Baby From Idol

Baby From Idol
Part 8 Garis Dua



HAPPY READING


Sudah dua minggu lebih semenjak kejadian 'itu' menimpa Jessi.


Ia sudah mencoba untuk mulai melupakannya, meskipun selalu teringat bayang-bayang Axel saat Karin sering bercerita tentang Axel ketika mereka berdua bertelepon.


Semenjak pulang dari Madrid, Karin dan Jessi sudah tak pernah bertemu lagi. Jessi yang sibuk dengan pekerjaannya dan Karin yang juga sibuk dengan kuliahnya. Mereka berdua hanya bertukar kabar melalui panggilan yang sering mereka lakukan di waktu senggang.


Dan hingga saat ini, Jessi belum memberitahu siapa-siapa tentang kejadian itu. Biarlah itu hanya menjadi rahasianya dan Axel.


"Jess?" Panggi Ley salah satu teman kerjanya di cafe.


Jessi menoleh menanggapi panggilan Ley.


"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat." Ujar Ley yang melihat kondisi Jessi.


"Ah tak apa. Aku baik-baik saja."


"Benarkah?" tanya Ley memastikan


"Jika kau merasa tak enak badan istirahat saja dulu. Biar aku yang mengerjakan pekerjaanmu."


"Aku tak apa-apa Ley. Lanjutkan saja pekerjaanmu, masih banyak pelanggan diluar sana. Mr. Ten akan marah jika melihat kita mengobrol disaat sedang sibuk seperti ini." Kata Jessi yang memang mereka sangat sibuk karena Cafe hari ini sangat banyak pengunjung.


"Baiklah."


Jessi merasa ada yang salah dengan tubuhnya akhir-akhir ini. Ia lebih sering cepat lelah, dan mual di pagi hari. Penciumannya juga menjadi sensitif saat mencium bau. Entah itu bau makanan atau parfum.


Bukannya tak tahu dengan gejala apa yang sedang di alaminya. Hanya saja Jessi sering menepis pemikiran itu. Ia berpikir mungkin ini efek karena terlalu lelah.


°°°°°


Hari ini adalah hari yang buruk bagi Jessi.


Ini sudah yang kesekian kalinya ia bolak-balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Sejak pagi tadi ia sudah merasa mual.


Beruntung hari ini hari minggu, ia libur bekerja.


Ibunya pun heran dengan kelakuan sang anak yang bolak-balik kamar mandi.


"Jess? Apa kau sedang kurang sehat?" Tanya Ibu.


"Mungkin hanya masuk angin karena semalam lembur."


Ya, semalam cafe tempat Jessi bekerja memang sedang lembur.


"Apa kau sudah minum obat?"


"Belum Bu, aku baru akan pergi membelinya."


"Apa perlu aku suruh Chesa  membelikannya untuk mu?" Tanya Ibu lagi dengan maksud menyuruh sang adik untuk pergi membeli obat.


"Tak apa Bu, Jessi masih bisa pergi membelinya sendiri."


"Ah baiklah, kalau begitu cepatlah kembali dan minum obatmu lalu segera istirahat."


"Baik, Jessi pergi dulu."


Jessi memang tak mau adiknya yang pergi membeli obat. Bukan apa-apa, hanya saja Jessi juga ingin membeli sesuatu untuk memastikan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


°°°°°


Tangannya gemetaran setelah melihat hasil dari tespek yang habis di gunakannya yang ia beli bersamaan dengan obat di apotik tadi.


Ia tak menyangka apa yang menjadi ketakutannya akhir-akhir ini benar terjadi.


Ya, hasil dari test pack yang di gunakannya menunjukkan dua garis, yang berarti positif hamil.


Perlahan-lahan, tubuhnya yang bersandar di dinding kamar mandi mulai merosot. Ia menangis.


Dirinya bingung apa yang harus di lakukannya sekarang?


Tidak mungkin ia memberitahu orang tuanya mengenai hal ini. Mereka pasti akan sangat kecewa padanya.


Mau melapor di kantor polisi dan


Memberitahu bahwa ia adalah korban pemerkosaan dan hamil anak dari seorang Idol terkenal saat pergi ke Madrid beberapa waktu lalu.


Sangat tidak mungkin bukan? Yang ada mereka menganggapnya gila karena sudah mengaku-ngaku hamil anak dari seorang Idol yang sedang naik daun.


Lantas apa yang harus di lakukannnya?


Apa ia harus memberitahu hal ini pada orang yang sudah menyumbangkan benihnya di rahimnya?


Tapi bagaimana? Ia tak punya nomor ponsel Axel. Memangnya siapa dirinya yang bisa punya nomor ponsel orang seperti Axel?


Tak mungkin juga jika ia mengirim pesan di akun instagram Axel dengan mengatakan


'hei Axel! ini aku. Gadis yang kau lecehkan malam itu. Aku sedang hamil anakmu!'


Bodoh!!


Bukan mendapat balasan, yang ada mungkin pesannya hanya akan menumpuk di antara ribuan pesan penggemar dari Axel.


Astaga, di saat seperti ini pun Jessi masih sempat berpikir seperti itu.


Bagaimana jika ia kembali ke madrid saja?


