
HAPPY READING
"K-kak Axel ..." Briana makin dibuat gemetar.
Mark semakin gemas dan kesal melihat tingkah putrinya ini. Mereka dibuat penasaran olehnya.
Memangnya ada apa dengan Axel, hingga wajah Breeana tersirat rasa takut dan gugup saat ingin berbicara.
Kurang lebih begitu yang ada di pikiran Mark dan Ara.
"Dia ... mm, menyembunyikan perempuan." Breeana menunduk dalam usai mengatakan itu.
"Apa maksudmu Bree?" Ara beratanya pada anaknya. Dipikirnya, mungkin ia salah dengar tadi atau Breeana sedang bergurau mungkin.
"Kak Axel membawa perempuan daru Spanyol saat terakhir melakukan konser di sana. Perempuan itu sedang hamil dan di sembunyikannya di apartemen miliknya yang yang tidak kita ketahui." Entah kenapa, saat mengatakan kalimat panjang itu Breeana jadi tak segugup seperti sebelumnya.
"Lelucon apa yang sedang kau coba katakan ini Bree?! Jangan mengada-ngada dan menuduh kakakmu yang tidak-tidak." Meskipun Ara sangat memanjakan anaknya itu, tapi dia juga tidak akan membiarkan anaknya yang lain di tuduh seperti itu. Ia menyayangi keduanya dengan porsi yang sama tanpa di lebih dan kurangkan.
Sedangkan Mark, pria berumur pertengahan empat puluh tahun yang masih terlihat muda itu, hanya diam menyimak meskipun benaknya di penuhi banyak pertanyaan.
"Aku berkata jujur Mom, Dad." Ujarnya menatap Mark dan Ara bergantian.
"Tapi -"
Mark meyentuh bahu istrinya memberi kode.
"Dengarkan dulu ucapan Breeana sayang," seolah terhipnotis dengan pandangan teduh milik suaminya, mau tak mau Ara membiarkan Breeana menjelaskan semua ini dulu barulah ia akan berbicara.
Tatapan Mark beralih menatap Breeana, memberi kode jika anaknya itu bisa melanjutkan pembicaraannya.
Dengan tampang yang serius karena ingin di percaya, Breeana mulai menceritakan semua yang memang harus ia ceritakan pada orang tuanya.
"Awalnya aku tidak percaya dengan yang di katakan Penelop. Tapi setelah mendengar jika ia mendapatkan berita itu dari kakaknya dan itu di ceritakan langsung oleh kak Axel pada Herry, barulah aku sedikit percaya."
"Penelop mengatakan jika sehari sebelum mereka kembali ke New York, ada seorang wanita yang datang menemui kak Axel, dan berbicara dengannya di hotel. Hanya mereka berdua, bahkan Penelop di suruh untuk keluar agar tidak mendengar pembicaraan itu. Dan mungkin isi dari pembicaraan mereka pasti tidak jauh-jauh dari wanita itu mengakui kehamilannya. Karena setelahnya, kakak membawa wanita itu bersama mereka."
Breeana mengehentikan sejenak biacaranya untuk melihat ekspresi kedua orang tuanya.
Dapat dilihatnya Ara yang terkejut mendengar penjelasannya, dan beberapa kali menutup mulut menahan kejut.
Sedangkan Mark?
Ayahnya itu terlihat begitu tenang mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Tapi dia tahu, dibalik ketenangan Mark, tersimpan kemarahan yang begitu besar pada kakaknya.
Meskipun enggan, Breeana kembali melanjutkan lagi penjelasannya.
"Bree menyuruh Penelop untuk mencari tahu di mana tempat wanita itu tinggal. Bree ingin melihat dan membuktikannya secara langsung, karena sangat sulit untuk percaya tanpa ada bukti atau melihat langsung kebenarannya, apalagi ini menyangkut kak Axel yang sangat tidak mungkin hal seperti ini terjadi padanya. Tapi entah keberuntungan atau apa, beberapa saat setelah pulang dari pertemuan dengan Penelop, dia menghubungiku jika dia sudah menemukan tempat tinggal wanita itu karena tak sengaja bertemu dan dia mengikutinya hinggga pulang."
