Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Sebuah Pengakuan



Liburan panjang pun berakhir, kini saatnya aku berada di jenjang tertinggi dalam sekolah, yaitu tingkat SMA. Pastinya aku juga sekolah di SMA bekas sekolah kakakku. Aku tak pernah tau jalan hidup apa yang akan ku lalui lagi. Apa menyenangkan atau bahkan menyedihkan dan penuh dengan penderitaan. Tapi yang pasti, aku tak mau lagi merasakan yang namanya penderitaan, aku benar - benar tak sanggup menghadapinya.


" Hey, bagi duit," Palak seseorang yang bertubuh besar yang membuatku kaget. Nampaknya dia adalah teman satu sekolahku di sekolah yang baru.


Aku hanya menatap dia, menatapnya dengan penuh kebencian. Aku merasa selalu saja begitu. Di setiap jenjang sekolah ada saja yang tidak suka denganku. Apa karena dengan tubuh yang tidak terlalu besar dengan seenaknya mereka menindasku. Aku ingin emosi, aku ingin marah, tapi aku sudah pernah merasakan yang namanya kesendirian. Aku takut jika aku berkelahi dengan dia, aku jadi tidak punya teman, lagi. Yang ku pikirkan cuma teman, teman dan teman.


" Woy, malah diem. Bagi duit, cepetan !" Paksanya.


" Hanya karena kamu itu kuat, bukan berarti kamu bisa menindas yang lemah. Seharusnya orang kuat itu melindungi bukan menyakiti," Jawabku santai sambil berjalan meninggalkannya.


Tak peduli dengan musuh yang ada dibelakangku, aku terus berjalan meninggalkannya. Hingga akhirnya muncullah sebuah teriakan dari belakangku. Sudah pasti itu dari orang yang tadi memalakku.


" Berani sekali kau menghinaku," Teriaknya sambil berlari kearahku dengan kepalan tangannya.


Namun dengan sigap ku tangkap pukulannya itu. Kalaulah aku tidak terbiasa menghadapi serangan seperti itu dari kakakku, sudah pasti pukulan keras itu akan menghujam wajahku. Nampaknya aku harus berterima kasih pada orang yang telah mengajarkanku tentang teknik - teknik bela diri, yaitu kakakku.


" Pergilah, jangan pernah kamu menggangguku lagi," Ucapku sambil melepaskan tangan besarnya dari cengkraman tanganku.


Meski dia sudah keterlaluan, tetap saja aku tak bisa membalas perlakuannya. Aku cuma meneruskan langkah kakiku untuk berjalan, meninggalkan dia yang terdiam. Entah apa yang dia pikirkan, wajahnya seakan memperlihatkan sebuah aura yang tidak enak. Aura yang penuh malu, mungkin itulah yang membuat ia terdiam. Hingga datanglah seseorang menghampirinya. Samar - samar dari kejauhan, aku mendengar pembicaraan mereka. Salah satu dari mereka itu nampaknya sudah tidak asing lagi bagiku, yaitu Indra, teman SMP ku yang sekaligus sudah pernah berkelahi denganku. Aku menghentikan langkahku dan pura - pura memperbaiki tali sepatu hanya untuk mendengan pembicaraan 2 insan itu. Padahal jarakku dengan mereka cukup jauh, namun suara mereka terdengar begitu jelasnya.


" Sialan tu orang, dia benar - benar mempermalukan aku," Ucapnya yang mungkin sambil menunjukku.


" Maksudmu Candra ? Ada masalah apa kamu sama dia ?" Tanya Indra.


" Kamu kenal sama dia ?" Tanyanya balik.


" Teman SMP ku tu. Ada masalah apa sih sama dia ?" Tanyanya lagi.


" Biasa lah, kamu tau sendiri kan kalau aku tu suka malak, tu orang tadi ku palak, tapi dia nggak mau dan pergi. Karena emosi aku pukul dia dari belakang, dan kau tau apa yang terjadi ? Dengan mudahnya ia menangkap pukulanku itu," Ucapnya panjang lebar.


