Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Kepedulian



Sore hari, ketika aku telah pulang dari beratnya pekerjaan, aku terduduk lesu diatas kursi tua yang berada di rumah lamaku itu. Aku sendirian, rasanya sunyi sekali. Tak ada suara satu manusia pun yang terdengar. Di kala itu Pak Anto telah kembali ke rumah baruku. Selalu saja aku melalui masa - masa berat sendirian. Tak ada teman, sahabat, keluarga, kekasih atau bahkan musuh. Tapi bagiku itu adalah jalan menuju masa depan yang cemerlang. Aku tak mau selalu hidup di dunia khayalan, yang ku mau, aku hidup di dunia nyata dengan rasa senang.


Malam yang mencekam. Malam yang menambah kesunyian dan kesepian. Walau bagaimanapun juga, aku adalah orang yang sangat membutuhkan orang lain. Biarpun butuh cuma sekedar berbincang - bincang. Kesunyian terasa di sekujur tubuhku. Hati, pikiran, perasaan, jiwa dan raga, semuanya benar - benar terasa sunyi. Karena itu aku memutuskan keluar rumah untuk mencari hiburan.


" Bulan purnama, cahaya yang terang. Nampaknya bulan telah berhasil menemukan keberadaan sang bintang," Ucapku sambil menatap indahnya bulan di langit malam.


Suasana sepi yang begitu biasa buatku, malam itu aku berjalan keluar dari keterbiasaan. Aku mencoba mencari sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa mengubah keadaan hatiku. Dan entah kebetulan ataupun apa, di sebuah tempat yang lumayan jauh dari rumahku terdapat sebuah acara yang disebut pasar malam.


" Pasar malam ya, rasanya sudah lama sekali tak melihatnya," Gumamku dengan sedikit senyuman lalu berjalan menuju tempat dimana pasar malam itu berada.


Cahaya lampu yang menerangi tempat itu membuat silau mataku, suasana riuh dengan teriakan - teriakan penuh kebahagian menggelegar di sepanjang tempat itu. Perasaan damai seolah muncul dari dalam hati kecilku. Aku menyusuri setiap tempat yang ada disana. Hingga langkahku terhenti disaat aku melihat sesuatu didepan sana. Sebuah permainan seru telah nampak didepan mataku. Setiap putaran dan teriakan dari orang - orang yang berada di permainan itu sontak mengingatkanku kepada sebuah hal yang sangat ingin ku ulang kembali. Karena dulu, setiap ada pasar malam, aku dan keluargaku selalu mencoba permainan seru itu.


" Dasar hidup, ada aja sesuatu yang bisa mengingatkanku kepada masa laluku," Gumamku sambil tersenyum kecut.


Sorak sorai dan teriakan - teriakan kebahagiaan dari para pengunjung yang naik permainan itupun memancingku untuk merasakan indahnya permainan masa lalu itu. Meski diriku sudah bukan anak - anak lagi, meski itu bukan zamanku lagi. Tapi aku ingin merasakan masa - masa indah itu lagi. Tak peduli dengan usiaku. Untungnya, aku membawa beberapa lembar uang yang memang ku persiapkan untuk berjaga - jaga jika ada keperluan mendadak.


" Pak, naik itu berapaan ?" Tanyaku ke petugas permainan itu.


" 10 ribuan dik," Jawabnya singkat.


" Oh ya udah, saya mau naik pak," Ucapku sambil menyodorkan selembar uang 10 ribuan.


Petugas itupun menghentikan perputaran permainan itu, hingga aku pun naik dan permainan kembali berputar. Bagai terbang di angkasa lepas, aku melayang dan berputar mengikuti pergerakan permainan itu. Dari atas sana nampak cahaya bulan yang bulat sempurna. Sinarnya benar - benar membangkitkan sesuatu yang ada di dalam diriku, yaitu hati. Perasaan bahagia muncul dari hati terdalamku. Aku bisa memandang semesta dengan jarak yang cukup jauh, biarpun malam gelap tapi sang bulan telah meneranginya. Semuanya nampak indah, gugusan bintang dilangit malam yang indah, ditambah lagi dengan tiupan angin kecil yang menyejukkan jiwa dan raga.


