
HAPPY READING
"Argghh ... ada apa denganku ini?"
Jessi mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Sudah sejak dua jam yang lalu wanita hamil itu mencoba untuk tidur, tapi tak berhasil.
Ada satu keinginan terpendam di dalam hatinya yang membuat ia tak bisa tidur.
Keinginan yang cukup gila menurutnya. Bahkan sebelumnya tak pernah terbesit keinginan itu dalam pikirannya.
Apa ini yang di namakan ngidam?
"Baby, mommy mohon untuk tidur saja ya. Permintaanmu itu sangat sulit dan mustahil untuk di lakukan."
Bayangkan saja. saat ini Jessi sangat ingin bertemu dengan Axel. Garis bawahi itu. Ia sangat ingin bertemu dengan Axel.
Dia yakin 99% jika itu keinginan bayinya, bukan dirinya. Walaupun tak dapat di pungkiri jika 1% sisanya adalah keinginannya juga.
Tapi bayinya yang lebih dominan bukan?
"Baby, Daddymu itu tidak bisa bertemu dengan kita. Dia pasti sedang dalam perjalan konsernya. Dan jika dia tidak sedang dalam perjalanan untuk konser, belum tentu juga dia akan menemui kita di sini. Jadi ... cobalah untuk bersbar di dalam sana dan jangan membuat mommy repot ya, please" Ujarnya mencoba menjelaskan pada janin yang berada dalam kandungannya.
"Bagaimana jika kita menonton televisi saja? Siapa tahu kita bisa melihat Daddymu di sana." Sambil mengelus perutnya, Jessi beranjak dari kamar untuk keluar menonton televisi, sambil memakan beberapa cemilan.
Pikirnya, mungkin apa yang ia lakukan saat ini bisa membuatnya cepat tidur dan melupakan keingingan konyolnya tadi.
"Ternyata tidak ada berita tentang Daddymu. Tapi tak apa, kita maraton film saja malam ini."
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Jessi yang tadinya duduk dengan semangat saat menonton kini mulai kehilangan kesadrannya, hingga menjelang fajar.
"Eughh ...."
Ia merenggangkan badannya yang terasa pegal di beberapa bagian.
"Pantas saja sakit semua. Aku tidur dengan cara sperti ini. Bayiku yang malang, mommynya begitu ceroboh."
Ia memperhatikan keadaan ruangannya yang terlihat seperti habis terjadi peperangan.
Keadaan sofa dan meja yang sudah tak karuan, bantal serta pembungkus makanan ringan di mana-mana dan jangan lupakan remahan cemilan yang mengotori lantai.
Jessi bergidik ngeri memperhatikan situasi jorok ini.
"Ewh, ini bukan ulahku." Ujarnya sambil terkekeh.
Jessi bodoh!
Lalu ulah siapa ini kalau bukan dirimu hah?
"Jika pemiliknya melihat ini ia pasti tak akan pikir panjang untuk mengusirku."
"Semua ini gara-gara film semalam." Ujarnya mendumel menyalahkan film yang menguras emosinya semalam, sambil membereskan kekacauan yang terjadi.
Selesai dengan pekerjaannya, Jessi membuat omlet sebagai menu sarapannya.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Rencananya, ia akan menggunakan waktu ini untuk rebahan seharian sambil menonton drama korea.
Dulu, selain menjadi penggemar seorang Axelion, dia juga seorang yang menjadi penggemar artis dan drama dari negri ginseng itu. Tapi kegemarannya terhadap artis Korea tak separah dengan kegemarannya pada Axel.
Sekali lagi itu dulu. Jauh sebelum kejadian 'itu' menimpanya.
Tapi sekarang? Rasa kagumnya sebagai seorang penggemar pada Axel perlahan-lahan mulai hilang seiring berjalan waktu.
"Selesai." Ujarnya sambil menyajikan omlet dan segelas susu di atas meja.
"Mm ... ini enak. Baby, mommymu ini sangat pintar memasak." Dengan percaya diri Jessi memuji hasil masakannya sendiri.
Di tengah-tengah waktu menikmati sarapan, bunyi dari bel apartemen begitu mengganggu hingga ia harus menghentikan sejenak kegiatannya dan pergi membukakan pintu untuk si 'pengganggu'.
Sambil berjalan ke arah pintu, ia menerka-nerka siapa orang yang membunyikan bel.
"Pasti itu El. Kemarin katanya ia akan menghabiskan hari ini bersamaku dan bersedia menemaniku menonton."