" Ha ha ha ha ha Edo Edo, kau telah salah menilai dia. Meskipun badan dia nggak sebesar kita, tapi kekuatannya jauh melebihi kita. Akupun dulu kalah darinya, dan itu murni kekalahan. Aku akui itu, dan satu hal lagi. Jangan pernah membuat dia marah," Ucap Indra menasehati temannya yang ternyata bernama Edo.


" Do, kamu sadar nggak. Kamu aja kalah dariku dan aku kalah darinya. Itu artinya kamu akan kalah telak darinya. Aku saranin, kamu minta maaf sana sama dia !" Ucap Indra.


Saat itu, si Edo itu hanya terdiam. Entah ketakutan atau apa akupun tak tau. Tapi mereka tak menyadari bahwa aku telah mendengar semua pembicaraan mereka. Aku merasa sedikit tenang setelahnya, karena mungkin dia akan menyadari kesalahannya.


Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Pastinya di sekolahan yang baru bagi se angkatanku. Tak ada pelajaran tentu, cuma perkenalan. Karena sekolahan itu adalah sekolahan kakakku dulu, sudah banyak guru yang mengenal namaku. Bahkan kakak - kakak kelasku juga sudah mengenal namaku. Wajar saja, siapa yang tidak kenal dengan kakakku, si jenius yang sangat berbakat dalam segala hal. Dan dengan terkenalnya dia, sudah pasti keluarganya juga akan ikut dikenal.


Dering bel istirahat pun berbunyi, kala itu aku keluar kelas bersama teman baruku, Virgo. Dia baik, tapi agak sedikit culun. Pria berkaca mata itu adalah pria dengan nilai tertinggi se sekolahannya dalam ujian nasional silam. Meskipun banyak yang memandang dia rendah karena keculunannya, tapi aku malah terinspirasi sama dia. Aku ingin belajar banyak dari dia. Hingga nantinya, dalam hal kepandaian aku bisa mengalahkan kakakku. Dan bukan itu saja, aku merasa orang seperti Virgo itu lebih mengerti tentang nilai pertemanan daripada yang lainnya. Entahlah, mungkin itu perasaanku saja.


Virgo adalah anak yang rajin, waktu istirahat saja ia gunakan untuk baca buku di perpustakaan. Berbeda dengan aku, aku paling males kalau waktu istirahat ku gunakan dengan membaca buku. Aku memilih nongkrong di taman sekolah sambil menyantap beberapa camilan yang kubeli dari kantin.


" Candra....." Panggil seseorang yang seperti pernah ku lihat. Ya, dia adalah Edo, orang yang memalakku tadi pagi.


Aku cuma menatapnya, merasa terheran - heran dengan sifat sok akrabnya itu. Baru tadi pagi rasanya aku dan dia mau berantem.


" Aku minta maaf ya Ndra," Ucapnya sambil duduk disampingku.


" Buat apa ?" Tanyaku.


" Buat tadi pagi itu," Jawabnya.


" Aku tau, kau minta maaf karena kamu sudah mendengar cerita dari Indra kan. Lalu bagaimana jika kamu melakukan hal seperti tadi pagi itu ke orang selain aku. Apa kamu akan minta maaf ke orang itu ?" Tanyaku yang direspon dengan diam.


" Edo, tak peduli seberapa kuatnya kamu dan seberapa besarnya tubuhmu. Suatu saat nanti kamu pasti akan memerlukan bantuan dari orang lain, jadi jangan pernah menyakiti hati orang lain," Nasehatku.


" Iya Ndra, aku.... Aku sadar, aku salah. Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," Ucapnya.


" Udah, santai aja," Ucapku sambil menepuk bahunya.


Ternyata benar, hal terbaik untuk menyelesaikan permusuhan adalah menjadikannya teman. Meskipun tidak semua orang bisa melakukan itu. Karena banyak yang menganggap permusuhan itu ibarat membunuh atau dibunuh. Kalau anggapan itu terus - terusan ada maka permusuhan akan menjadi sesuatu yang abadi.