
HAPPY READING
"Sshh,, pelan-pelan El" Jessi meringis merasakan sakit di pipinya.
"Ini sudah sangat pelan." Pria dengan manik cokelat hazel itu sangat telaten mengobati luka di pipi Jessi, hasil dari pertengkaran beberapa waktu lalu.
"Aww, sakitt." El membersihkan sudut bibir Jessi yang berdarah akibat tamparan keras yang di dapatnya.
"Wajahmu terlihat menyeramkan" El memamerkan deratan gigi putihnya, melihat kondisi Jessi yang mengenaskan.
"Diamlah! Ini semua gara-gara gadis sombong itu. Dasar singa betina."
"Kau juga salah. Kenapa juga kau harus menanggapinya."
"Dan membiarkan dia seenaknya menyiksaku?" Tanya Jessi dengan mata yang melotot pada El.
"Maksudku, kau bisa saja menghindar atau meminta maaf padanya tanpa harus ada kekerasan." El yang mencoba memberi saran malah mendapat amukkan Jessi.
"Meminta maaf katamu? Sudah jelas itu salahnya. Aku meletakan coffee itu dengan benar di atas meja tepat di depannya dan dia terlalu sibuk dengan ponselnya. Setelah itu dia menumpahkan minumannya dan menyalahkanku atas kecerobohnnya. Apa itu masuk akal hah?! Di sini aku tidak salah tapi harus mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Penyiksaan fisik dan batin yang kudapatkan. Dia juga menghina pelayan sepertiku."
El menghela napas melihat Jessi yang sudah di kuasai amarah.
"Tapi Jess ... "
"Tapi apa hah?! Kau mau berpihak padanya dan menyalahkanku atas semua yang terjadi?" Cairan bening mulai menggenang di matanya, menunggu untuk dijatuhkan.
Apa semua wanita hamil seperti ini?
Batin El.
Tidak mau makin panjang urusannya, El pun membujuk Jessi.
"Iya, iya. Kau tidak salah tapi gadis itu yang salah. Seharusnya dia tidak sibuk dengan ponselnya hingga kejadian seperti itu tak terjadi." Tidak ada cara lain untuk menenangkan Jessi selain harus berpihak padanya.
"Akhirnya sekarang kau sadar siapa yang salah di sini."
"Iya, kau yang benar dan dia salah." Lagi-lagi El melakuakan ini agar mood wanita hamil itu kembali bagus.
"Selesai." El membereskan peralatan yang habis di gunakannya untuk membersihkan wajah Jessi.
"wajahku jadi terlihat Jelek karena ini" Ujarnya menyentuh beberapa plester diwajahnya.
"Sudahlah, itu agar lukamu tidak infeksi."
"Dan satu lagi, jangan sampai manajer cafe mengetahui insiden ini. Nanti akan kukatakan pada yang lain agar menutup mulut mereka."
"Hmm, baik. Terima kasih."
"Sama-sama. Apa kau mau istirahat dulu?"
"Tidak. Aku mau melanjutkan pekerjaanku lagi."
"Baiklah, hati-hati."
°°°°°
Pria dengan kaos putih dan celana selutut itu berjalan ke arah pintu saat mendengar bel.
Dia membukakan pintu untu si tamu yang sedari tadi memencet bel dengan tidak sabaran.
"Kau-" perkatannya menggantung di udara saat melihat siapa tamu itu
"Kenapa lama sekali membuka pintunya?" Tanpa di persilahkan seorang wanita paruh baya berawajah khas negeri ginseng yang masih terlihat cantik di usia 40-an masuk bersama seorang gadis yang mengikutinya di belakang.
"Mom? Apa yang kau lakukan di sini?"
Tanya pria yang terkejut itu saat mengetahui siapa tamunya.
"Apa Mommy tidak bisa datang berkunjung ke tempatmu Ax? Kau anak yang durhaka. Sudah sangat lama kau tidak mengunjungiku di mansion dan sekarang saat aku datang mengunjungimu kau bahkan ingin memarahiju." Ujar wanita itu pada anaknya, yang tak lain dan tak bukan ialah Axelion.
"Kau tentu tau alasanku tidak mengunjungimu di mansion." Tentu saja apalagi kalau bukan Ayahnya.
"Kalian ini sudah seperti orang asing saja." Ara, Mommynya, seakan tahu apa yang menjadi alasan Axel enggan mengunjunginya.
