
HAPPY READING
"Hikss, Ibu ...." lirihnya yang hampir tak ada suara.
Jessi beranjak dari lantai, pergi ke kamar untuk menenangkan pikirannya. Ia yang semulanya lapar kini sudah tak berselera lagi karena insiden tadi.
Jessi merebahkan badannya di atas kasur dengan perlahan.
"Aw, kepalaku sakit sekali." Ringisnya sambil memegang kepala yang masih terasa berdenyut akibat jambakkan si gadis sombong yang tak di ketahui namanya itu.
"Aku bukanlah seorang j*l*ng. Tapi kenapa Axel dan gadis itu selalu menyebutku dengan kata itu." Bekas air mata yang semulanya sudah mengering, mulai menggenang lagi di pelupuk matanya.
Di saat seperti ini Jessi merindukan kehadiran seseorang yang bisa menjadi sandarannya. Tempat ia akan berkeluh kesa tentang masalah yang di hadapinya.
Dan orang yang bisa menjadi sandaran itu adalah hanyalah Karin dan ibunya.
Jessi teramat merindukan dua wanita itu.
"Ibu, Karin ... kalian sedang apa? Jess rindu kalian." Ia meringkuk seperti janin, dan menyembunyikan wajahnya pada lutut yang ia tekuk.
"Coba saja jika aku tidak pergi menonton konser. Coba saja jika aku tak berbohong pada ibu. Coba saja jika aku tidak bodoh dan menjadi penggemarnya." Coba saja coba saja tapi sudah terlambat. Semua sudah terjadi bukan?
"Seharusnya aku saat ini sedang bekerja di cafe Mr. Ten bersama Ley, untuk mengumpulkan biaya kuliah."
Menyebut nama itu, Jessi jadi teringat dengan orangnya. Apa kabar Ley di sana? Ley cukup baik dan perhatian dengannya. Perempuan itu sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Terakhir ia berhubungan dengan Ley adalah saat ia akan ke New York.
Ia mengirim pesan untuk Ley agar gadis itu menyampaikan pesannya pada Mr. Ten perihal dirinya yang akan berhenti dari pekerjaannya itu.
Jessi tidak menyebutkan dengan jelas alasan keberhentiannya itu. Ia hanya mengatakan jika ia akan pindah keluar kota. Dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya pada Ley, karena sudah mau menjadi temannya selama bekerja.
Huftt ....
Jessi merindukan kehidupannya yang dulu.
"Kenapa aku selemah ini?" Seolah tersadar dengan keadannya, ia mengusap air mata di pipinya.
"Tidak! Aku tidak boleh selemah ini demi bayiku." Menyemangati diri sendiri bukan hal yang buruk bukan?
"Bodoh Jess! Kenapa kau menangis tadi? Itu semakin mempermudahkannya menindasmu."
Jeda sebentar, hingga sesuatu terpikir olehnya.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa dia bisa mengetahui kehamilanku?"
Meskipun awalnya mungkin Breeana tidak mengetahui jika wanita yang sedang di carinya itu adalah Jessi, melihat ia seperti mencari seseorang tadi sebelum pandangannya terarah ke perutnya, tapi Jessi heran dari mana gadis itu bisa mendapatkan informasi mengenai dirinya termasuk tempatnya tinggal.
Ouh, apa mungkin Jessi tidak mendengar dengan jelas jika gadis tadi sempat berkata kakak pada Axel?
"Dari mana lagi kalau bukan dari pria itu." Tuduhan Jessi jatuh pada Axel.
Tapi tuduhan itu tidak sepenuhnya salah bukan?
Tanpa di ketahuinya semua ini memang berasal dari Axel yang memberitahunya pada Herry, lalu Herry mengatakannya pada Penelop, dan Penelop meneruskannya hingga berita ini terdengar ke telinga Breeana. Lalu setelahnya siapa lagi yang akan mengetahui ini.
"Dasar pria sialan! Dia sendiri yang membuat perjanjian tapi dia sendiri juga yang melanggarnya." Tangannya mengepal menahan amarah. Mungkin jika Axel berada di dekatnya, pria itu sudah akan babak belur di hajarnya.
