
HAPPY READING
"Axel menghamili seseorang"
Breeana memberi tatapan datarnya pada Penelop.
Penelop menunggu apa reaksi dari Breeana saat mendengar ucapannya. Tapi sepertinya gadis itu tidak memberikan reaksi seperti yang di duga Penelop.
"Apa kau menyuruhku datang ke sini hanya untuk mendengarkan leluconmu itu?"
Pantas saja. Ternyata dia tidak percaya.
"Hei, apa kau tak percaya padaku?."
"Atas dasar apa aku harus mempercayaimu?" Gaya bicaranya semakin menunjukkan betapa angkuhnya gadis itu.
"Aku sedang mengatakan tentang rahasia kakakmu dan kenapa reaksimu setenang itu?"
Breeana memutar bola matanya dengan malas.
"Buang-buang waktu saja" Ia beranjak dari duduknya melangkah meninggalkan restaurant.
Saat dirinya melewati Penelop, gadis itu mencekal pergelangan tangan Breeana. Sontak saja Breeana menghempasnya dengan kasar.
"Ingatlah posisimu." Penelop merasa terhina dengan perkataan Breeana yang secara tak langsung mengatakan perbedaan kasta di antara mereka.
Jika bukan karena rencana, aku akan berpikir seribu kali untuk bertemu denganmu.
"Kumohon dengarkan penjelasanku. Ini sangat penting"
Tak ada tanggapan. Breena sangat irit berbicara, terkecuali saat berada dengan orang-orang yang berada sama posisi dengannya.
"Please ...."
"Lima menit."
Breeana kembali ketempat duduknya.
Penelop menceritakan semuanya yang di katakan Herry sebelumnya padanya, termasuk beberapa hal yang saat bersama Axel waktu di Madrid.
"Apa sekarang kau percaya padaku?"
Breeana yang sedari tadi diam mendengarkan rupanya juga tercengang.
"Bagaima mungkin kakakku melakukan hal memalukan seperti itu?"
"Entahlah. Awalnya aku juga sama sepertimu yang tidak percaya akan hal itu. Tapi saat kak Herry menjelaskan, aku baru percaya. Tidak mungkin jika dia mengarang tentang hal sebesar itu." Sesekali Penelop melirik Breeana.
"Katakan padaku apa ini sungguhan?" Breeana seolah menolak dengan kenyataan yang di sampaikan Penelop.
"Tidak ada untungya bagi kami berbohong padamu."
Hening sesaat. Keduanya sama-sama diam. Hanya terdengar suara lagu yang di putar di tiap-tiap pengeras suara yang berasa di sudut ruangan restaurant.
"Apa rencanamu?" Tanya penelop
Dia mulai menjalankan aksinya.
"Kau tahu, wanita itu bisa merusak karir Axel. Belum tentu jika bayi yang di kandungnya adalah bayi Axel, meskipun Axel adalah yang pertama untuknya."
"Di mana tempat tinggal j*l*ng itu?"
Penelop tersenyum penuh kemenangan melihat Breeana yang mulai termakan umpannya.
"Entahlah. Sejak kembali ke sini, kami sudah tak pernah melihatnya. Axel teralu rapi menyembunyikannya. Dia juga tidak ada di penthouse kakakmu."
Breeana sempat berpikir bahwa dia juga tidak melihat keberadaan wanita saat mengunjungi Axel.di penthousenya kemarin.
"Aku memberimu tugas. Cari di mana kakak menyembunyikan wanita itu."
"Tidak bisa. 3 hari lagi kami akan keluar negri untuk konser selanjutnya."
"Gunakan waktu 3 hari itu sebaik mungkin. Aku akan memberimu bonus jika berhasil."
Selesai mwngucapkannya, Breeana pergi berlalu dari hadapan Penelop.
"Dia pikir dia siapa huh?!
Tapi tak apa. Setidaknya dia lebih pantas untuk memberi pelajaran pada wanita itu." Ujarnya mengingat sifat, sikap, serta status yang di miliki Breeana.
"Awas saja jika bonusnya mengeceawan." Pasti tidak. Bahkan bisa di pastikan itu akan melebihi apa yang Penelop bayangkan. Ia tersenyum senang memikirkannya.
°°°°°
"Apa yang sedang kau tonton?" Tanya Jessi pada seorang gadis yang berusia sama sepertinya. Gadis yang sama-sama bekerja dengannya di cafe.
Suasana cafe saat ini masih bisa di katakan normal. Ada beberapa pengunjung, meskipun tak seramai sebelumnya yang membuat mereka super sibuk.
