Baby From Idol

Baby From Idol
Part 19 Jujur



HAPPY READING


"Tidak. Aku tak menyembunyikan apa-apa darimu Herr,"


"Aku tau kau berbohong Ax, katakan yang sejujurnya. Aku ingin mendengarnya langsung darimu."


Apa dia harus memberitahu ini pada Herry? Ia yakin Herry pasti tak akan memberitahunya pada siapa pun. Manajernya itu akan menjaga privasinya. Tapi, hanya saja ia ingin semua ini hanya dia dan wanita itu yang tahu. Tak ingin melibatkan orang lain di dalamnya.


Melihat keterdiaman Axel, rupanya tak  membuat Herry mengurungkan niatnya. Ia  kembali bertanya padanya.


"Jadi?" Ia masih berharap Axel akan memberitahu sesuatu padanya.


"Dia hamil." Dengan terpaksa ia harus memberi tahu pada Herry. Ya, lagi pula cuma Herry.


"Hamil? Lalu?" Tanya Herry yang masih tak paham dengan jawaban Axel.


Perempuan itu hamil? Lalu kenapa? Kenapa dia bersama Axel saat hamil? Dimana suaminya?


"Dia hamil, anakku."


"Apa?! Maaf, pendengaranku sepertinya bermasalah."


"Tidak. Kau jelas mendengarnya."


"Apa?, ta-tapi, arghh"


"Maksudku, bagaimana mungkin dia bisa?" Herry meremas rambutnya. Sungguh ini di luar dugaannya. Dipikirnya perempuan itu sedang hamil anak dari suaminya. Ternyata itu ulah Axel.


"Tentu saja bisa. Aku memperkosanya saat di Madrid."


Ia menatap lekat manik hitam milik Herry.


"Kenapa bisa seperti itu?"


Axel menceritakan semua pada Herry.


Di mulai dari saat Ayahnya yang selalu menghubunginya untuk meninggalkan karir dan lebih memilih menjadi pewaris, saat Ayahnya mengancamnya, hingga ia melampiaskan semua itu pada minuman beralkohol yang membuatnya tak sengaja memperkosa wanita itu yang pada saat itu mengantar makanan pesanannya.


Semua ia ceritakan secara lengkap pada Herry, tak ada yang terlewatkan, termasuk saat wanita itu meminta tanggung jawab padanya, hingga ia memutuskan untuk membawa wanita itu ke New York.


"Aku tak habis pikir denganmu Ax. Bagaimana bisa kau seceroboh ini. Saat pertama kali melihatnya aku tau yang kau katakan bahwa dia adalah pembantumu itu tidak benar. Kau sudah punya Penelop sebagai asistenmu."


Kecurigaan Herry terhadap wanita itu ternyata memang benar. Tak mungkin dia hanya sekedar pembantu untuk Axel.


"Apa kau mengira aku juga menginginkan hal ini terjadi? Huh, tentu saja tidak."


"Kebiasaanmu melampiaskan sesuatu ke minuman berakibat seperti ini."


"Apa kau yakin itu anakmu?" Lanjut Herry bertanya.


"Entahlah," Axel pun tak tau jawabannya.


"Oh Tuhan, masalah apa lagi ini? Kau sekarang bertanggung jawab padanya dengan membiayai segala kebutuhannya, tapi kau sendiri tak yakin dengan bayi itu. Apa kau tak takut jika ia hanya memanfaatkanmu?" Emosi Herry makin tinggi.


"Bagaiman jika mungkin bayi itu anakku? Saat aku melakukan itu padanya ia masih perawan." Axel ingat. Dialah pria pertama wanita itu. Dia yang mengubah status Jessi dari gadis menjadi wanita.


"Apa karna dia masih perawan saat kau melakukannya bukan berarti itu bayimu. Bagaimana jika selanjutnya dia melakukannya dengan orang lain lalu mengaku kalau dia hamil anakmu?"


Axel mengacak rambutnya.


"Sudahlah Herr, jangan menambah bebanku. Aku sudah cukup tertekan dengan masalah ini." Ia juga sebenarnya setuju dengan pernyataan Herry, jika bayi itu belum tentu anaknya. Tapi sudahlah, ia tak mau berpikir lagi. Yang terpenting ia hanya akan bertanggung jawab sampai wanita itu melahirkan, lalu semua akan kembali seperti semula.


"Aku hanya bertanya padamu untuk memastikannya Ax. Jangan sampai wanita itu dan bayinya merusak karirmu."


"Aku pun tak ingin seperti itu."


Axel menyetujui ucapan Herry.


Herry menyapukan pandangannya keseluruh sudut penthouse Axel.


