Baby From Idol

Baby From Idol
Part 16 Check Up



HAPPY READING


Jessi menatap penuh harap pada Axel yang tak kunjung merespon ucapannya. Sedangkan yang di tatap, hanya diam menatap balik Jessi dengan tatapan datarnya.


"Bagaimana? Apa kau mau menemaniku?" Jessi memastikan sekali lagi.


"Kau tahu, dia sudah mau jalan empat bulan," Jessi mengusap-usap, perutnya yang mulai terlihat membuncit.


"Besok adalah kali kedua aku memeriksa kandunganku. Kuharap kau mau menemaninya. Baby juga pasti berharap seperti itu." Masih dengan senyum di bibirnya, Jessi mencoba untuk menghasut Axel agar mau menemaninya.


"Aku sibuk besok."


Jessi menatap Axel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa kau yakin?" Ia mencoba memastikan sekali lagi. Siapa tahu, Axel berubah pikiran.


"Hm, aku yakin." Jawaban Axel masih sama seperti sebelumnya.


Jessi menghela nafasnya.


"Ya sudah, tak apa jika kau tak mau menemaniku. Mungkin El bisa."


Ia teringat tentang El, temnnya yang selalu ada untuknya ketika ia butuh bantuan.


Berbeda dengan Axel, ia mengernyitkan dahinya saat Jessi menyebut nama pria lain.


Rasa penasaran pun muncul di kepalanya.


"Siapa El?"


Mendengar pertanyaan Axel, Jessi menatap lurus kedepan, sambil menerawang tentang El.


"El adalah teman kerjaku. Dia pria baik hati yang sering membantuku. Ia membantuku pergi memeriksakan kehamilan, menemaniku untuk berbelanja bulanan, membelikanku susu ibu hamil," tak henti-henti Jessi tersenyum membayangkan kebaikan temannya itu.


"Bahkan El yang selalu ada saat aku merasakan susahnya morning sickness dan selalu memenuhi permintaan ngidamku."


Tanpa sepengatahuan Jessi, Axel tengah mengepalkan tangannya di bawah meja. Entah apa yang sedang di rasakan pria itu. Ia seperti tak suka saat Jessi membicarakan pria bernama El itu. Apa mungkin Axel merasa jika posisinya sebagai Ayah biologis dari bayi itu tergeserkan oleh orang asing?


Entahlah, Axel pun merasa heran dengan dirinya saat ini.


"Aku akan menemanimu besok." Perkataan itu spontan saja keluar dari bibirnya.


Jessi menatap Axel dengan kaget.


Apa pria itu berubah pikiran? Tapi kenapa?


"Bukankah besok kau sibuk?"


"Tak usah pikirkan itu. Besok aku akan menemanimu untuk check up kehamilan."


"Tapi kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"


"Sudahlah! Apa kau mau aku berubah pikiran lagi?" Kesalnya pada Jessi.


"Ngh ... tidak, tidak. Baiklah besok kita akan pergi." Jessi berhenti bertanya. Ia tak mau Axel berubah pikiran lagi.


"Jam berapa besok?"


Jessi teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat pertama kali ia melakukan check up kehamilannya, dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama karena antriannya yang panjang.


Jessi bergidik ngeri membayangkan jika harus menunggu lama. Bisa-bisa Axel akan meninggalkannya di sana sendirian.


"Jam 8 pagi saja. Duabulan lalu saat aku pergi bersama El, hari sudah mulai siang dan kami harus mengantri lama. Untung saja El setia mau menemaniku."


"Berhenti menyebut nama pria itu!"


Axel kesal melihat Jessi yang begitu semangat bercerita tentang El, El, dan El. Sehebat apa pria itu sampai-sampai Jessi memujinya di hadapan Axel.


Bibir Jessi terkatup mendengar bentakkan Axel.


"Maaf," Cicitnya.


Axel hanya mendengus mendegar permintaan Jessi.


"Aku sudah selesai." Axel mendorong piringnya kedepan. Ia kehilangan selera makannya gara-gara pria bernama El itu.


"Aku akan pergi," ia bernjak dari duduknya. "Besok aku akan kembali pukul 8 dan kau harus sudah siap." Selesai mengatakan itu, Axel pergi berlalu dari apartemen itu.


