Baby From Idol

Baby From Idol
Part 3 Madrid



HAPPY READING


New York, Amerika.


"Bagaimana persiapannya?" Tanya Axel pada Herry, Manajernya.


"Sudah 90% Ax, kau tak perlu khawatir memikirkannya, biar aku yang mengurus itu. Kau hanya perlu mepersiapkan dirimu nanti agar bisa memberikan penampilan yang perfect." Jawab Herry.


"Oh, oke."


Axel sedang memimirkan konsernya yang akan di adakan di Madrid 3 hari lagi.


Konser ini terlalu mendadak menurutnya. Bagaimana tidak? Dia baru saja mendapat kabar  mengenai hal itu dari manajernya seminggu yang  lalu.


Kata Herry, sebenarnya konser ini sudah lama di rencanakan akan tetapi dia pun tak mengira akan secepat ini.


Ia juga baru mendapat kabar dari pihak agensi bahwa konser akan segera di laksanakan, dan itu akan menjadi konser terakhirnya di bulan ini.


Tidak berbeda jauh dengan Axel dan Herry, para penggemar pun ikut terkejut mengetahui konser dadakan dari sang idola, karena biasanya pihak agensi akan memberitahu perihal tentang konser empat sampai lima bulan sebelum konser di laksanakan.


sudahlah, lagi pula ini akan menjadi konser terakhirku di bulan ini. Masih ada beberapa hari lagi setelah konser di madrid sebelum konser selanjutnya. Aku bisa menggunakan sisa hari itu untuk berlibur sekalian di Spanyol nanti. Batin axel.


Sebenarnya Axel juga baru saja mengadakan konser di Australia tepat seminggu yang lalu saat Herry memberitahukan perihal konser dadakannya di spanyol.


Sungguh Axel sangat lelah,tapi itulah pekerjaanya.


Menjadi seorang Idol terkenal, merupakan impian Axel sejak kecil. Ia sering berlatih dengan keras agar bisa mewujudkan mimpinya itu. Bahkan, dia menolak menjadi pewaris perusahaan ayahnya, yang merupakan perusahaan terbesar di benua Amerika.


Dan sekarang, mimpinya terwujud berkat usaha dan kegigihannya.


Ia sudah menjadi seorang Idol yang sangat terkenal dalam waktu setahun setelah melakukan debut. Itu adalah sesuatu yang patut di acungi jempol.


"Bukankah konserku di Madrid akan menjadi konser terakhir di bulan ini? Masih ada berapa hari lagi setelahnya untuk konser yang selanjutnya Herr?" Tanya Axel untuk memastikan jika ia benar-benar akan mempunyai waktu berlibur nanti.


Herry melihat-lihat buku agendanya, yang berisi jadwal kegiatan Axel


"Ya, ini akan menjadi konser terakhirmu di bulan ini Ax.


Masih ada waktu tiga minggu sebelum konsermu selanjutnya di minggu kedua bulan depan."


"Bisakah kugunakan waktu tiga minggu itu untuk berlibur di Spanyol?"


"Apakah kau ingin berlibur? Aku bisa menyiapkannya untukmu Ax." Herry balik bertanya.


"Tidak perlu repot-repot, aku hanya butuh mengistirahatkan tubuhku sebentar.


Jadi bisakah aku menggunakan waktu itu?" Tanyanya lagi


Herry berpikir sejenak. Mungkin dia juga harus membiarkan Axel waktu untuk istirahat sementara, agar tidak semakin tertekan dengan kegiatannya.


"Baiklah, kau boleh menggunakannya untuk beristirahat. Lagipula kau juga pasti sangat lelah dengan kesibukanmu."


" Terima kasih." Jawabnya singkat pada sang manajer.


Axel sudah memikirkan apa yang akan di lakukannya selama tiga minggu.


Semenjak  debut setahun yang lalu, ia bahkan tidak mempunyai banyak waktu untuk istirahat. Axel di sibukkan oleh beberapa kegiatannya, seperti harus melakukan syuting untuk pembuatan music video, promosi, pemotretan untuk brand ambasador suatu produk, dan menjadi model.


Akan tetapi, dari semua itu yang paling melelahkan adalah melakukan konser dari satu kota ke kota lain, dan dari sate negara, ke negara lainnya.


Ia bahkan banyak menghabiskan waktunya untuk perjalanan udara.


Axel tidak akan melakukan liburan seperti kebanyakan orang pada umumnya, yaitu dengan mengunjungi tempat-tempat wisata dan lainnya.


Ia mungkin hanya akan berdiam diri di kamar hotel untuk tidur sepuasnya.


Bahkan dia sudah lupa kapan terakhir kali mempunyai waktu libur dan menikmati tidur nyenyak setelah melakukan debut.


Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, membayangkan waktu istirhat panjangnya itu.


°°°°°°


Madrid, Spanyol.


Tepat pukul 12.30 PM, Jessi dan Karin sampai di Madrid, setelah melewati perjalanan panjang sekitar lima sampai enam jam lamanya.


Seperti kata Karin sebelumya, mereka akan menginap di rumah bibinya yang ada di Madrid.


Helen, bibi karin, menyambut mereka dengan baik. Helen langsung menyuruh mereka untuk beristirahat sejenak karena perjalanan panjang yang mereka lewati.


