
HAPPY READING
"Siapa gadis itu?" Mata Herry mengikuti langkah Axel bersama gadis yang di maksud, hingga mereka menghilang masuk ke dalam mobil.
"Bukankah sudah jelas itu adalah pembantunya?"
"Itu bukan jawaban yang kuinginkan Penelop."
"Apa maksudmu Kak?"
"Siapa gadis itu? Aku merasa kurang puas dengan jawaban Axel. Jika dia memang memerlukan seorang pembantu, setidaknya dia pasti akan mengatakannya padaku." Ungkap Herry yang begitu penasaran dengan gadis yang di bawa Axel.
"Entahlah, gadis itu semalam datang menemui Axel dan mereka berbincang cukup lama. Setelah gadis itu pergi, Axel langsung menyuruhku menyiapkan kepulangannya." Penelop pun tak kalah penasaran seperti sang kakak.
"Apa kau tak mendengar pembicaraan mereka?"
"Tidak. Axel menyuruhku untuk keluar."
"Ini aneh"
"Sudahlah, akan kutanyakan saja hal ini pada Axel nanti."
"Ya, Kakak harus menanyakan hal ini. Aku tak mau jika kehadiran gadis itu bisa berdampak pada karir Axel nanti." Ujar penelop.
"Tak akan kubiarkan itu terjadi."
Ujar Herry sambil menatap lurus ke arah jalanan.
°°°°°
Suasana hening kembali menyelimuti mobil yang di kendarai Axel.
Axel sudah membuat rencana. Ia akan membawa Jessi pada salah satu apartemen miliknya, yang hanya di ketahuinya. Apartemen yang sering ia gunakan kala dirinya merasa butuh ketenangan.
Bukan tanpa alasan, semua ini dilkukakan demi melindungi pekerjaannya. Ia hanya tak ingin orang lain mengetahui keberadaan wanita di sampingnya ini, apalagi sampai mengetahui jika wanita ini memiliki hubungan dengannya. Axek tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kita akan kemana?" Tanya Jessi memecah keheningan di antara mereka.
"Apartemenku."
"Oh."
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di salah satu gedung tinggi, yang berjejer dengan gedung-gedung tinggi lainnya.
Axel langsung turun dan berjalan memasuki gedung itu tanpa menghiraukan Jessi yang berada di belakangnya, yang lagi-lagi kesusahan dengan koper-koper itu.
"Tinggalkan koperku di mobil." pinta Axel tanpa menoleh ke belekang.
Axel memencet tombol lift, yang menunjukkan lantai paling tinggi di gedung itu.
Tingg
Lift berhenti. Axel berjalan menuju salah satu pintu yang ada di lorong itu, kemudian membukanya dengan memasukkan password.
"Wahhh." Jessi mengedarkan pandangannya, menatap kagum apartemen milik Axel.
Meskipun tak seluas penthousenya, apartemen Axel yang satu ini cukup nyaman untuk di gunakan. Ruang tamu yang di desain dengan gaya yang simple dan elegan, yang terhubung langsung dengan dapur, serta satu kamar tidur yang menyuguhkan pemandangan yang tak bisa di lewatkan.
"Cih" Axel menatap sinis Jessi yang sedang memandang kagum apartemennya.
"Kau akan tinggal disni." Ujar Axel menghentikan Jessi dari rasa kagumnya.
"Sendirian?"
"Apa kau berharap aku akan menemanimu disini?"
"Tidak." Bodoh! Tentu saja ia sudah tau Axel tak akan menemaninya.
"Itu kamarmu." Tunjuk Axel pada salah satu ruangan dengan pintu berwarna coklat.
"Axel." Panggil Jessi.
Axel menoleh
"Terima kasih karena sudah mau bertanggung jawab atas bayi ini." Ujar Jessi sambil mengusap-usap perutnya yang masih datar, dengan senyum yang tulus.
"Tak usah berterima kasih padaku! Ini semua demi karirku."
Lagi-lagi demi karir.
Jessi hanya tersenyum menanggapi ucapan Axel. Tak peduli apa pun dengan alasan Axel, yang terpenting kini pria itu mau bertanggung jawab.
Perjanjian?
Sudahlah, Jessi tak ambil pusing dengan ucapan Axel barusan.
Badannya terasa pegal karena habis melakukan perjalanan jauh. Ia memutuskan untuk pergi beristirahat ke kamar.
"Wahh" lagi-lagi ungkapan kekaguman keluar dari mulutnya saat melihat kamar yang akan di tempatinya itu.
Kamar dengan nuansa abu-abu, ranjang berukuran kingsize, satu sofa single yang berada di pojok ruangan, dan yang paling utaman adalah pemandangan kota New York yang bisa di lihatnya dari sini.
"Tck, aku pasti akan sangat betah berada di sini."
Jessi memutuskan untuk membereskan pakaiannya terlebih dahulu. Ia mencari diamana letak lemari yang akan di gunakannya untuk menyusun pakaian, akan tetapi ia tak menemukannya.
Ia hanya melihat ada dua pintu di bagian pojok ruangan. Ia mencboa membuka pintu yang berwarna putih.
Ah, ternyata ini kamar mandinya, luas sekali.
Ia kembali menutup pintu kamar mandi, lalu beralih ke pintu yang setunya, yaitu pintu geser berbahan kaca.
"Pantas aku tak menemukan lemari, ternyata Axel menyimpan bajunya di sini." Jessi berjalan memasuki walk in closet.
"Hanya ada beberapa potong? Apa diaa jarang tinggal di sini? Ah, mungkin dia punya rumah sendiri." Ujarnya saat mendapati walk in closet milik Axel yang hanya berisi bebepara potong pakaian, yang mungkin harganya setara dengan gajinya sebulan atau bahkan lebih.
Jessi segera mengatur pakaian usangnya, di samping pakaian Axel yang bermerek.
Setelah selesai dengan pakaiannya, Jessi melanjutkan aktifitasnya untuk membersihkan badan yang terasa lengket, lalu pergi untuk merebahkan badannya di kasur.
°°°°°
"Ax? Apa gadis itu memang pembantumu?" Tanya sang manajer pada Axel.
Kini, Axel dan Herry sedang berada di dalam ruangan milik Herry. Seperti sebelumnya, Axel mengatakn bahwa ia akan mengunjungi Herry untuk membahas masalah pekerjaan. Dan di sinilah dia dengan pertanyaan Herry yang tidak ada dengan kaitannya pekerjaan.
"Ya, kenapa?" Axel balik melemparkan pertanyaanya pada Herry, sambil menggenggam gelas yang berisi cairan berwarna bening.
"Jangan terlalu banyak minum Ax." Herry mencoba memperingati Axel.
"Aku hanya pensaran mengapa kau tiba-tiba membawa seorang gadis yang pasti kau tak tau asal-usulnya lalu menjadikannya pembantumu. Padahal jika kau ingin, aku bisa mencarikan pembantu yang jelas untukmu." lanjutnya.
"Jangan ikut campur urusanku Herry, bukankah sudah jelas ku katakan jika dia adalah pembantuku?" Inilah yang paling di benci Axel dari Herry.
"Tapi aku manajermu Ax, aku berhak tau." Tegas Herry
"Dan aku juga butuh privasi!" Ujar Axel penuh penekanan.
"Sudahlah Ax, tak apa jika kau tak ingin memberitahunya. Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak menghancurkan masa depanmu sendiri karna gadis itu."
"Akan kulakukan tanpa kau minta."
"Ya. Lakukan itu."
"Sekarang mari kita bahas hal mengenai tujuan utama pertemuan ini."
Hery dan Axel melupakan gadis yang sebelumnya menjadi topik pembicaraan mereka. Mereka membahas topik utama dari alasan pertemuan mereka, yaitu mengenai konser Axel yang akan di selenggarakan kurang dari seminggu lagi.
°°°°°
Setelah beberapa jam membahas masalah konser dengan Herry hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam, axel segera kembali dan menuju ke apartemen dimana ia meninggalkan seorang wanita yang kini akan menjadi tanggung jawabnya.
Axel masuk kedalam apartemennya dengan kondisi yang gelap.
Klekk
Ia menyalakan lampu. Matanya memandang keseluruh bagian apartemen, tapi tak menemukan sosok yang sedang di carinya.
Kemana wanita itu?
Tak sengaja matanya memandang pintu berwarna coklat. Ia membawa kakinya untuk melangkah memasuki pintu itu.
Gelap
Suasananya sama seperti saat ia memasuki apartemen tadi.
Axel menyalakan lampu kamar.
Kini ia bisa melihat sosok yang sedang di carinya terbaring di atas kasur yang sering ia tempati saat berada di apartemen ini.
Axel berjalan mendekat ke arah Jessi, yang tengah tertidur pulas. Ia memandang wajah penuh damai milik wanita itu.