
HAPPY READING
Jessi memincingkan matanya menatap pria disampingnya ini.
"Apa kau menguping pembicaraanku?"
"Telingaku masih cukup berfungsi untuk bisa mendengarnya." Ujar Axel yang menatap fokus kedepan, tanpa mengalihkan pandangannya ke samping.
Jessi diam menghela nafas.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai ke rumah sakit tempat melakukan check up kehamilan.
Axel segera keluar dari mobil, berjalan meninggalkan Jessi tanpa mau repot-repot membukakan pintu untuknya.
Kini mereka tengah mengantri untuk menunggu giliran pemeriksaan. Jessi yang duduk dengan tenang sambil memperhatikan ibu hamil lain, yang di temani suaminya. Tatapannya terpaku pada ibu hamil yang berada di depannya. Wanita itu tampak kesusahan dengan perutnya yang buncit.
Pasti tinggal menghitung hari.
Sedangkan pria disamping wanita itu, yang kemungkinan adalah suaminya, sibuk mengelus-elus perut wanita itu.
Huft, sungguh beruntung sekali.
Jessi mengalihkan tatapannya dari pemandangan di depannya, dan beralih menatap kearah Axel, yang berada disampingnya.
Terlihat Axel yang sibuk dengan ponselnya sambil sesekali melirik ke sana ke mari, sembari memperbaiki letak kacamata, masker, dan topi yang di kenakannya, takut jika ada yang mengenali identitasnya.
Jessi menghela napasnya. Bagaimana bisa dia membayangkan pria di sampingya ini adalah pria yang di depannya, dan dirinya adalah si wanita beruntung itu.
Sangat tidak mungkin.
"Hei, kau bilang kita tak akan mengantri." Bisik Axel pada Jessi.
"Aku tak bilang kita tak akan mengantri. Kita akan tetap mengantri, tapi tak selama saat aku dan El mengantri."
"Huh, pria itu lagi." Dengus Axel saat mendengar nama yang barusan Jessi sebut.
Selang beberapa saat kemudian, setelah mengantri kurang lebih 15 menit, kini tiba giliran Jessi untuk pemeriksaan.
"Silahkan berbaring Mrs.Carrola," ujar sang Dokter, dan Jessi mengikutinya.
"Maaf, apa Anda suami dari Mrs. Carrola?" Tanya si dokter sambil melihat penampilan Axel.
Jessi membelalakkan matanya mendengar itu. Sedangkan Axel? Ia mengernyit bingung dengan pertanyaan itu.
"Bu-bukan. Dia hanya temanku" Jessi segera menjawab pertanyaan dokter dengan menggelengkan kepalanya.
"Ah, maaf. Kukira dia suami Anda,"
"Padahal akan lebih bagus jika anda datang bersama suami. Kalian pasti akan senang bisa melihat pertumbuhan calon bayi kalian." Jessi hanya meringis pelan mendengar saran dari dokter di depannya.
ya, dia bukan suamiku, tapi dia ayah bayi ini. Sama saja, walau dia disini dia pasti tak akan peduli dengan perkembangan bayi ini.
"emh,, aku belum menikah." Ujar Jessi meringis pelan. ya, walaupun disini itu hamil di luar nikah itu sudah biasa, tapi tetap saja ia merasa malu.
"ah, maafkan aku Miss, kukira kau sudah,"
"tak apa, santai saja."
Dokter menyingkap hoodie yang digunakan Jessi, dan terpampanglah perutnya yang sudah mulai membuncit. Ia mulai meletakkan gel di atas perut Jessi, untuk melakukan ultrasonografi (USG).
Axel di samping Jessi hanya diam melihat apa yang sedang di lakukan dokter itu.
"Jadi Miss, apa ada keluhan dengan kandungannya?"
"Engh, aku hanya sering merasakan pusing, kram kaki, sakit punggung dan terkadang hidungku sering tersumbat."
"Itu hal wajar sering terjadi pada ibu hamil yang usia kandungannya mulai memasuki tri semester kedua. Mereka akan lebih sering merasakan gejala itu karena pengaruh hormon kehamilan." ujar si dokter mencoba menjelaskan.
Jessi hanya menganggukan kepalanya, pertanda ia paham.
"Lihatlah titik keci di layar monitor itu. Itu adalah bayi kalian. Di usia seperti ini, berat dan panjangnya akan bertambah," "Anda bisa mendengar detak jantungnya mMiss."
Deg deg deg
Jessi terpaku mendengar suara detakkan yang berasal dari monitor.
