Baby From Idol

Baby From Idol
Part 30 merona?



HAPPY READING


"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini El." Ujar Jessi saat sudah di depan pintu apartemennya.


"Berhentilah mengucapkan itu Jess."


Jessi terkekeh melihat temannya itu menggerutu sebal.


"Ya sudah, aku masuk dulu. Sudah sana pulang, aku mau istirahat." Jessi hampir menutup pintu, namun El menahannya.


"Tck, inikah balasanmu atas semua kebaikanku?" El mulai berdrama di depan Jessi.


Jessi memutar bola matanya dengan malas.


"Lalu?" Ia mengangkat sebelah alisnya.


"Apa maumu?" Lanjutnya.


El maju beberapa langkah agar lebih dekat dengan Jessi yang masih tertahan di pintu.


Pria itu menatap Jessi penuh misteri sambil menaik turunkan alisnya.


Jessi mengernyit bingung dengan tingkah El.


"Berhentilah menunjukkan ekspresi seperti itu. Kau terlihat seperti orang mesum."


"Apa kau ingin tau apa mauku?" Jarak di antara keduanya makin menipis.


"Ishh ... kau ini. Tadi katamu tidak usah berucap begitu saat aku berterima kasih. Dan sekarang kau justru meminta imbalan padaku. Cepat katakan!" Jessi menggerutu yang membuatnya terlihat semakin manis oleh El.


"Hei Nona, tidak ada yang gratis di dunia ini."


El berucap sambil menyandarkan badannya di pintu, dengan posisi tangan berada di dadanya.


Jessi memanyunkan bibirnya kesal.


"Dasar tidak ikhlas."


El menundukkan badannya sejajar dengan Jessi, yang hanya sebatas dengan dadanya.


Jarak wajah antara keduanya semakin dekat.


Bahkan dengan posisi seperti itu, mereka bisa saling merasakan hembusan napas yang menerpa wajah.


"A-apa maumu?" Jessi tergagap.


El menyentuh pipi Jessi.


"Hei, kenapa dengan pipimu?" Jessi menggigit pelan bibir bawahnya mendengar pertanyaan El. Dia sudah seperti orang yang ketahuan berselingkuh.


Apa pria ini bodoh atau dia memang sengaja menanyakan itu.


Sedangkan El, tahu jika Jessi sedang menahan napas karena gugup dengan posisi seperti ini, hingga berakibat pada pipinya yang terlihat berubah warna.


El mati-matian berusaha menahan tawanya yang sedikit lagi mungkin akan meledak.


Dan Jessi, wanita itu berusaha meredekan degup jantungnya yang semakin menjadi.


"Bisakah kau menjauh dariku?" Jessi mendorong pelan bahu El.


El semakin gemas dengan Jessi yang terlihat salah tingkah.


Tatapan keduanya bertemu. Jessi terlena dengan tatapan El padanya. Ini pertama kali baginya di tatap seperti itu oleh seorang pria.


Tanpa dia sadar,


Cupp


El mengecup pipi kirinya saat ia tenggelam dalam tatapan pria itu.


Seketika kesadaran menerpa dirinya.


"Kau!"


Dengan seunyum puasnya, El lari menuju lift sebelum mendapat amukkan dari wanita hamil itu.


Sebelum lift tertutup, El melambaikan tangannya pada Jessi yang sedang kesal sambil tertawa.


Saat lift sudah benar-benar tertutup barulah Jessi masuk ke dalam apartemennya.


"Tck, pria itu"


Ia berjalan memasuki kamarnya dan merebahkan badan.


"Arghh ... kenapa aku selalu terpikir dengan ciuman itu. Jelas dia hanya ingin menggodaku." Sejujurnya kejadian saat El mengecupnya selalu terbayang di kepalanya.


Ia menatap jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidurnya.


Pukul tujuh lebih dua puluh lima menit.


Ia dan El tadi pulang terlalu lama dari waktu yang di perkirakan. Mereka pulang saat hari sudah mulai gelap.


Sehabis dari taman tadi, El tidak langsung membawanya pulang. Melainkan masih mengajaknya berjaan-jalan menikmati akhir pekan.


El mengajaknya makan di restaurant, lalu pergi mengunjungi tempat hiburan lain seperti wahan permainan.


