Baby From Idol

Baby From Idol
Part 27 Kejutan



HAPPY READING


"Apa yang terjadi dengamu Ax? Kuperhatikan kau terlihat sangat gelisah dari tadi." Tanya Herry memperhatikan tingkah artisnya yang sedari tadi mondar-mandir seperti orang gelisah.


"Tidak. Aku tak apa." Jawabnya sambil duduk kembali, memperhatikan layar ponselnya.


Ada apa dengaanku ini? Dari kemarin aku merasa tidak tenang dan selalu memikirkannya.


Arghh. Kenapa aku tak meminta nomor ponsel wanita itu agar bisa menghubunginya.


"Tapi kau terlihat seperti orang yang sedang gelisa. Seperti memikirkan sesuatu mungkin." Ujar Herry mengendikkan bahunya.


"Itu hanya perasaanmu. Aku baik-baik saja sekarang." Bantahnya.


Herry menghela panjang napasnya. Ia tahu jika Axel tengah berbohong padanya. Dan mungkin juga ia tahu hal apa yang membuat Axel gelisah, apalagi kalau bukan wanita hamil itu.


"Terserah apa katamu Ax. Tapi ingatlah jika kau masih mempunyai konser untuk hari esok. Jangan sampai apa yang membuatmu gelisah itu bisa mengganggu konsentrasimu saat besok nanti." Kata Herry sekedar mengingatkan.


"Aku tahu. Kau tenang saja."


Tanpa di sadari, percakapan kedua orang antara manajer dan artisnya di ruang tamu hotel dengan fasilitas Presidential suite itu, tengah di dengar seseorang.


Tentu saja kau merasa gelisah. Kau tak 'kan tahu apa yang sudah adikmu perbuat pada wanita itu.


Batinnya sambil memperlihatkan senyum kemenangan.


°°°°°


"KAU?!" Pekik Jessi terkejut, saat melihat siapa orang di balik pintu.


Orang itupun tak kalah terkejutnya saat melihat siapa sosok yang sedang berada di depannya ini.


Breeana beberapa kali mengerjapkan matanya, berharap ia salah lihat akan objek yang sedang berhadapan dengannya.


"Hei Nona! Kenapa matamu seperti habis melihat hantu hah?! Apa aku terlihat sangat menyeramkan?" Tanya Jessi dengan senyum mengejeknya. Ia ingat betul siapa gadis di depannya ini. Si gadis sombong yang bertengkar dengannya di cafe beberapa waktu lalu.


Sementara itu, Breeana tak mengindahkan pertanyaan Jessi, melainkan sibuk dengan pemikirannya sendiri


Apa aku salah alamat?


Ia kembali melihat alamat yang ada di ponselnya.


Tidak! Ini sudah benar. Tapi kenapa pelayan rendahan ini yang berada di sini?


Ah, aku tahu. Pasti pelayan ini berteman dengan j*l*ng itu.


Breeana menghunuskan Jessi dengan tatapan tajamnya.


"Di mana j*l*ng itu?" Tanya Breeana, sambil masuk ke dalam dengan sengaja menabrak bahu Jessi yang masih terdiam mencermati peryanyaan Breeana.


"Hei apa maksudmu?! Aku sedang tidak mempersilahkan kau untuk masuk ke dalam." Protes Jessi melihat kelakuan kurang sopan Breeana.


"Apa aku butuh itu?" Breeana menjawabnya dengan pertanyaan, sambil berjalan memeriksa setiap sudut ruangan apartemen itu.


"Hei apa yang kau lakukan?!" Jessi yang mengikutinya dari belakang sontak saja menarik tangan Breeana yang terulur membuka pintu kamarnya. Ia merasa tingkah gadis itu sudah sangat keterlaluan.


"CEPAT KATAKAN DI MANA J*L*NG ITU?" Bentaknya menghempaskan tangan Jessi. Jessi meringis merasakan sakit di tangannya yang membentur bagian pintu.


"APA MAKSUDMU NONA?! KAU TIBA-TIBA SAJA MASUK KE DALAM DAN BERTERIAK-TERIAK SAMBIL MENGGELEDAH RUMAH ORANG. APA KAU TIDAK DI AJARKAN SOPAN SANTUN?!" Jessi balik berteriak padanya dengan napas yang sudah memburu.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi Jessi, membuat badanya sedikit terhuyung ke samping.


"Jangan berbicara sopan santun padaku. Posisi kita jelas sangat berbeda."


"Apa kita saling kenal hingga kau melakukan ini?!" Jessi memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang di layangkan Breeana padanya.


"Aku bertanya sekali lagi padamu. Katakan di mana j*l*ng sialan itu berada?"


"Siapa yang kau maksud Nona? Mungkin kau salah orang. Aku hanya tinggal sendiri di sini."


Breeana terbungkam mendengar jawaban Jessi.


"Apa kau mengatakan yang sesungguhnya?" Jessi menganggukkan kepalanya untuk menjawab.


Tiba-tiba saja, Jessi merasakan keram di perutnya. Mungkin ini efek karena ia terlalu emosi.


Sontak saja ia meringis pelan memegangi perutnya.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian Breeana. Matanya membulat mengikuti arah tangan Jessi.


