
HAPPY READING
Setelah selasai dengan berbelanja, El mengantar Jessi untuk pulang. Jessi menawarkannya untuk mampir ke apartemen, untuk segelas kopi sebagai rasa terima kasih karena sudah menemaninya.
El pun sebenarnya tak ingin melewatkan kesempatan itu. Akan tetapi dia memiliki urusan penting yang tak bisa di tinggalkannya. Jadi ia memilih lain waktu saja untuk segelas kopi itu.
El mengantarkan Jessi sampai depan pintu apartemennya, karena ia tak tega jika Jessi membawa semua barang belanjaan yang cukup berat ini.
"Terima kasih." Ujar Jessi dengan senyum tulusnya, saat El memberika kantong belanjaan itu pada Jessi.
"Tak perlu berterima kasih padaku."
Salah satu yang paling di sukainya dari wanita itu adalah senyumnya.
"Oh ya, aku harus pergi. Sampai jumpa Princess." Ia menyempatkan diri untuk mengacak-acak rambut Jessi, lalu berlari pergi meninggalkannya sebelum menpat amukkan dari wanita hamil itu.
"Aishh, kau ini" gerutunya yang pasti sudah tak di dengar El.
Jessi masuk ke apartemen dengan beberaap kantong belanjaan di tangannya.
Brakk
Kantong belanjaan yang di bawanya jatuh di lantai, dengan isinya yang berserakan di bawahnya. Seseorang menarik paksa tangannya saat baru masuk ke dalam apartemen, lalu menyudutkannya di dinding.
"Apa kau bersenang-senang hari ini huh?"
Jessi terperanjat mendengar suara itu.
Itu suara Axel. Kenapa dia ada di sini?
Pria itu hobi sekali muncul di apartemen secara tiba-tiba.
"Bisa kau lepaskan? Tanganku sakit" Jessi yakin tangannya saat ini sudah memerah akibat cengkraman kasar dari Axel.
Axel tak mendengarkan perkataan Jessi. Ia malah semakin menguatkan cengkramannya, lalu menarik paksa wanita itu, dan melemparkannya di sofa.
Jessi meringis. Ia melihat pergelangan tangannya, dan benar saja, pergelanganya memerah akibat ulah pria itu.
"Siapa dia?" Tanya Axel.
"Dia?" Jessi bingung dengan pertanyaan pria itu.
"Siapa pria yang bersamamu di pusat perbelanjaan tadi?"
Kenapa dia bisa tau kalau Jessi tadi ada di sana? Apa mungkin saat itu Axel juga sedang di sana?
"Itu temanku, El"
El?
Ah jadi pria itu yang namanya El.
Axel membandingkan El yang sempat dulihatnya tadi, dengan dirinya sendiri.
Tentu sangat jauh pikirnya. Dia adalah seorang selebriti terkenal dan anak dari orang yang punya perusahaan terbesar di benua Amerika. Sedangkan El? Dia hanya seorang pelayan cafe.
Axel memperlihatkan smirknya.
Apa wanita ini memiliki selera serendah itu?
"Apa dia pacarmu?" Mendadak, jiwa penasaran dalam diri Axel kambuh.
Jessi membulatkan matanya mendengar pertanyaan itu
"Pacar? Tentu saja bukan."
"Aku melihat kalian sangat mesra saat memilih susu. Dan kau bahkan membiarkannya mengelus perutmu. Aku jadi sedikit ragu apa itu anakku atau bukan." Axel menurunkan arah pandangnya ke perut Jessi.
"Apa maksudmu hah?"
"Aku bilang, bisa saja itu bukan anakku." Axel mengulang kembali ucapannya.
"Lalu anak siapa?" Emosi mulai menguasainya.
"Bisa saja itu anak pria lain, melihat kau begitu akrab dengan pria itu."
"Mungkin itu anak pria lain mu yang ada di Madrid." Axel sangat santai mengatakannya, berbeda dengan reaksi Jessi yang mendengarnya.
PLAKK
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Axel.
Jessi menangis sesenggukan karenanya. Kalian tentu tahu bukan? Perasaan ibu hamil menjadi sangat sensitif semenjak mengandung, dan itu mungkin bawaan dari sang bayi.
"Hiks ... hiks ... hiks ...."
