
HAPPY READING
Hampir 5 menit berlalu dan Axel masih setia menatap Jessi yang tengah terlelap. Entah apa yang sedang ada dipikirannya sekarang.
Jessi menggeliat dari tidurnya. Ia merasa seperti sedang di perhatikan. Perlahan-lahan, ia mencoba membuka matanya, dan seketika terkesiap kala mendapati Axel yang sedang berdiri di samping ranjang menatapnya.
"Kau?" Tanya Jessi mencoba memastikan apa yang ia lihat bukan halusinasi.
Axel tersadar dari kegiatannya menatap Jessi.
"Ya, aku. Cepat bangun, ada yang ingin kubahas denganmu." Setelah mengucapkan itu, ia segera berlalu keluar meninggalkan Jessi yang masih setengah sadar di kamar.
Jessi mencoba mengumpulkan kesadarannya, ia memandang ke arah jendela besar di kamar, yang ternyata sudah tak ada cahaya matahari, melainkan tergantikan dengan kemerlap lampu-lampu dari gedung lain.
Selama itukah dia tertidur?
Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Ia tengah memikirkan sesuatu di kepalanya. Apakah Axel tadi memperhatikannya yang sedang tidur?
Ughh, pipinya merona memikirkan hal itu. Namun, sedetik kemudian ia menepis pemikirannya itu. Tak mungkin jika Axel memperhatikannya, karena kini pria itu begitu membencinya.
Selesai dari kamar mandi, Jessi segera keluar kamar dan menghampiri Axel yang tengah duduk di sofa depan televisi, tanpa menyalakannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Jessi mengambil tempat untuk duduk di sofa yang satunya lagi.
Axel memberikan sebuah map pada Jessi. "Bacalah." Pintanya.
Map itu berisi perjanjian yang sudah ia katakan sebelumnya siang tadi pada Jessi. Ia membuat itu sebelum pergi bertemu dengan Herry.
Jessi mengambil map itu dan membacanya dengan saksama. Ia mengernyitkan dahinya saat membaca poin-poin yang di tulis Axel didalamnya.
Di situ tertulis jika Axel hanya akan bertanggung jawab padanya sampai melahirkan, lalu setelahnya Jessi harus pergi meninggalkan Axel, lalu melanjutkan hidup masing-masing seperti sebelumnya.
Di situ juga tertulis jika Axel akan memenuhi semua kebutuhan Jessi selama mengandung dan melahirkan nanti. Bayinya juga akan menjadi milik Jessi.
Dan satu lagi. Di situ tertulis jika ia tak boleh mencampuri urusan Axel, begitu pula sebaliknya. Mereka hanya akan hidup seperti orang asing yang tak saling mengenal, dan tak ada yang boleh tahu mengenai hubungan keduanya.
Jessi yang membacanya menatap heran ke arah Axel.
"Apa maksudmu hanya akan bertanggung jawab sampai melahirkan?"
"Apa kurang jelas? Aku hanya akan bertanggung jawab membiayaimu sampai kau melahirkan, lalu setelahnya kita tak memiliki hubungan lagi. Kau bebas untuk pergi kemanapun kau mau bersama anak itu." Ujar Axel menjelaskan pada Jessi.
"Tapi ...." bukan bertanggung jawab seperti itu yang Jessi maksud.
"Tapi apa? Apa kau ingin aku bertanggung jawab padamu dengan menikahimu?" Jawab Axel sinis, seolah mengetahui maksud Jessi.
"Bagaimana bisa kau tega melakukan itu? Apa kau tak berpikir bagaimana nantinya anak ini hidup tanpa figur seorang Ayah?" Jessi mengusap-usap perutnya.
"Aku tak peduli dengan anak itu. Bersyukurlah karena aku berbaik hati mau bertanggung jawab."
Jessi hanya menunduk menyembunyikan kesedihannya. Ia tak sanggup jika harus membayangkan anaknya nanti yang akan kekurangan atau bahkan tak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan dari Ayahnya sendiri.
"Silahkan tanda tangan jika sudah selesai membacanya." Ujar Axel dan Jessi melakukannya sesuai perintah. Dengan berat hati, ia menandatangani map yang berisi perjanjian antara dirinya dan Axel itu.
Axel mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya.
"Gunakan itu untuk keperluanmu."
Axel menyodorkan kartu kredit itu untuk Jessi.
"Aku akan mentransfer uang di kartu itu setiap bulannya, dan itu pasti cukup untuk kebutuhanmu."
Jessi hanya menatap diam Axel, sambil memegang kartu yang di berikannya.
Keheningan kembali melanda mereka berdua.
Selang 5 menit kemudian, Axel melirik ke arah jam tangan Rolex yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Rupanya, jarum jam kecil itu berada di angka sembilan, sedangkan yang panjangnya berada di angka satu.
