Baby From Idol

Baby From Idol
Part 5 Ancaman



HAPPY READING


Konser telah usai sejak tiga hari yang lalu. Setelah malam yang di tunggu-tunggu itu berakhir, Jessi dan Karin segera kembali ke rumah Bibi Helen.


Raut wajah penuh kebahagiaan masih bisa terlihat. Keduanya bahagia karena akhirnya bisa melihat penampilan sang idola secara langsung, walaupun hanya dari kejauhan karena mereka hanya memesan tiket yang biasa, bukan VVIP. Namun itu tak memudarkan semangat mereka. Keduanya masih tetap bersyukur.


"Jess, aku masih merasa ini seperti mimpi. Tak kusangka akhirnya kita bisa menonton konser Axel." ujar karin memutar kembali memori di malam itu.


"Kau kira hanya kau saja yang merasa jika ini mimpi? Aku pun merasa sangat bahagia bahkan aku tak menyesal sudah menggunakan uang tabunganku." Kata Jessi ikut menimpali perkataan Karin.


"Rasanya aku ingin menonton konser Axel lagi."


"Hei jangan macam-macam! Kau tak bisa menonton tanpaku. Dan kita belum akan menonton konsernya sampai beberapa bulan kedepan, karena aku harus mengumpulkan uang dulu baru bisa menonton. Dan itu pun jika Axel akan mengadakan konser disini lagi."


"Aku yakin Axel akan mengadakan konser disini lagi! Dan jika itu terjadi aku akan pergi menontonnya sendiri. Kau fokuslah mengumpulkan uang untuk kuliahmu nanti. Jika kau terus menonton konser bisa-bisa kau tidak akan kuliah!!" Karin dengan begitu yakin jika Axel akan kembali mengadakan konser Madrid lagi.


"Aishh,, kau tak bisa melakukan itu tanpaku karin.


Bagaimana jika dia tidak akan mengadakan konser disini lagi?" Sepertinya Jessi ingin mengundang amarah 'Singa Betina'.


"Tidak! Dia pasti akan melakukannya lagi!" Karin mulai tersulut emosi.


Jessi tertawa melihat sahabatnya yang mulai termakan omongannya itu.


Sambil mengendikkan bahunya Jessi berkata


"Firasatku mengatakan itu adalah konsernya yang pertama dan terakhir di Madrid."


"Heleh! Memangnya kau siapanya Axel hingga bisa mempunyai firasat tentang konsernya. Dan ya, jika ini menjadi konsernya yang pertama dan terakhir di Madrid, siapa tahu ke esokkannya dia akan mengadakan konser di Granada. Aku tak perlu jauh-jauh lagi ke Madrid." Jessi sudah tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Karin dan itu membuat Karin semakin kesal padanya.


"Sudahlah kalian ini jangan beradu mulut terus. Sudah seperti anak Kecil saja." UjarBibi Helen yang sedari tadi menjadi penonton antara keponakan dan sahabatnya itu.


"Bukankah kalian masih akan mengantarkan pesanan selanjutnya?"


Lanjut Bibi Helen mengingatkan.


Bibi Helen memang mempunyai usaha restaurant kecil-kecilan. Dan semenjak menginap di rumah Bibi Helen, Karin dan Jessi sering membantunya di restaurant.


Pekerjaan yang mereka lakukan tidak terlalu berat karena Bibi Helen juga mempunyai beberapa karyawan. Mereka hanya bertugas mengantar pesanan-pesanan yang dipesan secara online karena karyawan yang biasanya bertugas mengantarkan pesanan itu sedang meminta cuti untuk pulang ke kota asalnya karena harus mengurus orang tuanya yang sedang sakit. Mereka sering membagi pekerjaannya agar cepat selesai.


"Ah iya,, masih ada beberapa pesanan yang harus diantar." Ucap Jessi yang teringat dengan pekerjaan mereka.


"Kalian bisa membaginya seperti biasa agar cepat selesai."


"Iya, Bibi benar." Karin membenarkan ucapan bibinya.


"Kalau begitu Bibi bagikan saja pada kami alamat yang harus di antarkan pesanannya." Lanjut Karin.


"Masih ada tiga pesanan lagi yang akan di antar. Karin akan mengantar dua pesanan dan Jessi bisa mengantar sisanya. Dua pesanan yang akan karin antar berada di kompleks perumahan elit jadi jaraknya tak terlalu berjauhan dan mungkin hanya berbeda blok saja. Sedangkan untuk Jessi, kau akan mengantar pesanan di hotel. Bagaimana, apa kalian setuju dengan pembagiannya?" Kata Bibi Helen menjelaskan.


"Setuju!"


Ujar Jessi dan Karin bersamaan


"Baiklah, kalau begitu silahkan bersiap-siap untuk mengantarkan pesanannya. Untuk alamat lebih lengkap para karyawan akan menaruhnya di masing-masing pesanan."


Setelah mendengar ucapan Bibi, keduanya segera bergegas untuk mengantarkan pesanan.


°°°°°


Botol minuman beralkohol banyak berserakan di salah satu kamar hotel bintang lima di Madrid, akibat ulah dari sang empu pengguna kamar tersebut.


Orang tersebut begitu merasa tertekan dengan masalah yang sedang di hadapinya saat ini.


Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Axel. Orang yang beberapa hari lalu sukses mengadakan konser di Madrid.