Setelah kepergian Axel, Jessi langsung membereskan bekas makan pria itu. Selsai dengan pekerjaannya, Jessi segera mengialstirahatkan tubuhnya yang mulai merasa pegal. Ia berbaring menatap langit-langit kamar dengan penuh senyum, mengingat Axel akan menemaninya untuk check up besok.


Ah, ia sudah tak sabar untuk menantikan hari esok.


°°°°°


Pagi ini Jessi sudah siap dengan pakaian kasualnya. Ia menggunakan hoodie berwarna pink, dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam, dan sneakers putih. Tak lupa pula tas selempang yang ia sampirkan di bahu kanannya. Hari ini Jessi memilih untuk menguncir rambut sebahunya yang sudah mulai panjang. Rambutnya memang selalu tumbuh dua kali lebih cepat dibandingkan dengan orang lain.


Tingg nong ...


Tingg nong ...


Ia melirik sebentar ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul 07. 58, dua menit lagi sebelum jam 8.


Bainnya mengatakan jika yang datang itu pasti Axel.


Ceklekk


Dan benar saja.


Saat Jessi membuka pintu, ia dapat melihat Axel dengan tampilan yang ... entahlah, dia bingung harus menjelaskannya.


Pria di hadapnnya ini menggunakan celana jeans berwarna putih, jaket kulit berwarna hitam, masker topi serta kacamata hitam, dan sepatu ketsnya  yang pasti berharga selangit.


Jessi memperhatikan tampilan Axel yang terlihat aneh, tapi keren dan tampan di saat yang bersamaan.


"Engh, kenapa kau berpenampilan seperti itu?"


"Seperti apa?" Axel mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Jessi.


"Menggunakan topi masker dan kacamata. Kau berpenampilan tertutup."


"Tck, apa kau lupa hah?! Aku ini seorang selebriti terkenal. Bagaimana jika ada yang melihatku berjalan bersamamu yang bukan siapa-siapa?"


Jessi mengerti maksud dari ucapan Axel. Dia lupa kalau pria ini adalah seorang public figure yang sangat terkenal. Sedangkan dirinya? Bukan siapa-siapa, hanya orang asing yang datang di kehidupan Axel.


"Ah ya, kau benar." Entahlah, mungkin ini pengaruh dari kehamilannya, sehingga perasaanya menjadi lebih sensitif.


Axel melirik jam tangannya.


"Ayo pergi, ini sudah jam 8 dan aku tak mau mengantri lama."


Mereka berdua bergegas pergi meninggalkan apartemen,menuju ke parkiran.


Axel segera melajukan Aston Martin DB11 miliknya ke rumah sakit tempat melakukan check up.


Saat di perjalanan, tak ada satu pun dari mereka berdua yang membuka suara, hingga suara ponsel Jessi yang memecah keheningan.


Jessi melihat nama si penelepon. Ternyata itu El.


"Halo El, slamat pagi."


Axel menatap sekilas Jessi, saat mendengar wanita itu menyebut nama pria yang membuatnya berada di sini, karena merasa posisinya yang terancam mungkin?


"Halo Jess, selamat pagi juga."


"Ada apa menelepon El?"


"Oh ya, bukankah hari ini jadwal mu untuk melakukan check up kehamilan?"


Bahkan pria itu tahu jadwal kapan wanita ini harus ke Dokter.


Batin Axel.


"Apa aku perlu menemanimu jess?"


Tanya El, di seberang sana.


"Ya hari ini jadwalnya. Mm, makasih El, tapi tak usah repot-repot. Hari ini aku pergi bersama sepupku." Ujar Jessi seraya melirik ke arah Axel.


"Oh, kau bersama sepupumu? Baiklah, mungkin hari ini bukan keberuntunganku."


Jessi terkekeh mendengar penuturan El.


"Tak apa El, mungkin lain kali bisa."


Lain kali? Berarti pria itu akan menemani wanita ini lagi?


"Kau benar, mungkin lain kali. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya. Sampai jumpa nanti."


"Sampai jumpa lagi El."


Tut


Panggilan terputus.


"Pria itu bahkan tahu kapan jadwal kau harus melakukan check up."


Jessi menatap heran Axel saat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut pria itu.


Ada apa dengannya?