
HAPPY READING
"Dari mana saja kau?"
Jessi yang baru saja masuk terperanjat mendengar suara yang begitu mengintrupsinya. Suara yang sudah tak ia dengar selama 3 bulan ini.
Jessi mengarahkan pandangannya ke sumber suara itu. Di sana, ia dapat melihat seorang pria yang tengah duduk, dengan rambut yang acak-acakan, dan tatapan setajam pisau padanya.
Sejak kapan pria itu ada di sana?
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
Jessi melangkahkan kakinya menghampiri Axel.
Ini aneh menurutnya. Kenapa Axel bisa tiba-tiba berada disini setelah berbulan-bulan tak pernah datang lagi.
"Apa kau di ajarkan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"
"Dan untuk pertanyaanmu itu, 'kenapa kau bisa berada disini?' Tentu saja bisa. Apa perlu ku ingatkan lagi kalau apartemen ini milikku?"
Perkataan Axel barusan membuat Jessi terbungkam. Tentu saja ia tahu ini apartemen milik Axel dan ia hanya sekedar menumpang disini.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, dari mana saja kau?" Axel mengulang pertanyaannya.
Jessi bingung harus menjawab apa. Apa dia harus jujur pada Axel jika ia pergi bekerja? Apa Axel tidak akan marah?
"Mm, aku habis mencari udara segar di luar." Jawabnya berbohong.
"Ooh,, jadi kau pergi mencari udara segar di luar ya?" Axel berjalan sembari mengitari tubuh Jessi, membuat Jessi seolah merasa terintimidasi di buatnya.
"I-iya," Jawabnya terbata, sambil memilin ujung kameja yang di gunakannya.
Sedangkan Axel, ia menyeringai mendengar ucapan Jessi. Apa menurut wanita itu ia akan percaya semudah itu padanya?
"Apa kau mencari udara segar dari sore hingga hari mulai gelap?"
Apa dia sudah selama itu di menunggu?
Batin Jessi.
Axel berhenti tepat dihadapan Jessi. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada Jessi yang menunduk, mengangkat dagu itu hingga tatapan mereka bertemu.
"A-aku," lidahnya mendadak keluh menjawab pertanyaan Axel.
"Aku apa hm?" Axel berujar dengan nada yang di buat sesantai mungkin.
Jessi diam merasa terintimidasi dengan posisinya sekarang.
"Jawab pertanyaanku Jessi!"
Deg!
Ini pertama kali Axel memanggil namanya. Dari mana pria itu tau namanya?
"Shh,," Jessi meringis. Sentuhan Axel di dagunya berubah menjadi cengkraman yang kuat, hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Jawab cepat! Aku tak suka menunggu!" Ujar Axel dengan nada tinggi.
"Aku pergi. Pergi bekerja." Jawab Jessi dengan lirih, tetapi masih tertangkap oleh pendengaran Axel.
Axel tertawa mendengar jawaban wanita di hadapannya ini.
"Apa uang bulanan yang kuberi padamu masih kurang?"
"T-tidak"
"Tidak? Apa harus kutambah lagi?"
"Bukan itu maksudku" Axel salah mengartikan ucapannya.
"Lalu?" Axel mengangkat seblah alisnya
"Aku terlalu bosan sendiri disini, oleh karena itu aku mencari kerja untuk menghilangkan rasa bosan."
Semoga jawabannya dapat di terima Axel.
"Apa kau tak berpikir? Bagaimana jika orang lain tahu mengenai hubungan kita? Karirku yang akan menjadi ancamannya."
"Tenanglah, aku tak mengatakan apa-apa mengenaimu di tempat kerjaku."
"Cih,,"
"Mulai besok kau tak perlu bekerja lagi." Ujarnya seolah tak terbantahkan.
Spontan saja Jessi menatap Axel.
Bagaimana dia bisa mengirimkan uang untuk keluarganya di Spanyol jika ia tak bekerja? Bagaiamana dengan uang tabungannya?
"Kumohon, biarkan aku bekerja."
"Aku tak ingin mengambil resiko untuk merusak karirku."
"Aku janji, ini tidak akan berpengaruh pada karirmu. Teman- temanku di sana tahu jika aku hanya seorang janda, dan sepupuku berbaik hati meminjamkan apartemen untukku."
Jessi mencoba menjelaskannya pada Axel.
Sedangkan Axel yang mendengar penuturan Jessi hanya mengernyit bingung.
"Janda?" Tanyanya
"Ya, itu lebih baik dari pada harus mengatakan bahwa aku korban pemerkosaan."
