
HAPPY READING
"Apa kau sedang demam?" Axel melihat ada semburat merah di pipi Jessi.
Dasar Bodoh!
'Ti-tidak" Jessi gelagapan di buatnya.
"Lalu kenapa wajahmu memerah seperti tomat?" Axel belum melepaskan jarinya yang bertengger manis di dagu Jessi.
"Tidak apa-apa" Jessi mengalihkan pandangan menatap sekitar.
Bodoh Jessi, kenapa bisa salah tingkah seperti ini.
"Kau bertanya apa tadi?" Mencoba mengalihkan pertanyaan.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Axel lagi.
"Memangnya wajahku kenapa?"
Oh Tuhan.
Apa wajahku semakin merah? Pasti dia sedang menertawakanku.
"Banyak plester. Apa kau terluka?"
Seketika air muka Jessi langsung berubah mendengar pertanyaan Axel.
Sungguh ini di luar ekspetasi Jessi.
"Hanya luka kecil" Axel melepaskan jarinya dari dagu Jessi.
"Katakan padaku kenapa?" Entah dengan alasan apa, Axel sangat penasaran.
"Kenapa? Apa kau mulai perhatian padaku?" Sontak saja pertanyaan itu mengembalikan kesadaran Axel.
"Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin kau membuat masalah dan aku yang akan terkena imbasnya."
"Tenang saja. Ini tak ada hubungannya denganmu."
"Baguslah."
"Apa tujuanmu kemari?"
Axel tersadar akan tujuan awal ia ke apartemen lamanya.
"Mungkin beberapa minggu kedepan aku tak akan mengunjungimu."
Jelas Jessi tau apa alasan Axel itu. Apalagi kalau bukan karena sibuk dengan konsernya.
Tapi aneh saja rasanya jika Axel harus mengatakan hal ini padanya.
"Kenapa kau mengatakannya padaku? Bukankah biasanya kau juga jarang mengunjungiku? Kecuali untuk memeriksa apa aku membuat masalah yang akan merugikanmu atau tidak."
Benar bukan yang di katakan Jessi?
"Aku hanya mengingatkan untuk tidak membuat masalah selama aku tidak ada." Axel berujar dengan gaya angkuhnya.
Sudah kuduga.
"Kau tak perlu mengingatkannya."
Apa salah Jika Jessi mulai berharap lebih pada ayah dari bayinya itu?
"Baiklah jika kau sudah paham" Axel berdiri
"Aku pergi." Ia melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen.
Mood Jessi jadi berubah karenanya.
"Apa kau sedih karena Daddymu tidak berpamitan denganmu?"
°°°°°
Di lain tempat, seorang gadis tengah asik berselancar di dunia maya dengan ponsel di genggamanya.
"Jadi ... apa Kakak mendapatkan info tentang gadis itu?"
Pria yang tengah duduk bersantai itu menoleh ke arah sumber suara.
"Hmm." Gumamnya yang berarti 'ya'.
"So ... siapa dia?"
"Entahlah Penelop. Aku bingung." Ya. Gadis itu adalah penelop yang sedang bersama dengan Herry.
"Bingung kenapa?"
"Apa kau janji akan membantuku jika aku mengatakannya padamu?"
Penelop makin di buat penasaran dengan ucapan Herry.
"Jangan membuatku penasaran Kak"
Gerutunya.
Herry meragukan Penelop.
"Aku hanya kurang yakin denganmu. Kau bisa membuat ini menjadi masalah besar."
"Tidak akan. Janji." Penelop mengambik paksa kelingking Herry, menautkan dengan kelingkingnya sendiri.
"Dia hamil." Perkataan Herry terdengar ambigu.
"Dia siapa?"
"Gadis yang bersama Axel. Ah, apa sekarang aku harus menyebutnya wanita?"
"Apa maksudmu Kak?" Perasaan Penelop jadi tak karuan.
"Wanita itu hamil. Anak Axel."
"What? Kau tidak sedang bercandakan?" Raut wajah Penelop sudah tak tertebak. Antara marah, kesal, kecewa, dan kaget menjadi satu.
"Axel sendiri yang mengatakannya padaku."
Jadi ini alasan kenapa Axel menyuruhku keluar dan membiarkan mereka bicara berdua.
Penelop mengingat kejadian di Madrid.
"Apa Kakak yakin Axel ayah dari bayi itu?"
"Sejujurnya aku tak yakin dengan itu. Tapi Axel mengatakan jika dia adalah pria pertama wanita itu."