"Ada apa dengan penampilanmu Bree?" Tanya Axel saat melihat penampilan adik satu-satunya yang sudah seperti gelandangan, dengan dress yang kusut dan terlihat ada bekas tumpahan, rambut acak-acakan dan luka di lengannya. Setahunya, Breeana adalah orang yang paling menjaga penampilannya.
"Percuma saja kau bertanya Ax, mommy sudah menanyakan hal itu sebelumnya tapi dia tetap bungkam seperti orang bisu." Ara pun mulai kesal dengan Breeana yang sedari tadi hanya diam saat dirinya menjemput putri kesayangannya itu di cafe.
"Bree, ada apa? Ceritakan padaku." Axel mengeluarkan sisi lembut yang hanya akan ia tunjukkan pada orang-orang tersayangnya.
Breeana menatap Axel. Seolah terhipnotis dengan perkataan kakaknya, dia pun menceritakan semuanya.
Tapi dari sudut pandangnya sendiri.
"Kenapa kau tidak menceritakan hal ini pada Mommy tadi? Kalau saja kau mengatakannya sejak tadi pasti pelayan itu akan Mommy kasih pelajaran. Bisa-bisanya pelayan sepertinya berbuat seperti itu pada princess seander." See, sekarang tahukan dari mana sifat Breeana —si gadis sombong yang bertengkar dengan Jessi— berasal?
"Apa aku perlu melakukan sesuatu untukmu?" Axel pun tak ikhlas melihat adik kesayangannya mendapat perlakuan seperti yang sudah di jelaskan.
"Tidak apa-apa Mom, Kak. Aku akan mengurus 'Tikus Jalanan' itu sendiri." Ujarnya menarik salah satu sudut bibir, membayangkan hal apa yang akan di lakukannya nanti pada pelayan rendahan itu.
"Baiklah jika itu maumu." Axel pun tak melarang apa yang akan di lakukan adiknya.
"Ax, apa Ayahmu masih sering menghubungimu?" Tanya Ara pada anaknya.
"Sudahlah Mom, aku malas membahasnya. Cari saja topik yang lain." Axel selalu seperti ini jika berhubungan dengan ayahnya.
"Tapi Ax, apa yang di lakukan ayahmu itu benar. Pikirkanlah, kau satu-satunya penerus."
"Itu benar kak"
"Apa kalian datang ke sini hanya untuk membahas hal tidak penting itu? Membuang-buang waktuku saja." Axel berjalan menuju kamar meninggalkan kedua orang beda usia itu duduk di sofanya.
"Pikirkan baik-baik permintaan Ayahmu itu Ax." Langkah Axel terhenti mendengarnya.
"Ayo kita pergi Bree." Panggil Ara pada Breeana, lalu keduanya meninggalkan Axel tanpa berpamitan padanya.
°°°°°
Dengan menggunakan hotpants dan kaos yang oversize, Jessi begitu santai menikmati acara malamnya bersama siaran televisi dan di temani aneka cemilan.
Beberapa kali dia tertawa karena adegan lucu yang di perankan pemain drama, sambil sesekali menahan perih di sudut bibirnya yang luka.
Namun, hal itu tidak di permasalahkannya. Ia mencoba melupakan kejadian pagi tadi.
"kau terlalu fokus dengan televisi itu hingga tidak menyadariku."
"Uhuk,, uhuk,,"
Jessi tersedak cemilan mendengar suara yang di kenalnya.
"Kau? Bagaimana bisa kau ada di sini?" Tanyanya menatap horor Axel.
"Tentu saja bisa karena aku ingin." Axel menjawabnya dengan santai.
Jessi mendengus mendengarnya.
"Apa kau sudah lama berdiri di situ?"
"Cukup lama sejak kau tertawa sambil memegang sudut bibirmu."
Apa sedari tadi Axel memperhatikannya yang sedang tertawa terbahak-bahak?
Axel berjalan mendekat, dan duduk di sampingnya.
"Sangat jorok" komentar Axel, saat melihat banyaknya pembungkus dan remahan cemilan yang berserakan di sekitar Jessi.
Jessi tersenyum singkat menanggapinya.
Axel menyentuh ujung dagu Jessi, menarik wajah lawan bicaranya itu mendekat ke arahnya. Wajah keduanya kini hanya berjarak 5 Cm.
Bahkan, dari jarak sedekat ini Jessi bisa merasakan hembusan napas milik Axel.
"Ada apa dengan wajahmu?" Axel memperhatikan setiap inci wajah wanita di depannya.
Perlakuan Axel itu sukses membuat Jessi harus menahan panas di pipinya.