
HAPPY READING
Tutt,, tutt,,
Seseorang sedang mencoba menghubungi orang lain di sebrang sana.
Ya, itu Jessi. Ia sedang mencoba menghubungi keluarganya.
Setelah di pikir-pikir, tak mungkin Jessi akan mengatakan pada keluarganya jika ia akan ke Amerika. Apa lagi ibunya. Ibunya itu sangatlah posesif padanya dan adiknya.
Jika ibu tahu mengenai hal ini, pasti dia tak akan mengijinkan Jessi untuk pergi
"Hallo?"
Akhirnya panggilannya dijawab
"Chesa? Ini aku Jessi."
"Oh Kakak ya. Ada apa Kak?"
"Kenapa ponsel Ibu ada padamu Ches? Kakak ingin berbicara dengan Ibu dan Ayah. Apa mereka belum tidur? Jika ya bisa tolong kau berikan?"
"Maaf, tadi aku sedang meminjam ponsel Ibu. Dan ya, Ayah dan Ibu tengah menonton, tunggu sebentar akan ku berikan ponselnya."
Tak lama kemudian suara ibu sudah terdengar.
"Ada apa menelepon malam-malam Jess? Apa terjadi sesuatau padamu?"
Dari nada bicaranya, Jessi sangat tau jika ibunya khawatir padanya.
"Hehe,, tidak Bu." Jessi terkekeh, ia membayangkan ekspresi ibunya yang sedang khawatir di sebrang sana.
"Kau ini, membuat ibu khawatir saja menelepon larut malam seperti ini."
"Maafkan aku Bu. Oh iya, apa ibu sedang bersama Ayah? Kenapa kalian belum istirahat?" Tanya Jessi sambil melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, padahal biasanya mereka sudah akan istirahat pukul 10 malam.
"Iya nak, Ibu sedang bersama ayahmu. Kami sedang menonton acara favorit Ayahmu."
"Ohh begitu rupanya. Ibu, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian." Ujarnya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mengatakan apa Nak?" Tanya ibu
"Ya, apa yang ingin kau katakan?" Itu suara ayah yang ikut menyahut.
"Mm,, sepertinya aku tak bisa kembali secepatnya di Granada Bu, Yah."
"Kenapa?" Tanya ayah disebrang sana
"Hmm, aku di pindahkan sementara oleh Mr. Ten untuk mengurus cafenya di Madrid sini."
Mr. Ten maafkan aku yang membawa namamu dalam kebohonganku.
"Berapa lama disana?" Itu suara ibu.
"Aku tak tahu Bu. Beberapa bulan kedepan mungkin?" Ia sendiri pun tak tahu dengan jawabannya. Sampai kapan ia akan berada di Amerika?.
"Kenapa selama itu?" Tanya ibu lagi.
"Karena pegawainya yang mengurus baru saja mengundurkan diri dan Mr. Ten mempercayaiku untuk mengurusnya."
"Apa kau tak akan pulang ke sini?"
"Tak tau Yah, disini juga sangat sibuk sekali."
"Baiklah, jika sudah begitu Ibu hanya bisa meminta padamu untuk hati-hati disana." suara ibu terdengar begitu tulus mengatakannya.
"Ya Jess, apa yang Ibumu katakan benar. Dan sering-seringlah menghubungi kami disini agar kami tak khawatir denganmu."
"Baik Ayah, Ibu. Aku akan sering-sering menghubungi kalian di waktu luang."
"Jess, sudah larut malam. Ayahmu sudah lelah ingin istirahat. Kau pasti lelah bukan seharian ini bekerja. Istirahatlah Nak"
"Ya Bu, aku juga lelah seharian bekerja."
Dasar pembohong
"Kalau begitu istirahat saja. Ibu tutup dulu telponnya, sampai jumpa"
"Sampai jumpa juga."
Tak tau kapan lagi hingga kita bisa bertemu.
Tutt,, tut,,
Panggilan terputus.
Jessi kini tengah berbaring di ranjang. Untung saja pakaiannya belum di keluarkan dari koper jadi dia tak perlu repot-repot lagi untuk menyusunnya kembali.
Ia harus cepat tidur agar tak bangun kesiangan esok. Bisa bahaya jika ternyata Axel meninggalkannya.
°°°°°
07.00 AM
Jessi segera bergegas menuju hotel dimana Axel berada. Ia menaiki taksi kesana. Beruntung, jalanan pagi ini tak terlalu macet.
Sesampainya di depan lobi hotel, Jessi bertemu dengan Penelop yang sedang membawa koper.
"Hei," panggil Jessi pada Penelop.
Ia ragu untuk memanggil Penelop dengan namanya, karena mereka belum berkenalan secara resmi.
"Kau rupanya. Cepat ikut aku."
Kata penelop sembari melempar tatapan tak sukanya.
Entah kenapa saat bertemu Jessi, Penelop tak begitu menyukainya. Menurutnya Jessi hanya seorang pengganggu, apalagi saat Axel menyuruhnya membuatkan paspor untuk Jessi dan hal itu berhasil membuatnya tidak tidur semalaman. Ditambah lagi ia sering membandingkan wajah dan penampilannya dengan Jessi, yang menurutnya berada jauh di bawahnya. Ia tak habis pikir, memangnya apa yang mereka berdua Axel bicarakan semalam, hingga Axel bisa membawa gadis itu ke Amerika bersama mereka.
