Baby From Idol

Baby From Idol
Part 6 Penyesalan Jessi



HAPPY READING


Jessi mengalami sedikit masalah saat mengantarkan pesanan. Ia begitu kesusahan mencari alamat hotel yang di maksud karena tidak begitu hafal dengan jalanan di kota ini. Ingin bertanya di google pun ia tak bisa karna lupa membawa ponsel.


Mau tak mau ia harus bertanya pada para pengguna jalan yang ditemuinya.


Dan di sinilah dia. Di depan pintu kamar hotel dengan nomor yang sesuai dengan alamat si pemesan.


Ding dongggg ...


Ding dongggg ...


"Permisi"


Ding dongggg ...


Ding dongggg ...


Belum ada balasan dari si pengguna kamar.


"Permisi, layanan delifery anda sudah datang"


Kembali ia menekan bel.


Ding dongggg ...


Ding dongggg ...


Ini sudah yang kesekian kalinya. Apakah kamar ini tak berpenghuni? Tapi alamatnya sudah sesuai dengan nomor dari kamar yang ada di hadapannya.


"Sekali lagi, jika masih tidak ada orang aku akan kembali saja".


Ding dongggg ...


Ding dongggg ...


"Permisi,, layanan delifery anda sudah tiba." Teriaknya menggema di lorong kamar hotel. Ia sudah tak peduli jika suara teriakannya mengganggu orang lain.


"Apa mungkin sudah tidak ada orang?" "Lalu bagaimana dengan pesanan ini? Kalau begitu aku akan kembali saja. Lagi pula ini sudah mau gelap." Putusnya.


Cklekk


Pintu kamar terbuka saat Jessi baru akan pergi meninggalkan kamar yang menurutnya sudah tak berpenghuni itu.


"Ah, maaf, aku sudah akan pergi karena kupikir pengguna kamar ini sudah sudah tak disini lagi." Ujarnya yang sibuk mengecek pesanan.


Belum ada jawaban dari si pengguna kamar.


"Apa benar ini alamat yang memesan layanan delivery di Helen's restaurant ?" Tanya jessi memastikan dengan tanpa mengarahkan tatapannya kearah orang yang membuka pintu.


"Hmm ..." ujar singkat dari orang yang masih berdiri di pintu kamar.


"Saya dari res ...." ucapannya seketika mengambang di udara saat melihat siapa orang yang sudah membuatnya menunggu lama di depan pintu


Oh Tuhan! bukankah Ituu Axel?!


Jerit batinnya seakan tak percaya dengan sosok yang ada di hadapannya sekarang.


Apa ini mimpi? Tolong jangan bangunkan aku.


"Ekhmm."


Deheman Axel seolah membuatnya tersadar kembali dari dunia keterkejutannya, ia melanjutkan kembali ucapannya yang sempat terpotong.


"M-ma-maaf." Gugupnya


"Saya dari Helen's Restaurant bertugas mengantarkan pesanan Anda Tuan." Ia menggigit bibir bawahnya berusaha agar tidak berteriak kegirangan.


Ah, s*al! kenapa aku lupa untuk membawa ponsel. Coba saja jika aku membawanya pasti akan sangat beruntung jika berfoto dengan Axel. Karin pasti akan sangat iri denganku. Batinnya penuh dengan penyesalan.


"Bawa masuk." Ujar Axel singkat


"Baiklah " Jessi segera membawa masuk pesanan sesuai perintah Axel.


Ia mencium bau alkohol yang begitu menyengat saat melewati Axel.


Dan Jessi tak kalah terkejut saat memasuki kamar yang di huni Axel. Begitu banyak botol minuman beralkohol yang berserakan.


Apa semua ini ulahnya? Tapi kenapa? Kukira seorang selebriti terkenal sepertinya tak minum minuman seprti ini.


pikirannya di penuhi dengan banyak pertanyaan.


Ah sudahlah ini bukan urusanku. Ia juga pasti punya privasi.


Ia berusaha mengabaikannya.


"Sudah saya letakkan di dalam sesuai perintah Anda Tuan." Ujarnya pada axel yang sedari tadi masih berdiri di belakang pintu.


Sedangkan Axel yang sedang dalam keadaan mabuk, berjalan ke arah Jessi lalu tanpa aba-aba langsung menempelkan bibirnya pada Jessi. Jessi begitu terkejut dengan tindakkan Axel barusan.


"Hmmpp" Ia berusaha melepaskan ciuman Axel.


Namun, seolah tak mengijinka hal tersebut Axel malah mengarahkan tangannya menahan tengkuk Jessi untuk memperdalam ciumannya.


