Baby From Idol

Baby From Idol
Part 25 Menemukan



HAPPY READING


Aroma dari bermacam-macam jenis coffee serta aneka cake menyeruak menerobos masuk ke dalam indra penciuman Penelop saat memasuki cafe.


Ia melangkahkan kakinya ke dalam dan memilih tempat duduk di dekat pintu, sehingga dapat melihat pengunjung yang keluar masuk cafe.


Penelop sengaja memilih cafe dengan alasan terlalu malas mencari restaurant untuk memesan makanan.


Dengan serius, matanya menelusuri daftar menu yang berada di atas meja.


Rencananya, ia hanya akan memesankan beberapa jenis cake untuk Herry, yang mungkin cukup untuk mengganjal rasa lapar pria itu.


Namun, ternyata cafe ini juga menyediakan beberapa jenis makanan dan minuman selain coffee dan cake.


Pilihannya jatuh pada makanan berbahan pasta yang terlihat menggugah selera.


Setelah menentukan makanan yang akan di pesan, Penelop mengedarkan pandangannya mencari pelayan cafe.


Sepertinya semua terlihat sibuk, karena banyaknya pengunjung cafe.


"Sangat ramai. Pasti makanan di sini tidak akan mengecewakan."


Sambil menunggu pelayan yang akan datang menghampirinya, ia memperhatikan konsep yang di gunakan cafe tersebut. Dengan mengangkat tema garden yang sangat cocok dengan letaknya yang strategis, yaitu berada dekat dengan beberapa gedung apartemen, dan perkantoran, membuat suasana terasa sejuk hingga para pengunjung betah berlama-lama di tempat itu.


Saat sedang mengagumi konsep cafe yang di kunjunginya, mata Penelop terpaku pada pintu yang terhubung dengan dapur cafe. Di sana, ia melihat seorang perempuan yang sedang di carinya baru keluar dari pintu itu.


Ia memicingkan matanya untuk lebih memperhatikan apakah penglihatannya bermasalah atau tidak.


"Astaga,, itu benar Jessi."


Sempat bingung karena melihat Jessi yang keluar dari pintu tempat para koki memasak, akhirnya menyadari bahwa wanita itu menggunakan seragam yang sama dengan pelayan cafe. Yang mungkin berarti ....


"Oh Tuhan! Apa dia bekerja di tempat ini?" Tak berhenti dari keterkejutannya melihat Jessi, kini Penelop kembali terkejut dengan Jessi yang menurutnya pasti bekerja di cafe itu.


"Aku tidak menyangka ternyata semudah ini menemukanmu." Matanya menatap lekat Jessi yang sedang berbicara dengan seorang pria yang menggunakan seragam sama dengannya.


"Apa sekarang aku harus berterima kasih pada kakakku heh?"


"Permisi Nona, apa anda ingin memesan sesuatu?" Akhirnya pelayan yang di tunggu pun tiba.


"Oh, tidak. Maaf, aku mendadak ada urusan."


Penelop berjalan meninggalkan cafe, menuju mobilnya.


Pesanan Herry tak sebanding dengan keberadaan Jessi. Ia bisa memesankan nanti untuk kakaknya itu.


Keputusannya sudah bulat. Ia akan menunggu di mobil hingga Jessi pulang, dan mengikutinya diam-diam agar bisa mengetahui di mana tempat tinggal wanita itu.


Lagi pula hari sudah mulai sore dan pastinya tak lama lagi waktu pulang.


Setelaha cukup lama menunggu, akhirnya yang di tunggu pun keluar.


Ia melihat Jessi keluar bersama pria yang mengobrolnya tadi.


Pria itu seperrinya menawarkan tumpangan pada Jessi, dan wanita itu menerimanya.


"Cih, dasar murahan." Mata penelop tertuju pada tangan Jessi yang memegangi perutnya saat menaiki motor.


"Aku tak yakin jika benar itu anak Axel." Penelop menjalankan mobilnya dengan pelan dengan menjaga jarak agar tidak di ketahui mereka.


Motor yang memuat keduanya berhenti di salah satu apartemen cukup mewah.


"Wahh,, apa Axel membelikan ini untuk j*l*ng itu?" Matanya memandang takjub bangunan tinggi itu.


Di lihatnya Jessi memasuki apartemen. Ia segera keluar dari mobil dengan menggunakan masker dan topi.


Ia berjalan lima langkah di belakang Jessi. Dapat dilihatnya wanita itu menekan lift dengan lantai paling tinggi.


Jessi memasuki lift itu, di ikuti dengan Penelop yang berjalan sambil membenarkan letak topi dan masker yang di kenakan.


Jessi mentap aneh gadis yang sekarang berada di sampingnya. Dilihat dari tubuh dan rambutnya, gadis itu terlihat begitu familiar di matanya.