Mungkin saja Axel masih berada di sana. Ya, dia harus ke Madrid lagi untuk mencoba mencari Axel dan memberitahukan hal ini padanya.


Semoga saja Axel masih ada disana walaupun harapannya kecil.


°°°°°


Axel kini mulai menikmati istirahatnya dengan tenang. Ayahanya sudah tak menghubunginya lagi sejak tetakhir kali menghubunginya dengan ancaman.


Ia juga sudah melupakan kejadian beberapa waktu lalu, karena menurutnya itu hanyalah kejadan yang tak di sengajakan.


Padahal ia juga sudah mengantisipasi jika wanita itu benar- benar membawa masalah mereka ke publik. Ia akan membayar wanita itu untuk tutup mulut. Berapapun yang di mintanya.


Drtt,, drtt


Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk


Tanpa melihat si penelepon, Axel langsung mengangkatnya.


"Hallo Ax?" Ternyata itu dari Herry


"Ya." Jawabnya singkat


"Kau tidak lupa bukan? Waktu istirahatmu tinggal 3 hari lagi bukan? Kau harus segera kembali ke New York untuk persiapan konsermu selanjutnya."


"Tentu saja tidak! Kau selalu meneleponku tiap hari dengan menghitung sisa hari liburku."


Kesalnya pada sang manajer yang terus menghubunginya setiap hari.


"Aku melakukannya hanya untuk sekedar mengingatkanmu Ax." Jawab Herry di seberang sana.


"Cih"


"Aku akan menyuruh penelop untuk membereskan barang-barangmu nanti Ax"


"Dan ... apa selama di Madrid kau membuat masalah Ax?" Lanjut Herry


Mendadak ingatan Axel terlempar ke kejadian hampir tiga minggu yang lalu.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Baiklah." "Gunakan sisa waktumu sebaiknya Ax, ada banyak pekerjaan menantimu didepan dengan waktu libur yang tak di tentukan"


"Hmm" gumamnya lalu memutuskan panggilan sepihak.


Axel menyudahi acara bersantainya.


Ia menggantinya dengan berlatih, untuk persiapan sebelum acara konsernya nanti.


Meskipun sedang istirahat, ia juga menggunakan waktunya untuk berlatih. Setidaknya ia bisa mengusir rasa bosannya karena keseringan tidur, dengan berlatih.


°°°°°


Jessi sedang membereskan pakainnya. Ia sudah memutuskan untuk pergi mencari Axel di madrid. Semoga saja pria itu masih disana, walaupun ia ragu karena ia tau bahwa Axel memiliki jadwal yang padat.


Namun tak apa bukan pergi langsung untuk mengeceknya dari pada nanti ia menyesal karena tidak mencobanya.


"Kau mau kemana Jess?" Tanya Ibu melihat Jessi yang membereskan pakaiannya.


"Uhmm,, i-itu Bu, aku ingin ke Madrid." Jawabnya gugup.


"Lagi? Bukankah kau baru saja dari Madrid beberapa waktu lalu?."


"Ya Bu, tapi kali ini masalah pekerjaan. Mr. Ten menyuruhku ke Madrid untuk mengurus sesuatu di cafenya yang ada disana."


Berbohong lagi. Jessi sudah tak tau berapa kebohongan yang dibuatnya.


"Apakah harus kau?."


"Iya. Sebenarnya Mr. Ten yang akan pergi tapi karena dia sibuk, ia menyuruhku untuk mengantikannya."


"Apa kau hanya sendiri?" Tanya Ibu lagi.


"Iya"


"Oh tuhan Jessi, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu disana dan hanya kau sendiri yang menghadapinya?"


Jessi hampir menangis mendengar ucapan Ibunya.


Ibunya begitu khawatir padanya. Tapi yang dilakukannya adalah mengecewakan sang Ibu dengan kebohongannya.


"Tak apa Bu, aku sudah besar. Lagi pula aku hanya sebentar disana."


Iya mencoba meyakinkan Ibunya.


"Yasusah. Tapi kau harus janji untuk segera mengbubungi ibu jika sesuatu terjadi padamu."


"Baiklah Bu,"


"Kapan kau akan pergi? apa kau menginap disana? Dan dimana kau menginap nanti?" Pertanyaan Ibu beruntun.


"Hh, Ibu ini" kekehnya karena pertanyaan ibu


"Aku akan pergi siang nanti Bu. Aku akan menginap disana ditempat yang sudah Mr. Ten sediakan."


Ia mencoba menjawab pertanyaan Ibu.


Bohong.


Tentu saja ia menginap disana menggunakan uang tabungannya.


Tidak mungkin jika Mr. Ten menyediakannya karena itu hanya bohongan semata agar ibunya percaya.


Nyatanya ia meminta waktu libur beberapa hari pada Mr.Ten dengan alasan kesehatannya. Dan Mr. Ten mengijinkannya karena percaya dengan ucapan Jessi yang di dukung dengan penampilannya yang pucat kemarin.


"Mr. Ten sudah menyiapkan semuanya?"


"Iya Bu"


"Baiklah kalau begitu."


"Hati-hati di saat jalan nanti.


Ibu akan pergi ke kebun dulu menyusul ayahmu. Nanti akan ibu katakan padanya." ucap ibu.


Jessi menaggapi ucapan Ibu dengan menganggukkan kepalanya.