Penelop ingat!
Dia sempat melihat darah di kasur yang di tempati Axel pagi itu.
"Mungkin Axe benar. Aku melihat ada darah di tempat tidur Axel waktu itu." Ujarnya lirih, takut-takut jika Herry akan memarahinya.
Benar saja. Herry menatap tajam Penelop, dan ...
"Kenapa kau tak langsung memberitahunya padaku?!" Sebisa mungkin Herrh menahan emosinya pada adik kesayangannya itu.
"Maafkan aku. Waktu itu aku bertanya pada Axel dan dia mengatakan itu darah dari jarinya yang luka karena pecahan botol. Kondisinya saat itu juga mendukungku untuk percaya." Tak ada hal lain yang di takuti Penelop selain kemarahan Herry.
"Aku sengaja menaruhmu bersamanya agar kau bisa mengawasinya."
"Maaf" Penelop menunduk.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Bagaimana jika wanita itu hanya akan memanfaatkan Axel?" Herry tak akan membiarka itu terjadi.
Penelop diam. Dia ikut berpikir apa yang harus mereka lakukan.
Sebuah ide terbesit di dalam kepalanya.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan."
"Apa? Jangan membuat semua makin kacau hingga media mengetahui ini." Herry tau adiknya itu tak mungkin ceroboh. Tapi untuk sekedar berhaga-jaga, ia terus mewanti-wanti adiknya.
"Tidak akan." Ujarnya mantap.
Penelop membisikkan rencanannya pada Herry.
Ia tersenyum bangga dengan rencananya.
"Bagaimana?"
"Apa kau yakin?" Herry setuju tapi juga sedikit ragu dengan ide Penelop.
"Tentu saja"
Herry menghela napasnya.
"Baiklah. Aku mempercayakanmu untuk hal ini."
"Ingat untuk tidak mengacaukannya. Ini menyangkut karir Axel."
"Tenang saja. Serahkan semuanya padaku."
°°°°°
"Halo" Sahut Penelop yang sedang menghubungi seseorang.
"..."
"Bisakah kita bertemu sebentar?" Tanyanya.
"..."
"Hanya sebentar. Ada hal penting yang harus kau tahu."
"..."
"Ya, aku janji."
"..."
"Akan kukirimkan alamatnya padamu."
Tuttt
°°°°°
Seorang gadis dengan penampilan modis memasuki restaurant ternama yang ada di kota itu.
Matanya memandang ke segala penjuru restaurant, mencari seseorang yang telah membuat janji temu dengannya.
Matanya berhenti tepat di meja yang berada di sudut ruangan, dengan kaca besar di sampingnya yang menyuguhkan pemandangan sekitar. Dia melangkahkan kakinya menuju ke tempat itu.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Tanyanya pada orang itu.
"Duduklah dulu Bree." Intrupsi Penelop pada Breeana.
"Apa kau tak ingin memesan minum atau makan dulu?" Sejujurnya Penelop sangat takut dengan Breeana. Pembawaan gadis itu begitu arrogant.
"Kedatanganku ke sini bukan untuk makan bersamamu. To the point saja. Waktuku tak banyak untuk orang sepertimu." Bree memperbaiki letak kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya.
Hal yang tak di sukai Penelop dari adik Axel ini ialah sikapnya yang selalu memandang sebelah mata orang-orang yang berada di bawahnya.
Walaupun sejujurnya Penelop juga memiliki sifat demikian, tapi tak separah dengan Breeana.
Mungkin sifat dan sikap Breeana di dukung oleh posisinya sebagai anak dari pebisnis sukses benua Amerika, serta adik dari seorang selebriti terkenal.
"Aku ingin mengatakan sesuatu tentang Axel." Breeana mengangkat sebelah alisnya mendengar nama sang kakak di sebut.
"Ada apa dengannya?" Breeana berpikir, pasti pembahasan ini tak jauh-jauh dari masalah Axel dengan Ayahnya.
"Dia ...." Penelop menggantung ucapanya
"Cepatlah Penelop! Jangan membuatku menunggu" Kesalnya.
"Mm,, mungkin kau tak akan percaya. Tapi ini kenyataan dan kuharap kau bisa membantuku dan Kakakku mengenai masalah Axel yang satu ini."
"Jangan bertele-tele Penelop! Katakan saja!" Bentaknya membuat Penelop semakin ragu, tapi ia menepis perasaan itu.
"Axel menghamili seseorang"