Ia mengabaikan gadis itu.


Tingg ....


Pintu lift terbuka. Di lantai teratas gedung itu hanya ada 3 apartemen. Yang di huni oleh sepasang suami istri beserta anak balitanya, seorang lelaki paruh baya, serta dirinya.


Jessi berpkiri mungkin gadis itu adalah cucu dari lelaki paruh baya yang berada di lantai yang sama dengannya. Atau mungkin dia saudara dari sepasang suamj istri itu.


Jessi berjalan memasuki apartemen, tanpa menghiraukan gadis itu.


Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang.


"Apartement Xx, lantai teratas di kamar nomor Xx.


Jangan lupakan bonusku."


Isi pesannya.


Tak menunggu lama, ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk.


Penelop mengangkatnya. Akan tetapi ia diam membiarkan si penelepon berbicara duluan.


"Apa kau tidak menipuku dengan memberikan alamat palsu? Kita baru bertemu tadi dan kau sudah menemukannya."


"Aku tidak menipumu Bree. Anggap saja jika Tuhan sedang mendukung rencanamu untuk memberi pelajaran


Padanya." Penelop menjawabnya sambil memasuki lift, dan menuju mobilnya.


"Baiklah. Selebihnya menjadi urusanku. Akan kukirimkan bonusnya padamu." Breeana memutuskan panggilannya.


"Jessi, Jessi. Kita tunggu apa yang akan di lakukan Breena pada j*l*ng seprtimu." Ia membayangkan betapa sadisnya perlakuan Breeana nanti pada Jessi.


Penelop menatap sekilas apartemen itu, lalu melajukan mobilnya untuk pulang.


Tanpa ia sadari, dirinya melupakan sesuatu yang penting.


°°°°°


Penelop memasuki rumah dengan raut wajah sumringahnya.


"Kira-kira bonus seperti apa yang akan di berikan Gadis Angkuh itu padaku."


"Kenapa lama sekali?" Tanya Herry mengejutkan Penelop yang tidak menyadari keberadaanya.


"Kakak! Kau membuatku terkejut!" Penelop mengusap-usap dadanya menormalkan detak jantung.


"Di mana makananku? Apa kau tidak tahu aku menunggumu berjam-jam dan hampir mati kelaparan." Herry menatap datar adiknya.


Wajah Penelop memucat seketika.


Dia melupakan hal itu. Harusnya ia membeli makanan untuk Herry saat dari apartemen tadi.


Semua gara-gara wanita itu hingga dia bisa melupakannya.


"Maaf, aku lupa." Lirihnya.


"Apa?!" Herry menatap nyalang adiknya itu.


"Maaf, tadi ada sesuatu hal yang sangat penting tak bisa kulewatkan." Menjadi kebiasannya meremas tangan saat sedang gugup.


"Hal penting apa yang membuatmu sampai lupa dengan makananku Penelop? Apa kau mau membuatku mati lapar?!"


"Akan kupesankan makanan untuk Kakak dulu baru akan kuceritakan semua."


Ia segera memesan makanan secara online untuk Herry. Ia terlalu lelah jika harus keluar langsung dan mencarinya.


Setelaha memsan makanan, Penelop berjalan ke arah sofa di ikutu Herry.


"Apa yang akan kau katakan?" Herry memulai pembicaraan yang di awali dengan pertanyaan.


"Aku tadi bertemu dengan Breeana untuk memberitahu dan membahas masalah Axel. Lalu dia memberiku tugas untuk mencari tahu di mana tempat tinggal Jessi. Dan saat kau menelopon tadi, aku memutuskan untuk membeli makananmu di cafe yang berada tak jauh dengan posisiku. Mungkin ini hari kebeeuntunganku. Aku melihat Jessi di cafe itu. Seperrinya dia bekerja di sana. Aku memutuskan menunggunya pulang dan mengikutinya. Ternyat dia tinggal di apartemen yang cukup mewah. Hal ini langsung kuberitahu pada Breeana karena dia mempunyai hak lebih untuk memberi pelajaran pada j*l*ng itu. Biar ini menjadi urusan mereka berdua." Jelasnya panjang lebar.


"Kenapa kau memberitahu hal ini pada Breeana." Herry tentu tau dengan jelas bagaimana sikap Breeana.


"Dia pantas untuk mengetahuinya."


"Bagaimaba jik-"


"Sudahlah Kakak," Penelop memotong ucapan Herry.


"Biar ini menjadi urusan mereka. Kita hanya perlu menunggu hasil tanpa harus bersusah payah ikut kedalamnya."


Herry diam mendengar ucapan adiknya itu.


"Aku mau mandi. Badanku sangat gerah. Kakak tunggu saja pesanannya."


Penelop berjalan sambil bersenandung kecil memasuki kamarnya, merayakan kebahagiaan kecilnya.