Baby From Idol

Baby From Idol
Part 1 Konser



HAPPY READING


Seorang gadis tengah berbaring di kasur empuk miliknya, dengan novel bergenre romance yang setia menemaninya.


Jesseliyn Carrola.


Nama yang cantik bukan? Secantik orangnya.


Gadis berambut pirang sebahu itu di berkahi dengan kulit yang putih, mata bulat, dengan bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, serta bibir kecil miliknya, bak buah cherry yang sudah matang.


"JESSI!! SUDAHKAH KAU MELIHAT BERITA DI PONSELMU HARI INI?"


Jessi, nama yang sering orang-orang gunakan, untuk memanggilnya.


Dan gadis berambut hitam panjang, dengan kulit putih berwajah Asia yang barusan masuk ke kamar dan berteriak lantang padanya itu, adalah Karina Lynn, sahabat Jessi.


"Belum." Jawabnya datar, merasa terganggu aktivitasnya oleh Karin, yang tiba-tiba datang dengan teriakannya yang memekikkan telinga.


"WHAT?! APAKAH KAU SUNGGUH BELUM MEMERIKSA PONSELMU HARI INI?"


"Aku sudah mengatakannya dengan jelas Karin, dan berhentilah berteriak seperti orang bodoh yang seakan-akan telingaku sudah tidak berfungsi dengan baik."


"Ehehe,, baiklah maafkan aku. Aku hanya sedikit kaget dan heran secara bersamaan, mengetahui kau belum memeriksa ponselmu hari ini." Ujarnya memamerkan deretan gigi putih miliknya.


"Tck, berhentilah bersikap lebay. Memangnya ada berita menghebohkan apa yang membuatku harus memeriksa ponsel?" Tanya Jessi yang mencoba setenang mungkin, agar Karin tak curiga, kalau sebenarnya ia pun penasaran dengan apa yang membuat sahabatnya itu berteriak heboh.


"Haishh kau ini. Sebenarnya aku ingin kausendiri yang memeriksanya sendiri di ponselmu, tapi sepertinya kau enggan melakukan itu. Baiklah kalo begitu, akan ku beritahu ini padamu ...."


Karin membisikkan sesuatu pada jessi.


"WHAT? ARE YOU KIDDING ME KARIN? HAL SEPENTING INI DAN KAUBARU SAJA MEMBERITAHUKANNYA PADAKU." Lihatlah, kini siapa yang berteriak heboh seperti orang bodoh.


Sunggu, demi apa pun Jessi sangat terkejut dengan apa yang di beritahukan karin padanya.


"Dasar bodoh! Bukankah kau memintaku untuk tidak berteriak? Dan sekarang kauyang melakukannya." Karin berbalik memarahi Jessi.


"Ohh God, aku tidak percaya ini. Sekarang aku benar-benar menyesal belum memegang ponselku dari kemarin." Masih dengan keadaan syok, ia bahkan hampir saja meneteskan air mata bahagianya.


"Terserah apa katamu, aku sudah terlalu lelah meladeni sikapmu itu." Karin memutar bola matanya dengan malas. Ia berjalan berpindah dari tempat duduk, untuk berbaring di samping Jessi.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Lanjutnya


"Bodoh! Tentu saja kita harus menunggu waktu kapan penjualan tiketnya agar kita tidak kehabisan."


Apa kalian tak penasaran dengan apa yang di bahas kedua gadis seusia itu, hingga membuat mereka berteriak heboh?


Mereka sedang membahas Idola mereka.


Axelion Kim Seander.


Pria tampan dengan darah blasteran


Amerika-Korea, yang kini sudah berusia 20 tahun, setahun lebih tua dari umur Jessi dan karin yang tahun ini sudah menginjak angka 19.


Axel merupakan salah satu Artis dari agensi besar yang sudah cukup mendunia, dimana agensi itu sudah menghasilkan banyak Artis yang kini namanya sudah tak asing lagi di telinga orang-orang.


Ia merupakan Artis yang sangat beruntung, karena baru menjelang setahun dari waktu debutnya, namanya sudah banyak di kenal orang.


Apalagi kalau bukan karena bakatnya yang sudah tak perlu di ragukan lagi dalam dunia tarik suara, Model, dan juga beberapa kali ikut membintangi film. Disamping itu, ada hal yang membutnya menjadi sangat famous di kalangan wanita. Well, apalagi kalau bukan karena wajah tampannya.


Visualnya yang terlihat begitu sempurna dengan rambut ikal yang sering diubah warna karena tuntutan pekerjaan, bentuk mata yang tajam, dengan manik ocean blue miliknya, serta hidung mancung dengan pahatan yang sempurna, seolah Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan makhluk-Nya yang satu ini, serta bibir seksinya yang memberikan kesan kissable.


Dan satu lagi. Jangan lupakan juga kulit putih bersihnya, serta dada bidang dan otot-otot miiknya yang seolah membuktikan betapa jantannya pria itu.


Ahh, sial! Memikirkannya saja sudah membuat Jessi hilang fokus dengan apa yang sedang mereka bahas sekarang.