Axel memutuskan untuk kembali ke penthouse miliknya yang memang menjadi tempat tinggalnya.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan kearah pintu keluar.
Tangannya terhenti di udara sebelum memegang gagang pintu, untuk membukanya.
Ia membalikkan lagi badannya menatap ke arah Jessi yang masih duduk diam seperti sebelumnya.
Setelah mengatakan itu, Axel pergi berlalu dari pandangan Jessi.
Jessi diam tak bergeming setelah mendengar perkataan Axel.
Apa maksudnya tak akan kembali?
Sudahlah, Jessi tak mau memikirkan semua ini. Ia harus menjalani hidupnya sebaik mungkin demi anaknya. Ia yakin suatu saat nanti Axel akan luluh pada anaknya sendiri.
Krukk
"Ah ya, aku lapar sekali." Jessi teringat jika seharian ini ia belum sempat makan, terkecuali saat pagi tadi sebelum berangkat, ia sempat memakan sepotong roti, dan itu pun ia makan di dalam taksi saat menuju ke hotel tempat Axel berada.
"Maafkan Mommymu ini yang lupa memberimu makan."
Jessi berjalan ke arah dapur, dan melihat apa ada makanan di lemari pendingin. Namun bukan makanan yang ia dapati, melainkan banyak minuman kaleng di dalamnya.
"Tck, apa Daddymu tak mempunyai bahan makanan disini?" Ia berbicara seakan anak dalam kandungannya bisa mendengarkannya.
Jessi sempat tersenyum saat menyadari mulutnya memanggil Axel dengan kata 'Daddy'.
Jessi memutuskan untuk mencari makanan di luar saja, yang tak jauh dari apartemen. Ia masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang miliknya.
Ia sudah memutuskan. Kartu kredit yang di berikan Axel padanya akan ia gunakan untuk keperluan bayinya. Sedangkan untuk keperluannya sendiri, mungkin ia akan mencoba mencari pekerjaan.
°°°°°
Tiga bulan berlalu, kini usia kandungan Jessi sudah hampir memasuki bulan keempat. Dan selama itu pula, Axel belum menampakkan batang hidungnya. Ternyata ucapan Axel waktu itu memang benar, bahwa ia tak akan mengunjungi Jessi.
Axel seakan hilang kabar, dan Jessi tak tau di mana pria itu berada. Ia hanya sesekali melihat berita di ponselnya tentang Axel yang mengadakan konser.
Sesuai dengan ucapannya waktu itu, Axel rutin mengirim uang tiap bulan ke kartu kredit yang di berikannya pada Jessi.
"Jess, ini sudah hampir malam, sebaiknya kau pulang bersamaku saja."
Ujar El, salah satu teman di cafe tempat ia bekerja.
Saat ini Jessi memang bekerja di salah satu cafe, yang tak jauh dari apartemen yang ia tinggali.
Ia membutuhkan uang untuk tabungannya, dan sebagian lagi ia kirimkan ke keluarganya.
Uang yang biasa di kirim Axel hanya ia pakai untuk membeli susu ibu hamil, mengisi bahan makanan di rumah, dan untuk check up kehamilan. Selebihnya ia tak berani menggunakan uang itu untuk keperluan pribadinya.
"Mm, baiklah, ayo." Jessi menerima ajakan El.
Jarak antara apartemen dan cafe tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 20 menit jika berjalan kaki, dan 5 menit jika menggunakan kendaraan.
"Apa perlu kuantar sampai ke dalam?"
El menawarinya.
"Terima kasih atas tumpangannya, tapi kau tak perlu mengantar sampai dalam."
"Ah, baiklah. Padahal aki ingin mampir." Ujarnya dengan wajah kecewa yang dibuatnya, dan hal itu berhasil membuat Jessi terkekeh.
"Pulanglah El, kau pasti lelah karena hari ini kita lembur. Aku pun begitu."
"Baiklah. Hei Baby, uncle pulang dulu ya. Jess, aku pergi, sampai jumpa nanti." Setelah berpamitan dengan Jessi dan bayi di dalam kandungannya, El segera membawa sepeda motornya melaju meninggalkan gedung apartemen.
Sedangkan Jessi berjalan masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah yang bahagia. Ia bersyukur karena teman-teman di cafe ia bekerja bisa menerima dirinya dan bayinya.
Yang mereka tahu, Jessi adalah seorang janda yang ditinggalkan oleh suaminya, dan sepupunya berbaik hati meminjamkan apartemen untuk ia tempati.
Jessi sampai di depan pintu apartemen. Axel tak memberitahunya password apartemen, melainkan hanya memberinya keycard apartemen.
Cklek
Ia membuka pintu apartemen. Suasana gelap menyambutnya.
Jessi segera mencari saklar lampu, dan menyalakannya.
Klikk
"Dari mana saja kau?"