
HAPPY READING
Pantulan sinar mentari yang masuk melalui jendela kaca besar membuat seorang wanita terbangun dari alam bawah sadarnya.
Jessi terbangun dengan kondisi matanya yang sembab. Seingatnya, semalam dia menangis hingga tertidur di dalam pelukan Axel. Apa mungkin pria itu membawanya ke kamar? Kecil kemungkinan jika dia berjalan sambil tertidur.
Jessi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, yang ternyata hanya ada dia seorang di sana.
Huh! Memang apa yang kau inginkan Jessi?
Dia berada di sini menemanimu tidur dan menunggumu saat bangun? Mimpi!
Menarik napas, lalu menghembuskannya.
Kejadian semalam bagai kaset yang di putar ulang di kepalanya, di mana saat Axel memeluk dirinya dan berkata 'Maaf'.
Atas dasar apa pria itu meminta maaf padanya?
Apa Axel sudah menyesali semua perbuatannya?
Atau itu hanya sekedar ucapan yang spontan keluar dari bibirnya demi menenangkan Jessi yang mungkin menurutnya sangat merepotkan?
Ia mendengus kesal membayangkan jika Axel benar seperti itu.
Jam menunjukkan hampir pukul delapan.
Jessi menyibakkan selimut dan bersiap-siap untuk kembali ke rutinitasnya, yaitu menjadi pelayan cafe.
"Hei Baby, apa kau sudah lapar huh?" Sambil berjalan ke arah dapur, ia mengajak bayinya berbicara.
"Tentu saja. Mommymu ini banyak menangis semalam karena pria itu."
"Engh, maksudku Daddymu."
Jessi membuka lemari pendingin dan hanya menemukan susu ibu hamil dengan rasa coklat.
"Di mana susu itu?El merekomendasikannya untuk Mommy. Katanya kau pasti akan suka."
Dia ingat! Bukankah semalam Axel menarik tangannya hingga barang-barang belanjaannya jatuh berserakan di lantai?
Tapi kenapa semuanya malah tersusun rapi di lemari pendingin, terkecuali susu dengan rasa vanila itu.
Jessi baru menyadarinya.
Apa Axel yang melakukannyann?
Pasti iya. Siapa lagi selain Axel yang bebas masuk ke sini.
Jessi berjalan ke arah tempat yang di yakininya sebagai tempat jatuh barang belanjaannya. Dia mencoba mencari susu dengan rasa vanila itu. Siapa tahu karena barangnya berserakan, Axel tidak sempat mengambil susu itu.
Hahaha, rupanya Jessi tidak tahu apa yang sudah di lakukan Axel dengan si vanila itu.
"Tck, di mana susu itu?"
Tak menemukannya, Jessi mencoba kembali ke dapur. Pikirnya, mungkin sudah ada di dapur dan dia saja yang kurang memperhatikannya.
Namun, ia dibuat melongo saat melewati pintu penghubung ke dapur.
Di sana, di dalam tempat sampah, ada banyak bubuk berwarna putih yang di buang di sana.
Jessi yakin sekali itu adalah apa yang sedang di carinya. Ia mendekat ke arah tempat sampah untuk lebih memastikannya.
Dapat di cium aroma khas dari susu dengan cita rasa vanila itu.
Mulutnya menganga meratapi fenomena itu.
"Aish, kenapa seperti ini?!
Pasti pria itu yang melakukannya. Tapi kenapa?" Ia yakin itu perbuatan Axel.
Namun masih bingung dengan motif dari pria itu.
"Tck! Hari ini kita tidak akan mencoba sesuatu yang baru karena Daddymu."
Terpaksa, Jessi kembali membuat susu dengan rasa coklat, di temani dengan roti sandwich sebagai sarapannya pagi itu.
°°°°°
"Bagaimana Jess? Apa rasanya enak?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan bilang kau belum mencobanya?" El menghentikan kegiatannya mengelap cangkir-cangkir yang akan di gunakannya untuk membuat coffee.
"Apa maksudmu El? Berbicaralah dengan Jelas."
Ujar Jessi yang juga membantu membersihkan peralatan milik barista itu.
"Susu yang kita beli kemarin. Apa kau sudah lupa?"
Tamatlah Jessi!
Apa yang harus kau katakan sekarang?
"Eh, hehe, itu? ...." Jessi tersenyum canggung menatap El.
"Itu apa?" El mengernyitkan dahi melihat tingkah ibu hamil di depannya ini.
"Belum"
"Belum? Kau belum mencobanya?"
Jessi menyengir menanggapi pertanyaan pria di sampingnya ini.
"Kenapa? Beri aku alasannya"
Sudah seperti ketahuan selingkuh saja. Harus memberikan alasan.
Batinn Jessi.
"Sebenarnya tadi aku akan mencobanya. Tapi saat sedang membuka aku tak sengaja menumpahkan semua bubuk itu ke lantai." Alasan itu seketika terlintas di kepalanya.
Dasar gila! Bagaimana mungkin aku melakukan itu. Kalau seperti itu lebih baik aku tak membelinya. Buang-buang uang saja!
"Tidak mungkin."
"Baiklah jika seperti itu. Aku akan membeliknnya lagi nanti untukmu."