Ternyata penelop membawa Jessi ke basement. Disana sudah ada mobil menunggu.
"Masuklah! Apa kau menunggu untuk dibukakan pintu?"
Setelah mengatakan itu, Penelop pergi ke bagian garasi mobil untuk meleyakkan koper yang dibawanya tadi.
Dia terang-terangan menunjukkan rasa tak sukanya padaku.
Jessi segera masuk kemobil dan tak lupa pula membawa kopernya.
Tak lama kemudian, Penelop ikut masuk kedalam mobil dan duduk di samping Axel yang sedang mengemudi.
Mobil pun melaju meninggalkan basement hotel, pergi menuju bandar udara internasional Adolfo Suárez Barajas Madrid.
Suasana dalam mobil terasa hening.
Axel yang sibuk mengemudi, Penelop sibuk dengan ponselnya, hingga Jessi yang sibuk dengan pemandangan diluar.
"Penelop," suara Axel memecah keheningan.
"Ya Ax?" Ujar Penelop mengalihkan tatapannya dari handphone.
"Semuanya sudah siap bukan? Termasuk paspornya?" Sekilas Axel menatap Jessi melalu kaca spion.
"Sudah Ax, aku sudah menyiapkannya semalam."
"Bagus. Apa kau sudah menghubungi orangku untuk mengurus mobilku di bandara nanti?"
"Ya. Saat ini mereka sudah di bandara menunggumu. Mereka akan mengurus mobilmu dan kita bisa langsung pergi."
"Hm" gumam Axel.
Setelah itu keadaan kembali sunyi. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tak lama kemudian, mereka sampai di bandara. Axel yang mengenakan kacamata hitam, masker, serta topi membuat penampilannya mencolok hingga tatapan beberapa orang terpusat padanya. Namun mereka hanya menatapnya karena tak mengetahui siapa orang yang berpenampilan seperti itu.
"Hei kau!" Panggil Penelop
Jessi menoleh
"Bawa koper ini." Ujarnya memberikan dua buah koper pada Jessi.
"Tapi aku juga sedang membawa koperku."
"Aku tak peduli." Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Jessi yang kesusahan membawa semua koper itu.
Kini mereka tengah berada di.peswat, dengan bisnis class
Penelop memang sengaja memesan ini, karena jika mereka berada economy class, pasti kenyaman Axel akan sangat terganggu.
Setelah melewati perjalanan kurang lebih sekitar 6-7 jam, akhirnya mereka tiba di bandara internasional John F. Kennedy, New York.
"Penelop. Kau sudah menghubungi Herry?"
"Ya, aku sudah menghubungi kakak. Katanya ia sudah menunggu."
Jessi hanya mempethatikan interaksi keduanya. Ia merasa terabaikan.
Pada akhirnya, Jessi hanya mengikuti langkah keduanya menuju ke seseorang yang sedang menunggu itu.
Ah ya, tak lupa pula ia membawa semua koper seperti sebelumnya.
Terlihat seseorang tengah melambaikan tangan pada mereka.
Bukan pada Jessi, tapi hanya Axel dan Penelop.
"Hei Ax, apa perjalananmu lancar? Mengapa kau memutuskan untuk kembali hari ini?" Tanya orang itu
"Diamlah Herry. Aku sedang tak ingin berbicara."
Jadi dia yang namanya Herry.
Batin Jessi setelah mendengar nama Herry yang kedua kalinya.
"Kakak,, kau ini cerewet sekalih. Tidakah kau lihat jika Axel sanga lelah?"
Ternyata dia kakaknya penelop.
"Bailklah,, baiklah,," ujar Herry seraya mengacak-acak rambut Penelop.
Sedangkan yang di acak-acak rambutnya hanya berdecak kesal melihat kakaknya yang sering memperlakukannya seperti anak kecil.
"Hei Ax! Siapa gadis ini?" Tanya Herry yang baru tersadar saat melihat Jessi
Axel menatap Jessi sebentar.
"Pembantu baru." Ujarnya datar
Jessi yang mendengar perkataan Axel barusan, hanya diam menunduk.
"Apa kau membawanya sebagai oleh-oleh dari Madrid?" Herry terkekeh.
"Hm"
"Kenapa kau tak bilang padaku Ax? Aku bisa mencarikannya untukmu pembantu disini tanpa harus memungutnya dari sana." Ujar Herry sambil menilai penampilan Jessi.
kakak beradik sama saja. Sama-sama bermulut tajam.
"Apa kau membawa mobilku?" Tanya Axel mengalihkan pembicaraan.
"Ya"
"Mana kunci mobilku? Kau dan Penelop bisa pulang menggunakan taksi."
"Kau akan kemana Ax? Apa kau aka ke apartemenmu? Atau mansionmu?"
"Bukan urusanmu Herr,"
"Itu menjadi urusanku Ax, kita harus membahas persiapan konsermu selanjutnya."
"Berikan saja kunci mobilnya. Aku akan datang ketempatmu nanti."
"Baiklah. Awas saja jika kau tak datang." Herry akhirnya memberikan kunci mobil itu pada Axel.
"Ohiya, Ax, apa kau juga akan membawa pembantu barumu ini?"
"Ya"
"Kau!" Tunjuknya pada Jessi
"Cepat bawa koperku."
setelah mengucapkan itu Axel pergi meninggalkan Herry dan Penelop yang hanya terdiam menatapnya,
Serta Jessi yang kesusahan membawa koper itu sembari mengejar langkah Axel.