Baby From Idol

Baby From Idol
Part 2 Tiket Konser



HAPPY READING


07.00 PM


Tak sampai sejam lagi, penjualan tiket konser sang idola akan resmi di buka.


Setelah melalui perdebatan batin yang panjang, Jessi memutuskan menggunakan uang tabungannya, untuk pembelian tiket konser.


Setelah di pikir-pikir, kapan lagi akan ada kesempatan emas seperti ini?


Bisa saja ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya Axel akan mengadakan konser di Spanyol.


Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. Oleh karena itu, Jessi tak mau melewatkan kesempatan ini. Biarlah uang di tabungan yang menjadi korbannya. Dia masih bisa menunda setahun lagi untuk masuk ke Perguruan Tinggi.


Terdengar gila bukan? Tapi itulah keputusannya.


"Jessi sayang, keluarlah untuk makan malam. Semua sudah menunggumu di meja makan." Ujar ibu membuka pintu kamar Jessi.


"Duluan saja Bu, masih ada hal yang harus kuselesaikan."


"Hal penting apa yang bisa membuatmu meninggalkan makan malam?"


"Mm,, bukan apa-apa Bu. Hanya saja, aku harus menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan ini.


Tanggung jika harus di tinggalkan." Jawabnya mengarahkan pandangan ke arah laptop di pangkuannya, menunjukkan bahwa kesibukannya berhubungan dengan laptop itu.


"Yasudah, segera selesaikan urusanmu itu, dan jangan lupa untuk makan malam."


"Baik Bu."


Setelah pintu kamar tertutup, barulah Jessi bernapas legah. Namun, perasaan bersalah membayanginya karena sudah berbohong.


Hanya itu yang bisa dilakukannya. Sangat tidak mungkin jika Jessi harus jujur dan mengatakan bahwa dia sedang menunggu waktu untuk penjualan tiket konser agar tidak kehabisan.


Ibunya pasti akan sangat marah jika mengetahui hal itu.


Apalagi, uang yang akan digunakan untuk membelinya adalah uang hasil  tabungan untuk masuk ke Perguruan Tinggi.


Memikirkannya, membuat ia teringat pada kejadian beberapa bulan lalu, dimana saat dirinya membeli album milik Axel yang baru saja dirilis.


Saat itu, ibulah orang pertama yang menerima paket pesanan, dan tanpa pikir panjang langsung membukanya karena rasa penasaran dengan isi dari paket tersebut.


Setelah membuka dan melihat isinya, ibu langsung mencari Jessi dan marah-marah karena sudah membeli album itu. Katanya, itu sangatlah tidak penting, dan hanya buang-buang uang saja.


"Kenapa kau menggunakan uangmu untuk hal tidak berguna seperti ini Jessi?! Bukankah kau sedang menabung untuk biaya masuk ke Perguruan Tinggi, dan sekarang kau malah menggunakan uangmu untuk sesuatu yang tidak penting!!


Sudah kukatakan padamu sebelumnya agar tidak membuang-buang uang dan waktumu untuk hal-hal tidak berguna seperti ini. Berhenti mengidolakan orang lain dan fokuslah pada hidupmu sendiri." Bentak ibu padanya yang hanya diam menunduk mendengarkan amarah sang ibu.


"Maafkan Jessi Bu, tapi Jessi sangat ingin membelinya. Jessi janji, ini yang pertama dan terakhir kalinya membeli barang seperti itu."


"Jika kulihat kau memesan barang seperti ini lagi, ibu tak segan-segan untuk membakarnya di hadapanmu Jessi!! Gunakan uangmu untuk sesuatu yang bermanfaat!"


Huh, mengingat kejadian itu membuatnya bergidik ngeri.


Jangan sampai ibu mengetahui rencanaku yang satu ini. Bisa-bisa dia akan mengurungku di kamar dan tidak mengijinkanku untuk keluar menonton konser idolaku.


Maafkan Jessi karna sudah berbohong. Semoga Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir.