Waktu seperti ini di gunakan beberapa pegawai untuk memegang ponsel. Salah satunya gadis tadi.
"Aku sedang menonton wawancara Axel." Lanjutnya.
Jessi terpaku saat temannya itu menyebut nama Axel.
"Hei!" Gadis itu melambai-lambai tangannya di depan Jessi.
"Ya?" Jessi mengerjapkan matanya.
"Kau kenapa? Jangan bilang kau tak tau dengan seorang Axelion? Artis yang sangat terkenal itu."
Ternyata salah satu penggemar Axel.
Tentu saja tahu. Dia ayah dari bayiku.
"Aku tahu." Jessi seperti tak tertarik dengan topik yang menjadi pembicaraan mereka.
"Apa kau juga menjadi salah satu yang memujanya?" Tanya gadis itu.
Tentu saja ya. Tapi sekarang aku menyesal.
"Tidak." Ia mengendikkan bahunya.
"What? Tapi kenapa? Tidak ada alasan untuk wanita di seluruh dunia tidak memujanya. Axel adalah pria yang sangat tampan juga berbakat. Selain itu dia juga artis dengan bayaran termahal melebihi artis senior lain. Dan satu lagi, orang tuanya adalah pebisnis terkenal yang menduduki posisi salah satu orang terkaya di dunia." Gadis itu terlalu mengagungkan pesona seorang Axel.
"Tapi aku tidak. Aku tidak menjadi salah satu pemujanya."
"Why?"
"Apa harus ada alasan? Tidak semua orang harus menyukainya bukan?"
Bohong. Walaupun Jessi menyesal pernah menjadi salah satu dari banyaknya penggemar Axel, tapi hal itu tak bisa menyingkirkan perasaan sukanya.
Bukan perasaan suka antara penggemar dan idola. Tapi ....
Ah, sudahlah. Yang pastinya perasaan ini sudah berbeda seperti sebelumnya.
"Sudahlah, semua orang juga mempunyai pendapat yang berbeda-beda."
"Ya, kau benar."
Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya menonton sang idola.
"Betapa beruntungnya menjadi Axel. Setiap langkah selalu di ikuti banyak kamera. Hal sekecil apapun yang dia lakukan pasti menjadi pembicaraan di setiap media. Aku jadi iri nanti pada orang yang menjadi pasangannya."
Tenggorokan Jessi rasanya seperti sedang menelan gumpalan nasi besar.
Ya. Betapa beruntung nanti orang yang akan menjadi pasangannya.
Dan betapa kasihan nasib anaknya nanti yang tak akan mendapat pengakuan.
"Seharusnya kita bersyukur. Orang seperti dia pasti sulit mendapat privasi jika selalu di ikuti media dan paparazzi"
Terkadang Jessi juga merasa sedikit takut saat Axel menemunya di apartemen. Apa tak ada paparazzi yang membuntutinya?
Atau mungkin Axel sudah sangat handal dalam melakukan penyamaran hingga tidak ada yang bisa menyadari bahwa itu adalah seorang Axelion.
"Benar. Pasti orang sepertinya sulit untuk mendapat ketenangan hidup. Selain paparazzi pasti banyak fans gila di luar sana." Gadis itu bergidik ngeri membayangkan Axel yang di kejar-kejar penggemar yang memiliki obsesi berlebihan padanya.
"Sudahlah. Hentikan pembahasan tentangnya dan ayo mulai bekerja. Pengunjung cafe sudah semakin banyak lagi." Jessi mengakhiri pembahasan mereka tentang Axel, dan kembali bekerja.
°°°°°
Drtt ...
Drtt ...
"Ada apa?"
"Kau di mana?"
"Aku sedang di luar, dan sudah akan pulang. Kenapa?"
"Jangan lupa untuk membawakan makanan. Aku sangat lapar."
"Tapi -"
Belum sempat menyangkal, panggilan sudah di putus sepihak oleh penelepon.
Penelop sangat kesal. Kenapa tidak dari tadi saat ia berada di restaurant saja Herry meminta untuk membawakan makanan.
Bukan seperti ini. Dirinya sudah setengah jalan untuk pulang. Di mana ia harus mencari makanan untuk Herry?
"Arghh, kalau bukan karena dia kakakku aku tak ingin menuruti perintahnya itu." Penelop menggerutu kesal.
Di sudut jalan tak jauh dari tempatnya berada, dia melihat ada cafe yang cukup ramai. Mungkin makanan di cafe itu enak sehingga banyak pelanggan yang berdatangan.
Ia menepikan mobilnya ke jalan yang tak jauh dari cafe, lalu berjalan memasuki tempat itu.