"Istirahatlah, Bibi sudah menyiapkan kamar untuk Karin dan ..."  Kata Helen sambil melirik ke arah Jessi, karena belum mengetahui namanya.


Saat di telepon, Karin hanya mengatakan bahwa ia akan menginap bersama temannya, akan tetapi ia lupa tidak memberi tahu pada Helen siapa nama temanya.


"Ah, maafkan aku Bibi. Aku lupa memberi tahu nama padamu.


Aku Jesseliyn. Kau bisa memanggilku Jessi."


"Tak apa Nak, sudah sana istirahat. Aku akan membangunkan kalian sore nanti untuk bersiap-siap. Bukankanh kalian akan pergi menonton konser? Kalian harus punya banyak tenaga untuk itu."


"Bibi benar! Kami harus punya banyak tenaga untuk  menonton konser malam nanti." Karin membenarkan ucapan Helen.


"Kalau begitu kami akan segera istirahat bibi." Lanjutnya sambil menarik tangan Jessi yang berada di sampingnya.


Sesampainya di kamar, Karin langsung merebahkan diri di atas kasur yang cukup untuk menampung dua orang.


"Istirahatlah Jess, aku juga akan istirahat untuk persiapan nanti malam. Ah, aku sudah tidak sabar." Katanya sambil tersenyum membayangkan konser nanti malam. Perlahan tapi pasti, mata Karin mulai terpejam.


Jessi hanya diam menatap sahabatnya yang sudah mulai masuk ke dunia mimpi itu.


Ia teringat dengan akan percakapan pagi tadi dengan ibunya, sebelum berangkat ke Madrid.


Flashback


05.25 AM


Jessi sedang menyiapkan keperluannya untuk berangkat ke Madrid bersama Karin beberapa jam lagi.


"Jessi, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau menaruh banyak barang-barangmu di koper?" Tanya ibu mengagetkan Jessi yang tengah bersiap-siap.


Ah iya, tentu saja ibu sudah bangun sepagi ini, ia harus menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga.


Pikirnya mengingat alasan kenapa ibunya sudah bangun sepagi ini.


"Ehm itu Bu, Karin mengajakku untuk mengunjungi bibinya yang ada di Madrid."


Maafkan aku yang sudah berbohong Bu.


"Kenapa kau baru memberitahu hal ini pada Ibu, Jessi?"


"Sebenarnya aku ingin memberitahu hal ini semalam, tapi saat aku sampai di rumah, itu sudah sangat sepi dan kupikir kalian pasti sudah tidur. Jadi aku memutuskan untuk memberitahu pagi ini saja. Jadi, apa Ibu mengijinkanku untuk pergi?"


Semalam Jessi memang ini memberitahu ini orang tuanya, akan tetapi saat ia pulang dari rumah karin, keadaan rumah mereka sudah sangat sepi.


Ia sempat pergi ke rumah karin untuk membahas mengenai keberangkatan mereka.


"Berapa lama kalian di sana? Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Ibunya memang sudah sangat mengenal Karin sebagai sahabat dari anaknya itu. Kedua orangtua mereka pun saling kenal.


Jessi bahkan sering ikut bersama karin mengunjungi rumah neneknya yang berada di kota seblah, begitu pula sebaliknya. Karin juga sering ia ajak ke rumah kakeknya yang berada di pinggiran kota Granada.


"Sekitar tiga atau empat hari mungkin.


Mengenai pekerjaan, Mr. Ten meliburkan kami semua selama seminggu karna ia akan keluar kota bersama keluarganya."


Mr. Ten adalah pemilik dari cafe tempat Jessi bekerja.


Beruntungnya, Jessi tak perlu meminta ijin karena harus ke Madrid, karena di waktu yang bersamaan Mr. Ten sedang meliburkan semua karyawannya.


"Ohh, baiklah. Yang penting ini tidak mengganggu pekerjaanmu, Ibu akan memberimu ijin untuk pergi ke Madrid bersama Karin." Ujar ibu menatap Jessi dengan senyum tulusnya dan itu makin membuatnya merasa bersalah karena sudah berbohong.


"Yeyy, makasih Ibuku sayangg ...."


Ujarnya sambil memeluk sang ibu.


"Iya, iya. Dan jangan lupa untuk berpamitan dengan Ayahmu nanti.


Oh ya, apa kalian akan berangkat menggunakan bus?"


Tanya ibu lagi.


"Kami akan berangkat bersama paman Karin. Kebetulan dia menginap di rumah karin dan akan pulang ke Madrid hari ini. Dimana Ayah, Bu?"


"Ohh. Ayahmu masih tidur mungkin"


"Baiklah, aku akan mengatakan hal ini padanya saat sudah bangun nanti." Ujar Jessi sambil menutup koper karena sudah selesai menyiapkan barang-barangnya.


"Jam berapa kalian berangkat nanti?"


"Entahlah, mungkin sejam lagi. Karin dan pamannya akan menjemputku untuk langsung berangkat. Begitu katanya semalam Bu."


"Kalau begitu kau masih punya waktu untuk sarapan. Ayo bantu Ibu menyiapkannya."


"Siapp Kapten."


Ujar Jessi sambil berjalan keluar kamar dan memeluk ibunya dari samping.


Sekali lagi maaf karna berbohong bu. Jika aku berkata jujur kau pasti tidak akan mengijinkannya.


Flashback end.