Axel tertegun mendengar ucapan Jessi.
Ia merasa seperti di tusuk pisau tak kasat mata, saat mendengar Jessi adalah korban pemeekosaan. Apa dirinya sebrengsek itu?
"Bagaimana dengan bayimu jika kau bekerja?" Axel mengarahkan pandangannya pada perut Jessi, yang mulai membuncit. Jika ia tebak, mungkin perut wanita itu sudah mulai memasuki bulan ke empat.
Sedangkan Jessi, ia terkejut mendengar pertanyaan Axel. Apa pria di hadapannya ini sudah mulai menerima bayinya?
Ia mengulas senyumnya membayangkan jika memang seperti itu kenyataannya.
"Dia kuat untuk menemani momynya bekerja." Jessi mengusap perutnya.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Tanya Axel lagi.
Jessi makin tersenyum dibuatnya. Ia tak menyangka, lama tak bertemu, membuat Axel menjadi perhatian dengan bayi ini.
Namun, sedetik kemudian senyum manisnya lenyap dari bibir mungilnya, saat mendengar ucapan Axel selanjutnya.
"Aku hanya tak ingin di repotkan oleh bayi itu."
Jessi pikir, Axel sudah mulai memperhatikan bayinya. Ternyata tidak. Ia sudah merasa di terbangkan setinggi langit, namun perkataan Axel barusan membuatnya terhempas kembali ke tanah.
Axel berlalu dari hadapannya, pergi menuju ke arah dapur.
"Aku lapar." Ujarnya memberitahu
Oh iya, Jessi ingat jika ia belum memasak, karena tadi pagi ia hanya memasak untuk sarapannya. Padahal, biasanya ia akan memasak lebih, sampai waktu makan malam nanti.
"Sebentar, aku akan membersihkan diri dulu lalu membuat makan makan malam." Selesai mengatakan itu, Ia berlalu masuk ke kamar tanpa mendengarkan jawaban Axel. Ia masih keceawa terhadap Axel.
Tak lama kemudian, Jessi kembali.ke dapur dengan tampilan yang lebih fresh. Ia melihat isi lemari pendingin, dan menemui beberapa beberapa potong ayam, serta masih banyak lagi bahan makanan yang masih lengkap, karena baru kemarin ia pergi berbelanja bulanan.
"Ada beberapa potong ayam di sini. Apa kau mau kubuatkan Chicken Cordon Bleu?" Tanyanya pada Axel yang tengah sibuk dengan ponselnya di meja makan.
"Hmm," jawabnya dengan gumam.
Mendengar jawaban Axel, Jessi segera berkutat dengan peralatan masaknya.
Setengah jam kemudian, ia sudah selesai memasak.
Jessi menatap puas hasil masakkannya. Segera ia hidangkan masankkannya di meja makan, tepat di depan Axel.
Axel yang melihatnya merasa tergiur saat mencium aromanya. Ia lalu menatap Jessi dan bertanya "Apa kau yang membuatnya?"
"Tentu saja aku. Siapa lagi yang ada disini selain kita?" Jawabnya dengan percaya diri.
"Silahkan makan." lanjutnya
Tanpa menunggu lama-lama, Axel yang memang sudah kelaparan langsung mengambil makanan itu .
Tidak terlalu buruk.
Batinya saat Chicken Cordon Bleu itu masuk ke dalam mulutnya.
Jessi tersenyum melihat Axel yang makan hasil masakannya dengan lahap. Puas memperhatikan Axel, Ia beranjak dari meja makan, untuk membuat susu ibu hamilnya. Ia ingat, jika ia belum meminum susu itu.
"Apa kau tak makan?" Axel memperhatikan Jessi yang sedang membuat susu.
"Tidak, aku sudah makan tadi."
Sebelum pulang tadi, Jessi memang masih sempat makan, hingga sekarang ia belum merasakan rasa lapar.
Mendengar jawaban Jessi, Axel hanya diam, lalu melanjutkan kembali makannya.
Jessi kembali ke meja makan, dengan segelas susu di tangannya.
"Axel,"
"Ya,"
"Mm,," Jessi bingung bagaimana harus mengatakanya.
"Ada apa?" Ia menatap Jessi, yang tak kunjung berbicara.
"Besok adalah waktu untuk Check up kandunganku. Apa kau mau menemaniku untuk pergi?"
Tanyanya berharap Axel akan menjawab 'ya'.
Axel mengalihkan kegiatan makannya, menatap wanita di depannya