


Ini  adalah satu yang tak Axel sukai dari Penelop. Yaitu sikap rasa ingin tahunya yang berlebihan walaupun Axel tau itu adalah bentuk dari perhatian Penelop padanya sebagai seorang asisten pada tuannya. Tapi Axel kadang tak menyukainya karena ia juga butuh privasi.


"Baiklah jika kau memang tak apa-apa."


"Penelop."


"Ya?"


"Urus kepulanganku ke Amerika esok."


"Ha? Bukankah masih ada 3 hari lagi Ax?"


"Aku ingin segera pulang."


"Baiklah akan kuurus." Penelop mengiyakan permintaan Axel. Mau bagaimana lagi? Ini adalah tugasnya sebagai seorang asisten.


"Dan buat tambahan paspor juga"


"Untuk siapa Ax? Bukankah paspormu masih berlaku?" Tanyanya heran dengan Axel.


"Bukan untukku tapi untuk ...."


"Ah ****, aku lupa bertanya siapa namanya."


"Siapa yang kau maksud Ax? Apa gadis tadi?" Jessi makin penasaran.


"Hm" gumamnya


"Jesselyn Carrola. Itu namanya"


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Axel memicingkan mata.


"Tentu saja aku tahu karna aku bertanya padanya. Hanya sekedar berjaga-jaga jika dia melakukan sesuatu padamu"


"Sudahlah aku tak peduli namanya. Buatkan saja paspor untuknya."


"Tapi kenapa Ax? Aku juga tak tau data tentangnya selain namanya itu."


"Lakukan saja Penelop, jangan banyak bertanya. Kau bisa memanipulasinya."


"Tapi Ax-"


"Apa sangat sulit bagimu untuk melakukannya saja sesuai perintah tanpa harus banyak bertanya?"


Tanya Axel mulai kesal.


Penelop yang melihat kemarahan Axel, langsung terdiam.


"Baiklah aku akan melakukankannya sesuai keinginanmu."


Setelah mengatakan itu, Penelop meninggalkan Axel dengan banyak pertanyaan di kepalanya mengenai gadis itu.