"Kau selalu berkata seperti itu seolah-olah aku adalah jal*ng."
Axel yang masih terdiam akibat tamparan Jessi, terperangah menatap wanita yang kini tengah menangis sesenggukan.
Seharusnya dia yang memarahi wanita itu habis-habisan, dan memberinya pelajaran. Tapi kenapa keadaannya terbalik seperti ini.
Sesuatu dalam dirinya mendorong untuk melakukan hal di luar akalnya, tapi egonya menolak untuk itu.
Entah apa yang di rasaknnya melihat perempuan itu menangis. Apa mungkin ia merasa bersalah?
Di luar dugaan, Axel tiba-tiba menarik Jessi, dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.
Jessi tak kalah terkejut dengan apa yang di lakukan Axel padanya. Akan tetapi hal itu tak membuatnya menghentikan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
"Sstt,, diamlah." Ujar Axel yang masih setia dengan posisinya saat ini, sambik mengusap-usap bahu Jessi.
Jessi masih menangis dalam pelukkan Axel.
"Maafkan aku."
Maaf? Axel sendiri heran mengapa kalimat sakral itu bisa keluar dari mulutnya.
Cukup lama posisi mereka seperti itu, hingga Axel tak lagi mendengar suara Jessi yang menangis. Dilihatnya wanita dalam pelukannya itu,yang ternyata sudah tertidur.
Axel mendengus melihatny
"Tck, Dasar merepotkan saja."
Axel menggendong Jessi, dan membawanya masuk ke kama, lalu membaringkannya di tempat tidur.
Ia menatap lekat-lekat wajah wanita itu, lalu beralih ke perutnya yang mulai terlihat membuncit.
"Maaf" Ujarnya singkat, seolah yang di tatap bisa mendengarnya.
Ini kedua kalinya permintaan maaf keluar dari mulut Axel, untuk wanita itu dan anaknya.
Axel segera keluar dari kamar. Ia melihat barang belanjaan Jessi yang berserakan di lantai, akibat ulahnya yang menarik tangan wanita itu.
Axel mengambil inisiatif untuk membereskannya. Dilihatnya isi barang belanjaan itu, yang ternyata berisi beberapa bungkus cemilan, ice krim yang mungkin sudah mencair, dan beberapa susu untuk ibu hamil.
Matanya tak sengaja melihat susu dengan rasa vanila.
Seketika kejadian di pusat perbelanjaan tadi, saat si pria sialan itu memnbujuk wanitanya untuk mencoba rasa favoritnya itu. Ya, Axel memang mendengarkan semuanya, karena bersamaan dengan itu, dirinya sedang berada di sana untuk membeli sesuatu. Akan tetapi ia tak langsung menemui dua orang itu, melainkan hanya menatap keduanya, lalu memilih langsung pergi ke apartmen, dengan maksud mengintrogasi salah satu dari dua orang itu.
Tunggu dulu. Wanitanya? Sejak kapan Jessi menjadi wanitanya?
Argh,, ada apa dengan dirinya ini?
Axel mengambil susu yang bertuliskan rasa vanila, lalu membuangnya ke tempat sampah. Sisanya ia hanya melihat susu dengan tulisan rasa coklat, lalu menyimpannya di lemari pendingin, bersamaan dengan cemilan-cemilan tadi.
Selesai melakukannya, Axel kembali ke kamar untuk melihat wanita itu. Ternyata masih tidur.
Ia memutuskan untuk kembali ke penthousenya, dengan beberapa pikiran berkecamuk di kepalanya.
Apa ia harus menerima wanita itu, dan mencoba melupakan perjanjiannya? Mungkin memang benar, kalau anak dalam kandungan itu adalah anaknya.
Tapi rasanya sulit untuk melakukan itu. Mengingat karirnya, Axel takut semua yang akan di lakukannya untuk wanita itu akan berdampak pasa kesuksesannya.
Bagaimana jika ternyata benar yang di katakan Herry, kalau wanita itu hanya akan memanfaatkannya?
Axel pusing memikirkannya. Biarlah seperti ini saja. Dia hanya akan bertanggung jawab sesuai perjanjian, lalu setelahnya semua akan selesai.
Ya, seperti itu lebih baik.