Seperti kata sang manajer beberapa waktu lalu sebelum  mengadakan konser di Madrid, bahwa ia masih memilik waktu untuk istirahat tiga minggu sebelum konser selanjutnya di gelar. Dan sekarang ia sedang menggunakan waktu tiga minggu itu  untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan berdiam diri di kamar hotel menikmati waktu liburnya.


Akan tetapi, semenjak semalam ia sudah tak bisa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya karena Mark, Ayahnya, yang terus saja menhghubunginya.


Mark selalu menghubunginya untuk sesuatu yang sudah ia tolak berkali-kali. Seperti yang kalian tahu, ayahnya adalah pemilik perusahaan terbesar di benua Amerika dan Mark  begitu menginginkan anaknya menjadi pewaris perusahaan untuk melanjutkan kerajaan bisnisnya di banding menjadi seorang Selebriti terkenal.


Ini sudah yang kesekian kali Mark membujuknya dan jawaban Axel masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya.


Tak tahan dengan sang anak yang sering menolak permintaanya, Mark pun terpaksa menggunakan cara lain yaitu dengan mengancam Axel.


Hal tersebut tentu saja membuat Axel emosi. Ia tau bahwa ancam Ayahnya bukan cuma sekedar angin lalu. Mark akan melakukan apapun yang ia bisa selama hal itu bisa membuat keinginanya tercapai.


Mark memberinya pilihan yang sulit. Segera kembali dan menjadi penerus perusahaan, atau ia akan menghancurkan karir Axel sehancur-hancurnya. Kedua pilihan tersebut membuat Axel menjadi frustasi dan memilih melampiaskan pada minuman berarkohol.


"Arghh,, kepalaku sangat pusing."


Ujarnya terbangun dari tidur.


Ia melihat jam yang kini menunjukkan pukul 16.15 PM.


"Si*l!! Semua ini gara-gara tua bangka itu." Ujarnya kasar yang di tujukan pada sang Ayah.


Krukk ... krukkk


Itu suara perut Axel. Semenjak semalam ia belum makan karena hanya meminum minumanya. Dan seharian ini pun ia  tertidur. Ia tak sempat sarapan atau pun makan siang.


Segera Axel membersihkan dirinya tanpa membersihkan botol-botol minuman yang berserakan. Biarlah itu menjadi tugas Penelop asistennya.


Axel memang sengaja menahan Penelop bersamanya agar Penelop bisa membantunya seperti sekarang. Tak mungkin jika ia memanggil Cleaning Service untuk membersihkan kamarnya. Bisa-bisa mereka melihat kelakuannya yang mengonsumsi minuman beralkohol dan akan menyebarkan hal itu pada publik hingga membuat citranya rusak.


Akan tetapi, ia tak mengijinkan Herry bersamanya karena pria yang satu itu banyak sekali mengatur walaupun Herry sudah membujuknya. Mungkin jika Herry ada di sini ia pasti akan sangat marah melihat kondisi Axel saat ini. Dan untuk Penelop, asistennya itu menempati kamar yang berada tepat di sebelah kamar Axel.


Setelah membersihkan diri Axel menelepon Penelop untuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya sekalian memesankan makanan karena ia sudah merasa sangat lapar.


Penelop tidak mengangkat teleponnya dan Axel terlalu malas untuk keluar dari kamar mencari Penelop yang berda di kamar sebelahnya.


Ia memutuskan untuk memesan makananya sendiri tanpa memilih-milih apakah harus dari restaurant bintang lima atau tidak. Ia memesan asal-asal karena sudah merasa lapar dan tak ada waktu untuk melihat daftar restaurant terbaik.


Drtt ... drtt


Ponselnya bergetar.


"Secepat itu huh?" Pikirnya itu adalah layanan delivery dari restoran yang ia pesankan makanan.


"Tua Bangka itu lagi." Katanya setelah melihat nama si penelepon yang tertera di layar handphonenya.


Ia mengabaikan panggilan itu.


Drtt ... drtt ...


Ponselnya bergetar kembali.


Dengn malas Axel terpaksa mengangkatnya.


"Hai Son, mencoba mengabaikanku?"


Axel diam mendengarkan.


"Baiklah, aku tak mau berbasa-basi lagi. Jadi apakah kau sudah memutuskan pilihanmu?" Tanya Mark di sebrang sana yang berhasil membuat Axel mulai tersulut emosi.


"Apa sebenarnya maumu Dad?"


"mauku? Bukankah sudah kau tau. Aku menginginkanmu menjadi penerusku." ucap Mark di sambil terkekeh.


"Dalam mimpimu." Axel mengetatkan rahangnya menahan amarah.


"Baiklah jika itu maumu. Aku sudah mengarang berita tentangmu yang mungkin akan berpengaruh pada Karirmu Son. Dan asistenku mungkin akan segera menerbitkannya. Kau pasti akan sangat menyukai itu." Ancam Mark membuat Axel naik pitam.


"Si*l*n kau Dad!! Jika itu benar-benar terjadi, aku pun tak segan-segan akan melakukan hal yang sama pada perusahaan kesayanganmu itu."


Ancamnya balik dengan memutuskan panggilan sepihak.


"Arghhhhhh "


Axel menjambak rambutnya sendiri.


Ia sudah tak dapat berpikir


jernih hinggah melampiaskannya kembali pada minuman-minuman beralkohol.


Sungguh ia sangat menyayangi karir yang sudah susah-susah di bangunnya.