Matanya berbinar membayangkan itu adalah suara detakkan jantung janinnya.
"Apa aku sudah bisa melihat jenis kelaminnya dok?" Tanya Jessi penuh harap.
Wanita berjas putih itu tersenyum mendengarnya.
"Belum miss, anda baru bisa melihat jenis kelaminnya saat kandungan anda berusia 4,5 bulan atau 5 bulan."
"Ah begitu ya, kukira sudah bisa."
"Baiklah Miss, ini sudah selesai. Saya akan meresepkan obat dan vitamin yang akan anda minum, dan anda bisa menebusnya di apotek." Ujar sang dokter, lalu segera membereskan kembali peraltannya seperti semula, lalu segera mersepkan obat, sesuai perkataannya.
Jessi dan Axel mengikutinya.
Setelah dari rumah sakit melakukan pemeriksaan, dan mengambil obat dan vitamin sesuai resep dokter di apotek, Axel dan Jessi segera kembali ke apartemen.
Tak ada percakapan di antara keduanya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di apartemen. Jessi segera masuk ke kamar untuk menaruh tas dan obat serta vitaminnya.
Jessi keluar dari kamarnya, dan mendapati Axel yang tengah duduk di sofa depan televisi, dan lagi-lagi sibuk dengan ponselnya. Jessi mendekat ke arah Axel.
"Axel,"
Pria itu diam tak merespon. Ia sibuk dengan benda pipih di genggamannya
"Terima kasih sudah mau menemaniku untuk melakukan check up." Jessi mengucapkannya dengan senyum yang tulus.
Axel mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap ke arah Jessi.
"Jangan terlalu senang. Itu hanya bentuk dari tanggung jawab. Ini yang pertama dan terakhir kalinya aku melakukan ini. Kedepannya aku tak mau di repotkan bayi itu."
Tanpa di sadari, ucapannya barusan begitu menusuk hati wanita di depannya.
"Tapi dia juga bayimu." Ujar jessi menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan tangis.
Axel beranjak dari duduknya.
"Itu. Bukan. Bayiku." Ia mengucapkannya dengan penuh penekanan, lalu pergi meninggalkan wanita itu sendirian di apartemen.
Air mata menetes di pipinya. Jessi segera mengusapnya lalu tersenyum.
"Tenanglah, jangan sedih. Daddymu hanya butuh waktu agar ia bisa menerimamu." Ia mengusap perutnya, seolah sang bayi di rahimnya bisa mendengarnya.
Drttt drttt ...
Drttt drttt ...
Ponselnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Jessi melihat nama yang tertera di layar ponselnya. 'Boy friend' ia terkekeh melihat nama itu. Itu adalah Karin. Ia sengaja menamai kontak sahabatnya seperti itu. Begitu pula sebaliknya.
Oh ya, sudah cukup lama Jessi tak berkomunikasi dengan sahabatnya itu.
Ia segera menggeser panggilan itu ke warna hijau.
"JESSI!!" Ia segera menjauhkan ponselnya dari telinga, begitu mendengar suara teriakkan di sebrang sana.
"Hei tak bisa kah kau tak berteriak" gerutunya pada Karin.
"Kau tau?, aku sangat merindukanmu. Aku pergi ke rumahmu dan bibi mengatakkan kalau kau sudah bekerja di Madrid. Kenapa kau tak mengatakannya padaku huh? Apa aku masih sahabatmu atau kau sudah menemukan yang lain disana? Jawab hei!"
Jessi hanya terkekeh mendengar pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan sahabatnya itu.
"Bisakah kau bertanya satu-satu, aku pasti akan tetap menjawabnya."
"Kau tau, aku juga sangat merindukannmu. Dan ya, aku sekarang pindah ke Madrid untuk bekerja. Aku tak sempat mengatakannya padamu karena saat itu kau sangat sibuk dengan kuliahmu, dan aku tak mau mengganggunya. Aku juga sangat sibuk dengan pekerjaanku. Dan satu lagi, kau satu-satunya sahabatku yang tak tergantikan. Ketahuilah, kau itu spesies langkah." Jessi mencoba menjelaskannya, agar
Karin percaya dengan yang di katakannya.
"Heh! Spesies langka? Kau kira aku hewan?"
"Kau anjing kesayanganku Karin."
"Kau?! Lihat saja nanti, aku akan ke Madrid dan mencekikmu"
"Hahah,, maafkan aku."
"Ah ya Jess, kau bekerja di mana? Siapa tahu aku bisa mampir ke tempatmu saat aku mengunjungi bibi Helen."