"Hm, terserah." Jessi malas berdebat.
Mereka melanjutkan kembali pekerjaan yang di lakukan sebelumnya.
"El, secangkir coffee espresso di meja nomor tiga." Ujar salah satu pelayan yang menghampirinya.
"Baik, akan ku siapkan."
Dengan penuh semangat, El meracik b secangkir coffe espresso untuk pelanggan pertama mereka.
"Jess, bisa kau antarkan ini di meja nomor tiga?"
"Akan ku lakukan untukmu." Dengan penuh semangat Jessi mengambil secangkir coffee dengan asap yang masih mengepul itu.
Dia membawa pesanan itu pada pelanggan yang duduk di meja yang di maksud.
Rupanya si pelanggan adalah seorang gadis muda, yang mungkin umurnya setahun di bawah Jessi.
Gadis yang menggunakan dress berwarna peach tanpa lengan itu terlihat begitu anggun dan santai secara bersamaan. Sangat cocok dengan wajah cantik dan kulit putihnya khas orang Asia Timur.
"Pesanan Anda Nona." Jessi meletakannya di meja yang berada teapat di depan gadis itu.
Tak ada jawaban. Gadis itu terlalu sibuk dengan ponselnya. Sekilas, wajahnya tampak familiar di mata Jessi.
Apa mungkin dia salah satu model yang pernah kulihat di televisi?
Batinnya, mengingat gadis di depan memiliki tubuh yang tak kalah cantik dengan wajahnya.
Merasa di perhatikan, gadis itu menatap sinis Jessi yang sedang menatapnya.
"Apa wajahku membuatmu iri?"
Jessi terkejut dengan pertanyaan itu.
Cih, sombong sekali. Ternyata berbanding balik dengan wajahnya
"Maaf Nona," Selesai mengatakannya, Jessi berbalik akan meningglakan pelanggan itu.
PRANGG
"Aww,," Teriakan gadis itu membuat Jessi berbalik.
Dirinya terkejut mendapati coffee yang baru di antarnya beberapa waktu lalu sudah tumpah di lantai lengkap dengan pecahan cangkir yang berserakan.
"Kenapa bisa seperti ini Nona?"
Tanya Jessi sambil membersihkan meja dengan serbet yang di bawanya, sebelum tumpahan coffee itu semakin mengotori meja.
PLAKK
Satu tamparan keras sukses mendarat di pipi Jessi dan membuat semua mata tertuju padanya.
"Kenapa bisa seperti ini kau bilang hah? Tentu saja bisa pelayan bodoh! Kau meletakkannya di pinggir meja."
Ujar gadis itu kembali membersihkan bajunya, yang beruntung hanya terkena sedikit dari bagian coffee panas yang tumpah itu. Beruntung juga itu tidak mengenai kulit mulusnya melainkan hanya mengotori dress cantiknya.
"Aku yakin tadi aku menaruhnya di meja Nona." Jessi melakukan pembelaan.
"Ada apa ini?" Tanya El yang melihat keributan antara Jessi dan pengunjung cafe.
"Pelayan bodoh ini menumpahkan coffee di bajuku."
Mata Jessi terbelalak mendengarnya.
"Aku tidak melakukannya. Aku meletakkan coffee itu di atas meja dengan benar. Kau saja yang terlalu fokus dengan ponselmu."
"Apa sekarang kau menyalahkanku hah?!" Gadis itu menarik paksa rambut Jessi.
Jessi yang tak terima dengan perlakuan itu malah membalasnya. Menurutnya ia tak salah. Gadis itulah yang salah tapi tak mau mengakui kesalahannya
Adegan jambak-menjambak terjadi di antara mereka, bahkan saling mencakar hingga membuat keadaan semakin memanas dan sukses menjadi tontonan.
El yang berada di sana sempat kewalahan memisahkan mereka.
Akhirnya dengan penuh perjuangan, El berhasil memisahkan keduanya.
Kondisi dari masing-masing mereka sangat mengenaskan. Jessi dengan rambuta acak-acakan dan luka cakaran di pipi, sedangkan gadis itu dengan helaian rambutnya yang rontok serta cakaran di lengannya.
"Apa kau tahu?! Bahkan gajimu sebulan tidak akan mampu membayar dresku yang kotor akibat ulah ceroboh pelayan rendahan sepertimu." Gadis itu melihat kondisi dress yang di pakainya sudah tak seindah semula.
"Rasakan itu Nona sombong!" Jessi pun tak mau kalah.
Drtt ... drt ....
Rupanya ponsel si gadis sombong itu berbunyi. Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Ya,"
"aku sedang berda di cafe Xx di jalan Xx"
"Baiklah."
Percakapan singkat itu masih dapat di dengar Jessi.
"Kau!" Tunjuknya pada Jessi
"Aku akan meminta ganti rugi padamu."
Selesai mengataknnya, dia meninggalkan Jessi yang tak terima dengan kata 'ganti rugi'.
Gadis itu segera keluar cafe menaiki mobil yang sudah menunggunya di depan sana.
Orang-orang yang melihat 'pertunjukkan' itu sudah berakhir, mulai membubarkan diri.