Baby From Idol

Baby From Idol
Part 10 Anak Sialan?



HAPPY READING


Mata Jessi membulat melihat seseorang yang kini sudah ada di hadapannya. Orang tersebut pun tak kalah terkejut melihat kehadiran Jessi secara tiba-tiba di kamar hotelnya.


Antara perasaan gugup dan bahagia bercampur aduk menjadi satu kala Jessi menemukan seseorang yang sedang di carinya. Ternyata usahanya untuk mencoba mencari kembali di tempat ini berhasil.


"Penelop, ada apa ini?." 


Oh, jadi namanya Penelop.


"Tak ada apa-apa Ax, hanya ada pengganggu kecil."


Tunggu dulu.


Jika Axel masih berada disini, lalu siapa gadis ini?


Apa dia pacar Axel? Teman kencan?  Tapi Jessi tak pernah melihat berita mengenai hubungan Axel dengan gadis di depannya ini, terkecuali hubungan kedekatan Axel dengan salah seorang model papan atas yang berasal dari agensi yang sama dengannya.


Dan apa tadi katanya?


pengganggu?


Apa aku kedatanganku mengganggu kencan mereka*?.


"Aku datang untuk mencarinya."Ujar Jessi sambil mengarahkan tatapannya ke arah Axel.


"Kau mencari Axel?! Sudah kuduga kau adalah seorang penguntit. Cepat pergi dari sini sebelum aku berbuat kasar untuk mengusirmu."


"Sudahku bilang aku bukan penguntit!!" Belanya pada diri sendiri.


"Aku datang untuk menemui Axel." Ujar Jessi mengungkapkan alasan ia datang kemari.


Sedangkan orang yang dimaksud?


Ia hanya terdiam di depan pintu menatap Jessi. Axel masih tak menyangka jika Jessi akan kembali.


"Memangnya kau ada urusan apa hingga harus bertemu dengan Axel?"


"A-aku ...."


Axel  memicingkan mata melihat Jessi yang ingin mengatakan sesuatu. Pasti Jessi ingin mengatakan tentang  'sesuatu' yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu.


"Masuklah." Perkataan Axel membuat penelop terkejut.


Bagaimana bisa dia menyuruh orang asing masuk?


Kurang lebih begitu yang ada dipikiran penelop.


"Ax? Apa kau tak salah?" Tanya penelop memastikan.


"Kenapa?" Tanya Axel balik.


"Dia orang asing Ax, bagaimana jika ternyata dia seorang penguntit, atau orang yang ingin membahayakanmu." Ucap Penelop sembari menatap Jessi penuh penilaian.


Sedangkan yang ditatap seperti itu, hanya memutarkan bola matanya dengan malas.


"Buang jauh-jauh pemikiran burukmu itu untukku Nona. Aku datang kesini untuk berbicara dengan Axel bukan denganmu."


Setelah mengatkan itu, Jessi masuk kedalam sesuai perintah Axel dan melewati Penelop yang berdiri di depan pintu.


"Kau!!" Penelop menggeram kesal.


"Sudahlah penelop. Dan kau ayo kita bicara di dalam." Ujar Axel menunjjuk ke arah Jessi.


"Duduklah. Apa yang ini kau bicarakan?" Tanya Axel to the point.


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."  Jessi meremas ujung kameja yang digunakannya.


"Apa?"


"Mengenai kej-"


"Penelop." Potong Axel.


Yang di panggil pun menoleh dengan malas.


"Keluarlah."  Seolah sangat tau apa yang akan di bicarakan oleh wanita di depannya, Axel menyuruh Penelop untuk keluar.


"What? Apa kau tak salah Ax? Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendiri dengan orang ini. Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?"


"Tak usah khawatir. Dia tak akan melakukan itu. Jika ia berani melakukannya kupastikan ia akan mendapat balasannya." Axel mengatakan itu seolah mengerti dengan kekhawatiran asistennya yang sudah di anggapnya sahabat itu.


"Tapi Ax,,"


"Pergilah Penelop. Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu."


"Erghh,, baiklah. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu." Sesaat sebelum meninggalkan ruangan, penelop memberikan tatapan sinisnya pada Jessi yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara dua orang di depannya.


Memangnya aku akan berbuat apa? Hingga harus di waspadai seperti itu.


Kini tinggalah Axel dan Jessi.


"Lanjutkan."


"Ha? Apa?" Jessi bingung dengan apa yang dimaksud Axel dengan 'lanjutkan'


"Lanjutkan ucapanmu sebelumnya."


Datar sekali.


"I-itu ...."


kenapa jadi gugup seperti ini?


"Katakan! Jangan bertele-tele." Masih dengan tatapan datarnya, Axel meraih gelas berisi cairan berwarna putih yang sebelumnya memang ia minum sebelum kedatangan wanita di depannya ini.


"A-aku ingin membicarakan m-mengenai hal beb-beberapa waktu lalu."


"Bukankah itu hanya 'kesalahan'  yang tak di sengaja?" Axel mencoba berbicara setenang mungkin meskipun kini ia pun khawatir dengan apa yang akan di bahas wanita ini. Bisa saja ini sesuatu yang akan mengganggu karirnya nanti.