"Le,, pas,," ujarnya memohon pada Axel.


Jessi berusaha memberontak namun tenaganya tak seimbang dengan tenaga Axel yang notabenya adalah seorang pria.


saat Axel melepaskan cengkremannya, Jessi menggunakan celah itu untuk kabur. Namun belum sampai dua langkah Axel sudah kembali menariknya.


"Kumohon Axel,,kau sedang mabuk. Lepaskan aku." Ujarnya memanggil nama Axel dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


"Diamlah sayang." Axel sudah di kuasai na*su.


"Hikss,, hikss,, tolong aku." Percuma saja Jessi berteriak. Tak akan ada yang mendengarnya.


Axel mulai melancarkan kembali aksinya. sedangkan Jessi?


Ia hanya bisa menangis.


Segala bentuk perlawanan telah jessi lakukan, namun tetap saja itu tidak berhasil. Kini Jessi hanya menangis sambil meratapi nasibnya.


Setelah melewati beberapa menit, akhirnya Axel sampai pada puncak permainannya.


Sedangkan Jessi yang berada di bawahnya sudah terkulai lemas.


Tak lama kemudian, Axel kembali melakukan pergulatannya.


Malam itu ia melakukannya berkali-kali dengan Jessi tanpa pengaman, dan tanpa ia sadari karena masih dalam pengaruh alkohol.


Dan bagi Jessi, malam itu adalah malam yang penuh penyesalan untuknya Jessi. Dimana ia kehilangan kehormatan yang sudah dijaganya selama 19 tahun untuk suaminya nanti dan merasa bersalah karena sudah membohongi ibunya hingga berakibat seperti ini.


°°°°°


Sinar mentari menerobos masuk ke jendela kamar hotel, menerpa wajah kedua insan yang sedang tidur di bawah gulungan selimut dengan keadaan tanpa busana.


Jessi terbangun dari tidurnya. Ia merasakan pegal di badannya sekaligus nyeri di bagian bawahnya.


Ia kembali menangis saat teringat kejadian semalam.


Jessi menolehkan kepalanya menatap seorang pria yang sedang tertidur lelap, mungkin karena kelelahan.


Pria yang sudah merampas kehormatannya, sekaligus pria yang sangat di idolakannya.


Ah,mungkin sekarang sudah tak lagi.


Ia menyesal karena sudah mengidolakan pria br*ngs*k di sampingnya ini.


Jessi yang masih menangis diam, memilih beranjak dari kasur yang menjadi saksi penderitaanya semalam menuju ke kamar mandi guna membersihkan dirinya.


"Shhh" ringisnya merasakan nyeri di bagian bawahnya.


BRUKK!!


"aww,," Ia terjatuh saat akan melangkah.


Sungguh ini sangat sakit.


Axel membuka matanya saat mendengar suara seseorang yang terjatuh. Ia melihat ke asal suara, mendapati seorang gadis yang tengah menangis di bawah lantai.


Ia terkejut mengapa gadis itu bisa berada di kamarnya? Namun, ia tak kalah terkejut saat melihat tubuhnya yang sedang dalam keadaan tel*nj*ng. Seketika kejadian semalam samar-samar memenuhi ingatannya.


Berawal dari ayahnya yang menelepon mengancamnya, lalu ia melampiaskan amarahnya pada minuman beralkohol, hingga ....


"****!!" Umpatnya.


Ia mengingat jika gadis yang ada di bawah lantai ini adalah gadis yang mengantarkan makanan yang di pesannya lalu ....


"Arghhh,,"


Ia mengigat itu. Saat ia memaksa gadis itu hingga gad - ah,, bukan gadis lagi tapi mungkin wanita hingga wanita itu menangis meminta tolong.


S*al*n semua ini gara-gara tua bangka itu.


Umpatnya menyalahkan sang ayah atas kejadian semalam.


Axel segera mengambil bajunya yang berserakan di lantai, lalu memakainya. Ia ingin berbicara dengan wanita itu.


Mungkin di dalam kamar mandi.


pikirnya saat tak melihat Jessi di bawah lantai seperti tadi.


Ia memilih menunggunya.


Cklekk


Pintu kamar mandi terbuka.


Axel mengarahkan tatapannya pada wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.


Ia melihat penampilan Jessi yang begitu mengenaskan, dengan wajah pucat dan mata yang bengkak.


Seketika rasa bersalah menghampiri dirinya.


"Lupakan kejadian semalam".


Ujarnya dingin pada jessi yang kini sudah berada di depannya.