Sampai - sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah cukup lama berada di permainan itu. Hingga petugaspun menghentikannya. Aku turun dan kembali menjelajahi tempat yang sudah lama tidak ku jejaki itu. Langkahku ku percepat untuk bisa lebih cepat pula mencoba berbagai permainan yang ada di tempat itu, hingga tak terasa, setelah aku puas menikmati indahnya permainan - permainan itu, semesta sudah menunjukkan larutnya malam. Di kala itupun tempat menyenangkan itu sudah agak sepi, aku memutuskan untuk pulang. Tapi ditengah perjalanan pulang, di tempat yang cukup sepi nan gelap ada sesuatu yang terjadi. Ku lihat ada 2 orang yang berbadan tudak terlalu besar sedang menodong seseorang yang tak lain adalah Pak Ridho, bosku.


" Tolong - tolong !" Teriak Pak Ridho ketika salah satu dari 2 orang itu menodongkan senjatanya.


" Woy, jangan teriak lo !" Bentak salah satu dari mereka.


Sontak bentakan itu membuat takut Pak Ridho, tapi sebelum mereka merampas barang - barang berharga milik Pak Ridho aku pun datang. Dengan memanfaatkan gelapnya malam dan rerimbunan semak di tempat tersebut, tanpa mereka sadari aku berlari sekencang mungkin dan berhasil menghantam sang pembawa senjata hingga terjatuh.


" Aku peringatkan kalian supaya pergi dari sini !" Ucapku dengan nada lantang.


Ucapanku disambut dengan tawa meremehkan oleh 2 orang itu. Tak kusangka, tiba - tiba sang pembawa senjata menyerangku. Untungnya aku dengan sigap menangkis serangannya dan merebut pisau tajam itu dari tangannya. Melihat pisau yang ia bawa sudah berpindah tangan, kedua orang itu melarikan diri. Aku ingin mengejarnya, tapi dicegah oleh Pak Ridho.


" Nggak usah dikejar, Candra !" Ucapnya yang membuatku mengurungkan niatku untuk mengejar mereka.


" Bapak nggak apa - apa kan ?" Tanyaku sambil mendekati Pak Ridho.


" Nggak apa - apa, terima kasih ya," Ucapnya.


" Sama - sama Pak, lagipula itu kan sudah kewajiban saya," Ucapku.


" Saya nggak tau nasib saya kalau nggak ada kamu, sebagai gantinya, saya akan menaikkan pangkat kamu," Ujar Pak Ridho.


" Sebelumnya, terima kasih Pak dengan tawarannya. Tapi maaf saya nggak bisa menerimanya. Saya ingin berusaha sendiri untuk mencapai puncak tertinggi dalam mimpi dan cita - cita saya, bukan saya dapatkan dari hadiah orang lain," Ucapku.


" Hmmm begitu ya," Ucap Pak Ridho dengan senyumannya.


" Saya bangga kepadamu, kapanpun kamu butuh bantuan, bilang saja, nggak usah sungkan - sungkan," Tambahnya.


" Baik pak, terima kasih atas kebaikannya," Ucapku yang disambut dengan anggukan kepala dan senyuman dari laki - laki yang sudah berumur itu.


" Oh ya pak, nih pisaunya gimana ?" Tanyaku sambil memperlihatkan pisau yang telah ku rebut dari tangan para penjahat itu.


" Gini saja, pisau itu biar saya yang bawa, nantinya itu bisa jadi barang bukti untuk menjebloskan 2 penjahat itu ke penjara," Ucap Pak Ridho.


" Baik pak," Ucapku sambil memberikan pisau itu kepada Pak Ridho.


Pak Ridho langsung membungkus benda tajam itu menggunakan kertas yang ia ambil dari tas nya. Barang bukti itu telah berada di tangan kami, tinggal menunggu waktu untuk menangkap 2 penjahat itu. Tak terasa waktu sudah cukup malam, aku berjalan berdampingan dengan bos ku itu di kegelapan malam. Hingga akhirnya kami pun berpisah di jalan raya dan pulang ke rumah masing - masing.