Tapi mengingat kondisi Jessi saat ini yang sedang berbadan dua, El tidak mengijinkannya untuk mencoba wahana di sana demi keselamatan dia dan babynya.


Mereka hanya berjalan-jalan mengitari tempat itu sambil membeli beberapa cemilan.


Pria itu begitu perhatian padanya. Mereka berdua terlihat seperti pasangan muda yang sedang berbahagia.


Ah, Jessi seketika teringat dengan Axel. Tidak mungkin pria itu mau melakukan seperti yang ia dan El lakukan.


Pria itu hanya mementingkan pekerjaannya, tanpa mau mengetahui keadaan anaknya di sini.


Anda saja jika Axel bersikap seperti El yang begitu perhatian padanya dan kandungannya.


Heh! Bermimpilah kau Jessi.


Ingin sekali ia menutup matanya untuk menuju ke alam mimpi yang sudah menunggunya.


Tapi itu sangat sulit di lakukan dengam keadaannya seperti ini.


Badannya terasa pegal dan lengket.


Ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Mungkin dengan sedikit berendam di air hangat akan membuat tubuhnya rileks, baru setelahnya ia akan tidur dengan nyenyak.


Untung saja saat pulang tadi El kembali mengajaknya untuk mengisi perut, sehingga ia masih merasa kenyang saat ini.


Itu akan cukup sampai esok pagi.


Ya, jika dia tidak akan bangun pada malam hari karena bayinya yang kelaparan.


°°°°°


Hangat sinar mentari menyambut hari yang cerah ini. Pancaran cahayanya membuat siapapun yang melihat tersenyum.


Tapi tidak dengan seorang gadis yang tengah duduk di balkon kamarnya memandang ke arah taman di area belakang mansion.


Breeana.


Gadis itu tengah bimbang dengan keputusan yang akan dibuatnya. Ini mengenai dengan masalah kemarin.


Ia bimbang. Apa keputusannya untuk memberirahu masalah yang di sembunyikan sang kakak pada keluarganya adalaha pilihan yang teapat?


Bagaimana jika Axel akan membencinya karena itu? Bagaimana jika Axel marah padanya? Bagaimana jika ... Arhgg.


Dia sangat menyayangi Axel. Hanya Axellah satu-satunya saudara yang dia punya, dan begitu juga sebaliknya.


Breeana juga yakin jika Axel sangat menyayanginya, dilihat dari sikap perhatian pria itu padanya. Ya ... meskipun terkadang dia sering bersikap dingin pada Breeana.


Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Axel menyembunyikan semua ini.


Ia tak akan membiarkan kakaknya di tipu oleh wanita j*l*ng itu, yang hanya akan menguasai harta mereka.


"Pilihanku pasti sudah tepat. Aku akan memberitahu ini pada daddy dan mommy. Mereka harus tau ini. Urusan belakangan jika kakak akan marah padaku. Yang terpenting, dia tidak akan terikat dengan j*l*ng itu."


Itulah pilihan Breeana. Mungkin dengan memberitahu pada orang tuanya masalah ini akan cepat berakhir, hingga tidak akan berpengaruh pada karir Axel.


°°°°°


"Mom, Dad. Ada yang ingin Bree bicarakan dengan kalian."


Saat ini Mark, Ara, dan Breeana tengah duduk di ruang keluarga mansion mereka, sehabis melakukan kegiatan rutin mereka, yaitu sarapan bersama.


"Apa itu sayang?" Tanya Ara pada anak gadis kesayangannya.


"Ini tentang Kak Axel. Tapi kalian janji tidak akan memarahinya jika aku mengatakan ini pada kalian."


"Ada apa dengan Axel?" Suara Mark terdengar seperti mengintimidasi.


"Terutama Daddy. Daddy tidak boleh marah dengan Kak Axel karena ini." Breeana menegur ayahnya. Mengingat, hubungan antara ayah dan anak itu yang kurang baik.


"Katakan Bree, jangan membuat kami menunggu."


Breeana menggigit bibirnya. Ia bingung harus memulainya dari mana.


Badannya sedikit bergetar karena gugup. Ia meremaa ujung dari dress yang di kenakannya.