"Mom ingat? Kemarin saat kau bertanya aku akan kemana dan aku menjawabnya keluar bersama temanku, itu sebenarnya bohong. Yang benar adalah aku akan pergi ke alamat yang di kirimkan Penelop. Maaf karena sudah berbohong."
"Alamat itu ternyata adalah alamat apartemen yang mewah. Dan tempat tinggalnya berada di lantai paling atas yang hanya diisi beberapa unit apartemen saja di sana."
"Di apartemen itu aku melihat seorang wanita yang di maksud, dengan perutnya yang mulai membesar. Aku sempat melampiaskan kemarahanku padanya. Bree sangat yakin dia sengaja menjebak kak Axel." Ujar Breeana berharap kedua orang tuanya sepemikiran dengannya
Breeana mengalihkan pandangannya pada Ara.
"Apa Mom ingin tahu siapa wanita itu?" Mendengar pertanyaan Breeama, Ara menunjukkan tatapan rasa keingintahuannya.
"Wanita yang sama yang menumpahkan coffe di bajuku."
Mata Ara membulat.
"Pelayan rendahan yang kau katakan itu?" Suaranya sedikit meninggi saat mengatakannya.
Breeana mengangguk antusias membenarkan ucapan mommynya.
Mark menatap bingung pada anak dan istrinya.
"Apa kalian sudah mengenal wanita itu sebelumnya?"
"Tidak Dad, hanya saja waktu itu Bree tidak sengaja sempat betengkar dengannya karena ulahnya yang ceroboh saat meletakkan coffee membuatnya tumpah kebajuku." Mark hanya mengangguk. Dari sini dia tahu jika wanita itu adalah seorang pelayan, seperti yang di maksud istrinya.
Heh! Tidak sengaja katanya?
"Beraninya dia" Nafasnya tak beraturan. Ara mengepalkan tanganya menaham geraman.
"Kita harus memberinya pelajaran."
"Tenanglah dulu," Mark akhirnya buka suara.
"Kita tunggu Axel untuk masalah ini. Tunggulah sampai dia menyelesaikan konsernya dan minta dia untuk menjelaskannya."
"Apa Daddy tidak percaya dengan apa yang ku katakan?"
"Akan lebih bagus jika kita mendengar langsung dari yang bersangkutan."
Perkataan yang terdengar mutlak dari Mark tidak bisa di bantah oleh keduanya.
Mau tidak mau, Ara dan Breeana harus menahan rencana yang sudah terbesit di benak keduanya terhadap wanita itu, sampai mendengar langsung kejelasannha dari Axel.
Mark beranjak dari duduknya.
"Dengarkan ucapanku tadi. Jangan melakukan apapun sebelum Axel datang." Selesai memberi peringatan itu, Mark pergi menuju ruang kerjanya.
Ia ingin menenangkan pikirannya di sana. Fisiknya saja yang terlihat tenang, tapi tidak dengan batinnya yang kacau. Ia tidak pernah percaya jika semua ini akan terjadi.
Sejujurnya dia percaya dengan ucapan putrinya. Mark tahu, jika Breeana sama dengannya yang tidak akan langsung percaya pada sesuatu tanpa membuktilannya.
Dan putrinya itu sudah membuktikannya. Tapi, ia ingin mendengar semua ini langsung dari Axel. Ia ingin Axel yang menceritakannya pada mereka semua.
Sedangkan di ruang keluarga, Ara dan Breeana masih duduk di sana dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Apa yang akan Mommy lakukan?"
Breeana membuka suaranya.
"Tentu saja mommy harus memberi pelajaran pada wanita itu. Berani-beraninya dia menjebak kakakmu."
"Aku setuju. Lagi pula, belum tentu bukan jika itu anak kak Axel."
"Apa yang kau pikirkan sama dengan isi pikiran mommy. Mommy tidak akan biarkan Axel terikat dengannya"
Breeana menganggukkan kepalanya setuju.
Tatapan Ara lurus kedepan. Dengan senyum misteriusnya, dia berujar
"Sabarlah Bree, kita bisa melakukan apa yang sama-sama sedang kita pikirkan. Kita hanya perlu menunggu kakakmu pulang untuk menjelaskannya. Mommy yakin Axel pasti tidak akan keberatan dengan rencana kita nanti."
Breeana terkekeh melihat sorot mata tajam milik mimmynya.
"Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu."