Baby From Idol

Baby From Idol
Part 29 Taman



HAPPY READING


"Jess, apa kau benar sedang baik-baik saja?" El begitu khawatir melihat kondisi Jessi.


Sudah sejak tadi, Jessi terlihat seperti tidak bersemangat saat menonton. Ia hanya menatap datar tanpa ekspresi ke layar televisi yang menampilkan drama favoritnya.


Berbanding balik dengan biasanya saat di cafe, saat dia dengan heboh bercerita tentang alur dari drama yang di tontonnya hingga menghasut orang lain juga.


"Kau sudah menanyakan pertanyaan yang sama lebih dari sepuluh kali El."


El mengambil tangan Jessi yang berada di pangkuannya lalu menggenggam tangan itu.


"Mengertilah Jess, aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Sejak kedatanganku tadi kau terlihat seperti tidak baik. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kalian." Pandangan El tertuju pada perut Jessi.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku El, aku merasa senang mempunyai teman seperrimu sepertimu." Ujarnya tersenyum.


"Sudah tugasku sebagai teman." El mengacak-acar rambut Jessi, lalu berlih ke pipin dan mecubitnya.


"Aw, sakit El," Ia menfusap-usap pipinya.


"Oh ya, Jess. Bagaimana jika kita peegi keluar berjalan-jalan?" Ajak El, karena menurutnya itu mungkin bisa mengalihkan Jessi dari masalah yang sedang di hadapinya.


"Kemana?"


"Eumh ... sebentar, akan kupikirkan dulu." Ujar El seraya menggosok dagunya dengan telunjuk sepertu sedang berpikir.


"Aku tahu. Bagaimana jika kita pergi ke taman?" Usulnya yang di dapat dari hasil pemikiran.


Jessi diam sejenak untuk berpikir, lalu menganggukkan kepalanya.


"Tidak buruk." Iya mengangkat bahunya.


"Ya sudah, ayo." El berdiri menarik tangan Jessi dengan maksud ingin keluar.


"Tunggu sebentar." Ia melepas genggaman El di tangannya.


"Apa kau ingin pergi bersamaku dengan penampilan seperti ini?" Oh astaga, lihatlah penampilan Jessi. Ia hanya mengenakan baju tidur serta matanya yang sedikit bengkak karena menangis dan rambutnya yang sesikit tidak beraturan.


"Cepat ganti baju dan perbaiku penampilanmu. Aku tidak mau di sangka sedang membawa lari pasien rumah sakit jiwa."


"Sialan" Jessi berlari ke kamarnya.


"Pelan-pelan Jess, ingat kau tidak sendiri. " Teriak El.


Wanita itu memang suka lupa jika dirinya kini sedang mengandung, hingga tak sadar jika apa yang di lakukannya bisa saja membahayakan janin dalam perutnya.


Lima belas menit kemudian, Jessi keluar dengan pakaian santainya. Ia mengenakan dress bermotif bunga berwarna putih gading, yang terlihat sangat pas di tubuhnya dengan perut yang mulai membuncit.


Rambut Jessi pun sudah tak seperti sebelumnya. Ia menggerai rambutnya yang di hiasi jepit rambut berwarna pink di bagian sisi kanan.


Tak lupa pula ia memadukan penampilannya dengan sneakers berwarna putih hitam miliknya, serta polesan make up** tipis untuk menutupi mata sembabnya.


Penampilannya seperti itu makin menegaskan jika ia adalah seorang remaja. Terkecuali jika ke melihat bagian perutnya.


El saja di buat terpanah dengan penampilan Jessi.


"Ayo"


"Apa benar ini pasien rumah sakit jiwa yang tadi menonton bersamaku?"


Buukk


"Aw, sakit Jess." Ringis El yang mendapat hadiah dari Jessi atas ucapnnya.


"Ayo pergi sebelum aku berubah pikira." Jessi terlebih dulu berjala meninggalkan El yang masih megusap-usap bahunya.


"Dasar wanita,"


"Hei, tunggu."


°°°°°


Selang tiga puluh menit kemudian, keduanya sampai di taman yang di maksud El.


"Wah ramai sekali." Ujar Jessi menatap sekeliling.


Tentu saja ramai. Hari ini adalah akhir pekan. Banyak orang menggunakan waktu ini untuk quality time bersama keluarga kecil mereka.


Terlihat juga beberapa anak remaja yang sedang berkumpul bersama teman, para penjual makanan dan minuman yang ada di beberapa tempat di taman, serta anak-anak kecil yang berlarian ke sana ke mari.


"Ini akhir pekan Jess, wajar saja jika ramai."


Mereka berjalan menyusuri setiap sudut taman.


"Udara di sini lumayan sejuk" Jessi menutup matanya meresakan angin sejuk yang berhembus pelan.


"Tentu saja. Di sini banyak pepohonan yang akan menghasilakan oksigen, oleh karena itu kau akan merasakan kesejukkannya."


"Di sana. Ada tempat yang bagus untuk duduk bersantai di bawah pohon sana. Ayo" El membimbing Jessi ke tempat yang di tunjuknya.


"Tempat ini sangat teduh." Jessi memperhatikan dedaunan rimbun milik pohon yang melindunginya dari sinar matahari langsung.


"Tunggu sebentar." Selesai mengatakan iti, El pergi menghilang. Jessi tak menghiraukan kepergian El, karena dia yakin kemanapun pria itu pergi pasti tetap akan kembali. Tidak mungkin ia meninggalkannya sendiri di sini.


Jessi memperhatikan seorang anak perempuan yang bermain sendiri, tak jauh di depannya.


Merasa di perhatikan, anak itu menoleh ke arah Jessi. Jessi tersenyum membalas tatapannya.


Gadis kecil itu berjalan ke arah Jessi sambil membawa bunga di tangannya, yang mungkin di petiknya di taman itu.


"Hai aunty" Sapa anak itu.


"Ohh, hai juga princess"


"Apa aunty sendirian saja?" Tanyanya sambil menatap sekeliling mencoba mencari jika wanita di depannya ini datang tidak sendiri.


"Tidak sayang, aunty datang bersama seseorang."


"Di mana orang itu? Apa dia suami aunty? Kenapa dia meninggalkan aunty sendiri?"


Jessi hanya tersenyum saat anak itu bertanya jika El adalah suaminya.


"Dia sedang pergi sebentar. Bagaimana denganmu? Apa kau datang bersama orang tuamu?"


"Iya, itu mama dan papaku" Ia menunjuk sepasang suami istri yang sedang tertwa bercanda, berada sekitar tiga puluh meter dari tempat mereka.


Jessi ber'oh' saat anak itu memberitahunya.


"Siapa namamu?" Tanya Jessi mengusap rambut panjang gadis itu.


"Lily aunty."


"Nama yang cantik. Seperti orangnya." Jessi mencubit gemas pipi anak itu.


"Terima kasih. Oh ya, apa di perutmu sedang ada baby? Sama seperti perut mamaku."


Lily menatap perut Jessi.


"Ya, kau benar. Sedang ada baby di sini. Apa kau mau menyapanya."


Lily terkikik mendengar perkataan Jessi. Dengan penuh semangat dia mendekat ke arah Jessi lalu mengusap pelan perut itu.


"Hai baby, ini Lily."


"Hai juga Lily." Jessi menirukan suara anak-anak.


"Kenapa dia tidak bergerak seperti adikku?" Tanya Lily


"Belum saatnya. Beberapa minggu lagi dia akan bergerak-gerak seperti adik Lily." Jessi menarik kedua sudut bibirnya melihat tingkah lucu anak itu.


Lily tampak menganggukkan kepalanya mengerti.


"Aunty, Lily pergi dulu. Mama pasti akan mencariku. See you" Dia pergi sambil berlari kegirangan.


"Hati-hati," Teriak Jessi berharap Lily mendengarnya.


"Siapa itu?" Tanya El yang muncul dari belakang, sambil menyodorkan ice cream dengan rasa coklat pada Jessi.


El mendudukkan badannya di sampinga Jessi.


"Thank you"


"Itu Lily anak kecil yang manis."


Ia menatap Lily yang sudah bersama orang tuanya. Sepertinya mereka akan pergi meninggalkan taman. Lily melambaikan tangannya pada Jessi.


"Apa kau menyukai anak kecil?"


"Ya ... tingkah mereka bisa membuat kita terhibur."


"Bersabarlah sebentar lagi. Kau akan segera memilikinya sendiri."


"Aku tidak sabar menantinya." Ia menatap perutnya sambil membayangkan sosok anaknya yang akan lahir beberapa bulan lagi.


"El, terima kasih sudah mengajakku ke sini. Aku merasa lebih tenang dari sebelumnya."


"Sama-sama. Jika kau butuh menenangkan pikiran, maka aku akan selalu ada untukmu." El menaik turunkan alisnya menggoda Jessi.


Jessi menggelengkan kepalanya melihat tingkah El.


Dia bersyukur. Meskipun jauh dengan Karin, setidaknya di sini dia mendapatkan orang yang seperti Karin.