Oh ya, hal yang tadi di bisikkan Karin padanya adalah berita bahwa Axel akan datang untuk mengadakan konser di Madrid, yang lumayan jauh denga kota tempat mereka, yaitu di Granada.


Akan tetapi, jarak tak dapat memudarkan semangat mereka, selama itu masih berada di negara yang sama.


"Nanti malam pukul 07.30, penjualan tiket akan dibuka di situs resmi agensinya."


"Ha?! Apa secepat itu waktu untuk penjualan tiketnya? Memangnya kapan konser di adakan?" Tanya Jessi terkejut.


"Tentu saja secepat itu, karena konsernya akan di adakan tiga hari lagi dari sekarang. Bukankah ini terlalu mengejutkan?"


"Ya, ini terlalu mengejutkan" Di


pikirnya acara konsernya masih satu atau dua bulan lamanya. Ternyata tinggal menghitung jam.


"Huft, terpaksa aku harus menggunakan uang tabunganku untuk kuliah agar bisa membeli tiket konse itu." Raut wajah sedih tak dapat Jessi sembunyikan saat mengatakan itu.


Disatu sisi, Jessi sangat tidak rela jika harus menggunakan uang tabungan yang sudah ia kumpulkan setahun lamanya untuk persiapan masuk kuliah tahun ini.


Jessi sudah lulus dari senior high school setahun yang lalu bersamaan dengan Karin. Namun, karena keterbatasan ekonomi, Jessi harus menunda keinginannya untuk langsung lanjut ke Perguruan Tinggi dan memutuskan berhenti setahun untuk bekerja paruh waktu mengumpulkan biaya kuliah.


Berbeda dengan Karin yang merupakan anak tunggal, dan orang tuanya yang juga memiliki bisnis kecil-kecilan, membuat mereka tak harus berpikir akan banyaknya pengeluran, hingga mereka memutuskan supaya Karin langsung melanjutkan pendidiknnya untuk masuk ke Perguruan Tinggi.


Sedangkan Jessi? Orang tuanya yang hanya seorang petani buah harus bersusah payah bekerja untuk menghidupinya dan adiknya yang masih berada di bangku Junior High School.


Namun, disisi lainnya, Jessi juga tak dapat menahan ke inginannya untuk datang ke konser itu. Ia adalah salah satu dari jutaan gadis yang menjadi pengaggum dari seorang Axelion.


Bukankah kalian juga akan merasa begitu sangat senang jika bisa menghadiri dalam konser idolamu sendiri?


"Hei tak apa, aku akan memberimu sedikit uangku, berhubung ibuku baru memberikan uang lebih untuk biaya kuliahku. Padahal aku belum memerlukannya. Ini masih terlalu jauh untuk waktu membayar biaya kuliah." Karin memang satu-satunya sahabat yang paling pengertian.


"Terima kasih, tapi aku tak mau merepotkanmu.


Lagipula aku mungkin tidak akan bisa menukar uangmu jika aku meminjamnya."


"Hei, apakah aku mengatakan akan meminjamkannya padamu?" Tanyanya dengan wajah yang di buat seakan-akan sedang marah. Tapi itu malah kelihatan menggemaskan.


Setelah di pikir-pikir, Karin memang tidak mengatakan akan meminjamkan uang pada Jessi. Jessi menggelengkan kepalanya untuk membalas ucapan Karin.


"Aku akan memberiknnya secara cuma-cuma padamu. Aku masih bisa meminta uang lagi pada orang tuaku dengan berbagai alasan." Lanjutnya.


"Kau tak perlu melakukan itu Karin.


Aku akan menggunakan uang tabunganku sendiri. Tak perlu merepotkanmu."


Selama ini karin sudah banyak membantunya. Ia tak ingin membuat dirinya menjadi beban untuk Karin. Walaupun Karin sendiri tak beranggapan seperti itu.


"Ayolah Jessi, aku ikhlas memberikannya padamu."


"Kubilang tak usah ya tak usah.


Jangan memaksaku Karin, aku paling tidak suka di paksa!"


Maaf membuatmu marah, tapi aku harus melakukannya agar kau tak terus menerus memaksaku untuk menggunakan uangmu.


Batin Jessi.


"Yasudah, maaf memaksamu.


Ohyaa, bisakah nanti malam kauyang menunggu waktu penjualan untuk membeli tiketnya? Aku ada urusan sebentar. Nanti setelah urusanku selesai aku akan datang lagi ke sini Jess."


"Baiklah, akan kulakukan sebisa mungkin agar kita bisa mendapatkannya."


"Tentu, aku mempercayakan itu padamu." Karin melirik jam tangan coklat yang terlingkar manis di pergelangan kirinya.


"Astaga! Maaf Jess, aku harus segera pergi. Aku ada janji dengan ibu jam 10 pagi ini.


Ingat! Aku akan datang lagi nanti malam. Byee." Lanjutnya sambil mengambil tasnya yang di lempar di atas kasur saat datang tadi, lalu pergi dengan terburu-buru.


"Hehh baiklah."


Ujar Jessi yang ia yakin sudah tak dapat di dengar Karin.