"Lalu dimana wanita itu? Aku tak melihatnya." Ujarnya yang belum melihat wanita itu sejak kedatangannya.


"Dia tak disini. Aku membawanya ke apartemenku"


Axel mempertimbangkan pertanyaan Herry. Apakah ia harus memberitahunya juga dimana ia menyimpan wanita itu?


"Kau tak perlu tahu."


Ya, Herry tak perlu tahu tentang hal ini.


"Baiklah jika kau tak ingin mengatakannya. Tapi jngan sampai kau luluh dengan mereka Ax, ingatlah untuk membuangnya saat semua ini selesai, lalu hiduplah seperti sebelumnya."


Tak apa jika kau tak memberitahunya. Aku bisa mencari tahunya sendiri, dan memberi sedikit pelajaran pada wanita itu.


"Akan kulakukan tanpa kau memberitahunya."


"Bagus"


"Oh ya, bagaimana dengan Ayahmu? Apa dia masih sering menghubungimu?" Satu lagi yang Herry takutkan bisa mengganggu karir Axel. Apalagi kalau bukan Ayahnya.


Herry jelas takut terjadi sesuatu dengan karir Axel, karen pria itu sedang berada di puncaknya. Ia jelas tahu bagaimana perjuangan Axel hingga bisa seperti ini, dan jelas itu tak semudah membalikkan telapak tangan.


Butuh waktu dan banyak pengorbanan agar bisa seperti ini.


"Tidak. Terakhir kali saat di Madrid."


Setidaknya Axel bersyukur karena akhir-akhir ini Ayahnya tidak menghubunginya lagi.


Bukan tidak. Tapi belum.


"Syukurlah. Setidaknya Ayahmu belum menambah masalah."


"Hmm" gumam Axel.


Ya, Herry benar. Setidaknya ayahnya belum menambah masalah saat ini. Mungkin tua bangka itu terlalu sibuk mengurus bisnisnya.


"Aku harus pergi. Jangan lupa untu datang ke kantor besok untuk membahas kegiatanmu selanjutnya."


"Ya."


"Sampai jumpa besok." Selesai mengatakan itu, Herry berlalu meninggalkan Axel sendirian di penthousenya dengan banyak pikiran yang mengganggunya.


Apalagi kalau bukan Jessi dan Ayahnya.


°°°°°


Sudah lewat seminggu sejak Axel menemani Jessi untuk melakukan check up. 


Dan saati ini, Jessi tengah berada di pusat perbelanjaan, untuk membeli susu ibu hamilnya yang memang sudah habis, serta membeli beberapa ice krim, untuk di jadikan stok. Semenjak hamil, dirinya sering bangun di tengah malam hanya untuk memakan ice krim. Apa mungkin ini yang namanya ngidam?


Disini Jessi tak sendirian, melainkan bersama El, yang sedari pulang kerja tadi selalu menawari diri untuk menemaninya.


Ralat. Pria satu ini bukan menawari, tapi memaksa dirinya untuk ikut, dengan alasan 'aku tak mau ibu hamil ini kenapa-napa.' Kurang lebih begitu alasannya. Terpaksa dan dipaksa Jessi mengiyakan El untuk ikut bersamanya. Luamayanlah, dirinya jadi punya teman untuk di ajak bicara.


"Apa kau ingin mencoba yang ini?" Ujar El sambil menunjukkan susu dengan rasa vanila.


"Sudah kubilang El, aku tak suka rasa lain selain yang coklat." Jessi mengambil susu yang sesuai rasa yang disukainya.


El menahan tangan Jessi untuk memasukkan susu yang dipilihnya ke dalam keranjang.


"Sesekali cobalah hal yang baru. Rasa vanila tak seburuk yang kau pikirkan. Ini rasa favoritku."


"Tapi aku tak suka El,"


Jessi menatap heran dengan perbuatan temannya yang satu ini. El tiba-tiba saja menunduk sejajar dengan perutnya, lalu berkata


"Hey Baby, katakan pada mommymu untuk mencoba hal baru. Itu tak seburuk yang di pikirnya." Tak lupa pula ia mengelus-elus perut Jessi.


"El apa yang kau lakukan, cepat berdiri." Wajah Jessi sukses dibuat merah oleh El. Ia menatap sekelilingnya. Mereka sukses jadi penonton  pengunjung di sini.


"Pasangan yang romantis. Semoga kalian selalu bersama untuk selamanya." Ujar salah seorang pengunjung yang berada tak jauh dari mereka.


"Ah, terima kasih Bibi." El membalas ucapannya


Tak jauh dari tempat mereka, seseorang tengah memperhatikan tontonan yang menurutnya murahan.