"Arghh ...." Perutnya kembali merasa keram. Mungkin ini karena ia sulit mengendalikan emosi sehingga berakibat pada perutnya.
"Maafkan mommy Nak." Jessi mengusap pelan perutnya.
"Tidak akan mommy biarkan mereka b menyakitimu, menyakiti kita berdua." Janin dalam kandungan adalah penyemangat hidupnya.
"Kita tunggu saja apa 'kejutan' yang dia maksud tadi." Jelas ia mengingat betul perkataan gadis tadi di saat ia sedang berperang menahan rasa pening di kepalanya.
Lelah dengan semua kejadian yang menimpanyanya pagi ini, perlahan-lahan matanya mulai terpejam masuk ke alam bawah sadar dan mencoba melupakan sejenak semua yang terjadi.
Kali ini siapa lagi yang akan datang untuk menyiksa fisik dan batinku?
Jessi hanya diam seolah ia sedang mendengar sebuah instrumen yang di hasilkan dari bel itu.
Diamnya Jessi karena sedang bimbang. Apa dia harus membukanya atau membiarkan hingga orang itu pergi dengan sendirinya.
Hampir sepuluh menit berlalu tapi bel itu tidak berniat untuk berhenti, membuatnya semakin risih mendengarnya.
Dengan mengumpulkan tekad dan keberaniannya, ia berjalan keluar membuka pintu.
"Kenapa lama sekali?"
Jessi hanya memandang datar orang itu.
"Kenapa kau datang?"
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membuat janji kemarin?" Ujar El yang sudah menerobos masuk tanpa di persilahkan.
Sedangkan Jessi? Ia sesikit kesal pada pria itu. Karena kedatangannya yang lebih lama dari waktu yang sudah di tentukan sebelumnya.
Tapi ada bagusnya juga ia datang terlambat. Setidaknya El tidak akan melihat kejadian tadi hingga ia mengetahui semuanya.
Jessi menyusul El yang sudah duduk manis di sofa, dan ikut duduk di sampingnya.
"Jess, apa kau habis menangis?" Pertanyaan itu keluar dari bibir El saat melihat mata Jessi yang sembab dan penampilannya yang acak-acakkan.
"Tidak." Jawaban yang bodoh. Anak kecil saja tahu jika Jessi sedang berbohong jika melihat penampilannya sekarang.
"Kau tidak pandai berbohong Jess"
Kata siapa huh?!
"Katakan padaku dengan jujur" lanjut El, mengambil tangan Jessi lalu menggenggamnya
Jessi hanya melihat tangannya yang sudah berada di genggaman pria itu.
Tidak mungkin bukan jika dia harus mengatakan sebab dan alasannya?
Dia bukan Axel yang akan dengan mudah memberitahu perjanjian mereka pada orang.
Begitu pikirnya.
"Sudahlah El. Lupakan saja dan ayo temani aku menonton."
"Huftt ... baiklah. Tapi jangan sungkan untuk mengatakannya padaku jika kau sedang butuh bantuan." Jelas bukan jika El adalah pria yang penuh dengan perhatian?
Jessi hanya menganggukan kepalanya menanggapi.
°°°°°
"Tidak kusangka pelayan rendahan itu adalah orang yang kucari." Gerutu seorang gadis yang baru habis melakukan penganiayaan. Siapa lagi kalau bukan Breeana.
Breeana kini sedang berada di kamarnya. Sepulang dari apartemen tadi, ia langsung pulang ke mansion.
"Aku harus memberinya pelajaran. Bayi itu pasti bukan bayi kak Axel. Dia pasti hanya memanfaatkan kakak yang sudah mengambil kesuciannya." Pemikiran Breeana tidak jauh berbeda dengan Penelop.
Ia sedang memikirkan hal sadis apa yang harus ia lakukan.
"Ah! Apa aku harus memberitahu hal ini pada mommy?"
Mungkin jika ia memberitahu pada Ara, wanita itu pasti akan lebih kejam darinya karena ini menyangkut putranya. Kebanggaan keluarga Seander yang terpandang.
" ya. Aku harus memberitahu ini pada mommy nanti." Breeana begitu yakin dengan keputusannya ini, tanpa harus berpikir panjang apa akibat dan konsekuensinya pada dua orang yang bersangkutan langsung.