Ia terkejut melihat perut Jessi yang sedikit membuncit.


Apa mungkin ....


Untuk memastikan apa yang sedang berkecamuk di benaknya, Breeana bertanya pada Jessi.


"Apa kau sedang hamil?" Ia sedang berusaha meredam emosi di kepalanya jika apa yang di pikirkannya ternyata benar.


"Itu bukan urusanmu." Kesalahan Jessi saat ini adalah menjawab pertanyaan Breeana dengan nada yang terkesan tak peduli.


"Siapa ayah dari bayi itu? Dan kenapa kau bisa ada di sini?" Jantung Breeana mulai berdegub kencang.


Semoga saja ini salah.


Penelop dan Herry salah.


"Sudah kubilang bukan urusanmu Nona! Silahkan kau keluar dari sini. Kau masih mengingat jelas pintu keluarnya bukan?" Jessi mencoba mengusir gadis yang sudah merusak moodnya pagi ini.


"Aku tahu jelas siapa pemilik apartemen ini." Jessi menegang. Jika gadis ini tahu siapa pemilik apartemen ini, buka berarti itu tak menutup kemungkinan jika si pemilik memiliki hubungan dekat dengan gadis ini.


Melihat reaksi tubuh Jessi, membuat emosi yang sedari tadi berkumpul di kepala Breeana meledak.


Kini ia percaya dengan jelas apa yang di katakan Penelop padanya.


Dan si j*l*ng yang sedari tadi di carinya ternyata sudah berada di depannya.


Tangan Breeana mengepal.


Beraninya pelayan rendahan sepertinya menjebak kakakku.


Tanpa aba-aba, Breeana menjambak rambut Jessi, membuat wanita hamil itu memekik karena terkejut, dan merasakan pusing di kepalanya.


"Apa yang kau lakukan?" Jessi mencoba menggapai tangan Breeana untuk melepaskan jambakannya, namun itu tak berhasil.


Tenaga gadis yang terlihat lebih mudah itu, lebih kuat dari pada tenaganya yang hanya seorang ibu hamil.


"Kau pikir aku tak tahu semuanya hah?! Kau berada di sini karena kak Axel bukan?" Breeana makin mengecangkan jambakannya.


Jessi terkejut saat nama Axel di sebut. Bagaimana mungkin gadis itu bisa tahu?


"A-arghh,, lepaskan kumohon." Air mata mulai mengalir di pipinya karena rasa sakit di kepala.


"JAWAB PERTANYAANKU?!"


"Ti-tidak"


"JANGAN BERBOHONG! AKU BISA SAJA MELENYAPKANMU DENGAN BERSAMA ANAK ITU."


Tak mau bayinya menjadi korban, terpaksa Jessi berkata jujur. Biaralah ia menanggung akibatnya, asal jangan bayinya yang tak bersalah itu.


"I-iya. Hiks ... aku a-ada di sini karena ha-hamil anak hiks ... A-Axel." Ujarnya sesenggukan. Beberapa saat yang lalu, ia sangat berani pada Breeana. Berbeda dengan sekarang, saat ia merasakan langsung kekejaman gadia itu, yang bahakan tak segan-segan mengancam bayinya.


Plakk


Pagi ini Jessi sudah mendapat dua tamparan dari orang yang sama.


Breeana melepaskan jambakkannya pada rambut Jessi, beralih mendorongnya ke tembok lalu mencekik lehernya.


"Katakan sekali lagi." Ujarnya dengan suara yang penuh intimidasi.


"A-aku ha-hamil a-nak Ax-el." Jessi terbata-bata karea cekikan di lehernya.


Pasokan udaranya mulai menipis. Ia hanya menagis menatap Breeana, sambil memaksa tangan Breeana untuk lepas dari lehernya.


Breeana membenturkan kepala Jessi ke dinding lalu melepaskan tangannya dari bagian tubuh wanita itu.


Uhuk ... uhuk ....


Jessi terduduk sambil memegang tenggorokannya.


"Apa kau yakin itu benar anak Axel?" Tidak taukah dia jika pertanyaannya itu membuat hati Jessi sakit?


Jessi hanya menganggup menanggapinya. Tenggorokannya terasa sakit untuk sekedar berucap 'ya'.


"Cih! J*l*ng sepertimu tak bisa di percaya. Pasti kau merasa bosan hidup miskin hingga memilih menjebak kakakku bukan?"


Kakak? Jadi dia adik Axel?


"Kau," Dengan sangat tidak berperasaanya Breeana mengangkat dagu Jessi yang berada di bawahya menggunakan ujung dari high heels yang di kenakannya.


"Akan mendapatkan kejutan yang berharga sebentar lagi." Selesai mengatakan itu, ia pergi berlalu dengan sengaja menginjakkan kakinya pada jari-jari tangan Jessi yang bertumpu menahan tubuhnya di lantai.


Ia hanya menangis. Di sini dialah korban tapi di perlakukan seperti seorang tersangka.


Belum lagi apa yang di maksud Breeana dengan 'kejutan' tadi.


"Hikss, Ibu ...." lirihnya yang hampir tak ada suara