Tingg nong ...
Tingg nong ...
"Sabar El, kau sangat tidak sab-"
"KAU?!"
°°°°°
Aku harus memastikan secara langsung jika apa yang di katakannya itu benar. Dan jika semua itu memang benar, maka aku harus memberi pelajaran pada wanita j*l*ng yang sudah berani menjebak kak Axel. Apa dia pikir akan semudah itu huh?!
"Bree, apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Mark membuatnya tersadar dari lamunanya.
"Ha? Kenapa Ayah?" Tanyanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
Hal itu membuat Mark dan Ara tersenyum melihat tingkah lucu putri kecil mereka.
Meskipun sudah akan beranjak dewasa, keduanya tetap menganggap Breeana adalah putru kecil mereka.
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang? Dari tadi mommy perhatikan kau sedang melamun hingga tidak menyentuh makananmu."
apa aku harus memberitahunya pada mommy?
Tidak! aku tidak boleh gegabah.
Harus kupastikan dulu kebenarannya.
"Tidak Mom, aku hanya merindukan kak Axel. Sudah seja lama kita tidak makan malam bersama." Alibinya pada Ara dan Mark.
"Kau benar Bree. Oleh sebab itu juga ayah ingin Kakakmu itu menjadi pewaris perusahaan saja di banding menjadi seorang selebriti. Jika dia mendengarkan perkataanku, pasti kita akan lebih sering punya waktu bersama."
"Sudahlah sayang, Axel sudah besar. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri." Ujar Ara sambil mengusap-usap lengan suaminya.
"Mommy benar Ayah. Biarkan Kak Axel menentukan pilihannya sendiri." Breeana mencoba membela kakaknya.
"Kalian berdua ibu dan anak sama saja. Kalian tidak mengerti pentingnya anak lelaki sebagai seorang penerus" Mark melanjutkan makan malamnya.
Sementara Breeana dan Ara saling menatap diam, dan mengendikkan bahu.
Ketiganya pun kembali melanjutkan makan malam yang sempat terganggu.
Pagi harinya, bertepatan dengan hari minggu, Bree tidak mempunyai banyak kegiatan. Ia memutuskan untuk keluar mendatangi alamat yang di kirimkan Penelop padanya.
Ia menuruni tangga mansin sambil mencari-cari pesan dari Penelop di ponselnya.
"Kau akan kemana Bree?" Ara mengalihkan kegiatannya yang sedang membaca majalah fashion, saat melihat anak gadisnya yang sudah berpenampilan rapi saat masih pagi.
"Mm, aku ada urusan sebentar Momm"
"Kemana?"
"Temanku mengajak untuk bertemu. Aku akan kembali secepatnya."
"Apa kau akan mengemudi?"
Breeana menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ara.
"Baiklah, hati-hati."
"Oke Momm aku pergi dulu bye. Sampaikan ucapan selamat pagiku untuk Ayah." Ujarnya sambil melangkahkan kaki keluar.
Ia tak melihat ayahnya tadi. Hanya ada dua pilihan. Jika bukan karena masih tidur, ayahnya saat ini pasti sedang berada di ruang kerja.
Terkadang ia merasa kasihan dengan ayahnya yang sangat sibuk dengan pekerjaan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Tapi mau bagaiman lagi? Ia juga tidak mungkin memaksa kakaknya Axel yang keras kepala itu.
Lagi pula, selain karena ayahnya yang seorang pebisnia ternama, ia juga mendapat keuntungan sebagai adik dari seorang selebriti ternama.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya, ia tak menyadari jika sudah berada di depan gedung apartemen yang di kirimkan alamatnya oleh Penelop.
"Butuh uang tak sedikit untuk bisa berada di sini." Ujarnya memperharitikan apartemen itu.
Tak menunggu lama, Breeana segera masuk dan mencari tempat tinggal wanita itu yang berada di lantai teratas gedung ini.
Kini ia sudah berada di depan pintu yang di tuliskan alamatnya.
Dengan tak sabarnya, Breeana terus memencet bel apartemen itu, berharap seseorang membukanya.
"Lama sekali. Apa tidak ada orangnya?"
Lagi-lagi ia memencet bel dengan tidak sabaran.
Pintu pun terbuka dengan suara seorang wanita yang menyambutnya.
Suara yang asing di pendengarannya. Breeanan mendongakan kepalanya melihat siapa orang itu.
"Sabar El, kau sangat tidak sab-"
"KAU?!"