Ah ya, sekarang sudah pukul 07.29 PM. Semenit lagi untuk menuju waktu penjualan tiket konser di buka. Jessi sudah bersiap-siap untuk mengklik tulisan 'Beli' yang ada di layar monitor laptopnya.


Dia berharap supaya tidak akan kehabisan tiketknya, karena harus berebutan dengan ratusan ribu penggemar lainnya yang sudah pasti akan membeli tiket demi bisa menonton secara langsung penampilan sang idola.


3


2


1


Klikk


Yess, dia berhasil mendapatkan 2 tiket untuknya dan Karin. Astaga betapa bahagianya dia saat ini.


Apakah kalian tahu? Kurang lebih saat dua detik setelah penjualan itu di buka, tiket konsernya langsung habis terjual. Sangat beruntung Jessi masih bisa mendapatkannya.


Tok, tok, tok,


"Masuk saja" Teriaknya saat mendengar bunyi ketukan yang berasal dari luar pintu kamarnya


Terlihat Karin yang baru saja memasuki kamar. Oh ya, Jessi lupa jika karin akan datang kembali padanya malam ini.


"Bagaimana hasilnya Jess? Apa kau berhasil mendapatkannya?" Sungguh, Jessi sangat ingin tertawa melihat wajah karin saat bertanya padanya. Sahabatnya itu memasang wajah penuh harap.


"Hm,, maafkan aku karin, mungkin ini bukan hari keberuntungan kita."  Jawab Jessi dengan wajah yang dibuat semenyesal mungkin.


Tak apa bukan, jika harus memberi sahabatnya itu sedikit kejutan dengan berbohong?


Ouhh astaga Jessi! Entah sudah berapa banyak dosa yang kau buat dengan berbohong.


"Yahh, padahalah aku sudah banyak berharap agar bisa menonton konser itu." Satu tetes air mata lolos di pipinya.


"Tak apa karin, mungkin kita masih bisa menontonnya di lain waktu."


Karin hanya diam tak membalas ucapan Jessi. Makin banyak tetesan air mata yang mengalir di pipinya.


Dia sedang menahan isakannya, dan berusaha setegar mungkin.


Hei! Siapa yang tidak akan sedih jika sudah berharap tinggi?


Mungkin jika Jessi benar-benar tidak mendapatkan tiket konser itu, ia tak bisa menjamin jika dirinya tak akan lebih parah dari Karin.


Bisa jadi, seumur hidupnya ia tidak akan pernah tenang. Ergh, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.


Jessi melirik lagi kearah karin. Dia masih sama seperti sebelumnya. Si*l, ia tidak tega jika harus berlama-lama membuat Karin menangis.


Jessi akan semakin merasa bersalah.


"PRANK!!


Kata siapa aku tidak berhasil mendapatkannya?" Teriaknya mengagetkan Karin.


"Sudahlah, tak perlu berbohong seperti itu padaku, aku tak apa. Mungkin kau benar, ini bukan hari keberuntungan kita."


Hei! katakan, apa Jessi sudah keterlaluan membohonginya?


Tapi lihatlah ini."


Ujar Jessi sambil memperlihatkan layar laptop yang berisi keterangan bahwa ia sudah berhasil membeli tiket itu.


"Ya Tuhan, jessi! Apakah ini sungguhan? Mengapa kau tega membohongiku Jessi. hiks ... hiks ...."


Dia makin menangis dengan kencang


"Ehehe, maafkan aku. Aku hanya berniat memberimu kejutan."


"Kau keterlaluan Jess. Kupikir kita tidak akan bisa menonton konsernya."


Ujarnya sambil menyeka ingus di baju Jessi.


"Ewhh, kau sangat jorok Karin."


"Salahmu telah  membuatku menangis."


"Oke, baiklah. Maafkan aku Karin sayang, rencana kita untuk menonton konser tetap akan berjalan dengan lancar."


"Tentu saja. Aku akan mengurus sisanya."