Sedangkan Jessi?


Ia masih diam. Bagaimana bisa Axel dengan gampangnya mengatakan itu hanya kesalahan yang tak di sengaja, sementara di sini, diperutnya, sudah ada hasil dari 'kesalahan' yang tak di sengaja mereka itu.


Jessi terkejut dengan perkataan Axel barusan.


"Berapa yang kau butuhkan?" Tanya Axel kembali.


Jessi tengah membendung air matanya yang mungkin akan jatuh dalam satu kedipan.


Ia menjadi terlalu takut untuk mengungkapkannya.


"Berbicaralah! Jangan membuang-buang waktuku." Axel mulai kesal dengan wanita di depannya yang tak kunjung berbicara


"Aku hamil." ujar Jessi dengan satu tarikan nafas, sembari menutup matanya tak ingin melihat reaksi ayah dari janin di kandungannya


Tak ada jawaban dari pria di depannya. Jessi mencoba membuka matanya perlahan-lahan.


Ia melihat Axel hanya terdiam menatap gelas yang sedang di genggamnya.


Ia akan mencoba mengatakannya lagi. Mungkin tadi Axel tal sempat mendengar perkataannya dengan jelas, karena ia terlalu cepat mengataknnya.


"Aku sedang hamil, hasil dari 'kesalahan' yang tak kau sengajai."


"Gugurkan."


Degg


Perkataan Axel barusan begitu mengejutkan untuknya.


Semudah itu pria brengsek di hadapannya mengucapkannya.


"Gugurkan." Ucap Axel sekali lagi


Tes


Satu tetes airmata berhasil lolos di pipinya .


"Kenapa?" Tanyanya mencoba menahan tangis meskipun air mata sudah mengalir keluar di pipinya


"Kau bertanya kenapa? Sudah jelas karena aku tak menginginkannya."


"Dan apa kau yakin itu anakku? Bisa saja itu anak oran lain dan kau memanfaatkanku untuk meminta tanggung jawab."


Plak!!


Itu tamparan yang kedua kalinya dari Jessi.


"Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu sementara aku hanya melakukannya denganmu, karena kau yang sedang mabuk. Dan satu hal lagi, kau bukan hanya melakukannya sekali tapi berkali-kali"


Kali ini Jessi tak bisa menahan lagi tangisnya. Perasaannya terlalu sensitif sekarang apalagi saat mendengar tuduhan Axel barusan.


"Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Uang? Berapa jumlahnya? Katakan."


Jessi hanya diam menangis.


Ia tak menyangka Axel akan memandangnya serendah ini.


Apa dia terlihat seperti wanita murahan yang ingin meminta uang banyak dengan mengandalkan kehamilannya?


"Cepat katakan berapa yang kau mau j*l*ng." Ucapan kasar Axel barusan berhasil menyakitinya.


"Hikss,, hikss,, a-aku tak m-mengininkan uangmu."


"Lalu apa yang wanita sepertimu inginkan kalau bukan uang?"


"A-aku hiks,, i-ingin kau b-bertanggung hiks,, jawab."


Prang!!


Axel melemparkan gelas yang di genggamnya.


"Katakan sekali lagi j*l*ng." ujarnya dengan amarah sembari mencengkram rahang Jessi.


Jessi meringis kesakitan dengan tindakan Axel padanya.


"KATAKAN!!" teriak Axel membuat Jessi ketakutan dibawah cengkramannya. Jessi tak menyangka akan jadi seperti ini.


"Aku hanya ingin kau bertangung jawab hiks,,"


"Hahaha,," Axel menertawakan ucapan Jessi barusan, seolah itu hanya sekedar lelucon baginya.


"Apa kau pikir aku akan bertanggung jawab? Sedangkan aku sendiri tak yakin dengan anak itu." Lanjutnya melepaskan cengkramannya.


"Dengar baik-baik ja*ang"


"Aku. Tidak. Akan. Bertanggung jawab." Ujarnya penuh penekanan di setiap kata.


"Pergilah! Aku akan membermu uang. Anggaplah itu bayaran untuk tubuhmu beberapa waktu lalu."


Axel meninggalkan Jessi. Ia pergi masuk kedalam kamarnya.


Jessi hanya menangis melihat Axel pergi meninggalkannya sendirian di ruangan ini.


Tak lama kemudian, Axel kembali keluar dari kamar, dengan selembar kertas di tangannya.


"Isi saja nominalnya." Katanya sembari memberikan cek kosong pada Jessi.


Jessi hanya diam menatapnya. Tanpa mau menyentuh cek itu.


"Aku tak mau."


"Kau harus bertanggung jawab! Mau bagaimanapun juga, ini juga adalah darah dagingmu sendiri."


Ia mengambil cek itu dan merobeknya menjadi kepingan kertas kecil di hadapan Axel.


Perbuatan Jessi barusan berhasil mengundang kembali amarah Axel.


"Sudah kukatakan untuk tidak menggangguku. Itu hanya sebuah kesalahan! Dan jangan merusak karirku dengan anak sialan itu."


Bentaknya membuat Jessi tertegun.


Degg


Anak sialan?