"Sisanya? Apa maksudmu?"


Tanya Jessi.


"Tentu saja transportasi dan penginapannya Jess."


"What? Penginapan? Apakah kita akan menginap? Tapi kenapa? Bukankah kita bisa pergi dan pulang setelah menonton konsernya?"


Karin berdecak kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Jessi padanya.


"Apakah kau gila? Perjalanan dari Granada ke Madrid memakan waktu yang cukup lama. Dan kau meminta untuk langsung pulang setelah selesai menonton?" Karin menatap garang Jessi.


"Lalu apakah kita akan menginap? Pasti biaya untuk penginapannya akan mahal, belum lagi biaya untuk makan dan transportasinya."


Jessi sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan ia keluarkan nanti. Bisa-bisa, tabungannya akan habis tak tersisa.


"Sudah kukatakan bukan? Masalah transportasi dan penginapan biar aku yang urus.


Sebelumnya, aku sudah mengatakan pada bibiku yang ada di madrid bahwa aku akan menginap di sana bersama temanku karena kami akan menonton konser." Ujarnya dengan penuh senyum, seolah sedang membayangkan saat tiba waktu menonton konser.


"Kau terlihat sangat percaya diri mengatakan hal itu pada bibimu.


Bagaimana jika ternyata kita tidak bisa menontonnya karena kehabisan tiket?"


"Sudahlah, yang penting sekarang kau berhasil mendapatkan tiketnya bukan?"


"Huh, terserah kau saja.


Lalu bagaimana dengan transportasinya?"


"Tenang saja, untuk perjalanan ke Madrid, kita akan mendapatkannya secara gratis juga.


Pamanku akan datang besok dan akan kembali ke Madrid dua hari setelahnya. Itu bertepatan dengan hari saat konser, dan Kita bisa menumpang padanya. Sedangkan untuk pulang ke Granada, kita bisa memikirkannya nanti. Mungkin aku bisa meminta ayahku untuk menjemput kita jika dia tidak sedang  sibuk." Karin menjelaskan panjang lebar.


"Wahh benarkah?"


Betapa bahagianya Jessi.


Ternyata uang tabungannya tidak akan terkuras habis untuk membayar biaya penginapan dan transportasi.


Karin mendengus menatap sahabtnya itu.


"Giliran ada yang gratis baru matanya berbinar."


"Ehehe,," Jessi hanya bisa tersenyum menanggapinya ucapan sahabatnya itu.


"Persiapakan saja semua yang akan kita perlukan selama berada di Madrid nanti. Jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Tentu saja! Akan kusiapkan semuanya sebaik mungkin." Kata Jessi dengan penuh semangat.


"Oh ya, aku akan menghubingimu nanti. Aku harus segera pulang. Ini sudah hampir jam sembilan."


"Siap kapten."


"Jangan hanya siap tapi habis itu kau bahkan tidak akan membuka ponselmu."


Jessi menyengir mendengarnya


"Aku janji akan membuka ponsel untuk membahas kesiapannya bersamamu.


Sudah sana pulang, dan hati-hati dijalan."


"Tck, awas saja jika tidak!"


"Aku pergi dahh." Ujar Karin yang sudah menghilan di balik pintu Kamar,  meninggalkan Jessi sendirian.


Jessi sangat bahagia membayangkan semua rencana mereka akan berjalan dengan lancar.


Ahh, ia sudah tak sabar menantikan hari itu tiba.


Krukkk,


Itu suara perutnya.


Jessi baru ingat jika ia telah melewati waktu makan malam.


Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan pergi menuju meja makan.


Jessi yakin, keadaan dapur sudah sepi karena ini sudah hampir 2 jam sejak ibu memanggilnya untuk makan malam.


Mereka pasti sudah selesai.


Batinnya.


Tak apa jika ia harus makan sendirian.


Jessi tak menyesal melewatkan makan malam bersama, karena ia menggunakan waktunya untuk berburu tiket dan itu membuahkan hasil yang cukup memuaskan.