Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Hari Impian



Ketika ayam jantan telah berkokok, diikuti dengan cahaya sang fajar yang membuat bumi terang, serta desiran angin yang menghujam pepohonan. Aku terbangun dari tidur malamku. Hari yang kunanti - nanti telah tiba, sebelumnya, aku melakukan aktivitasku seperti biasa. Hingga akhirnya sang waktu telah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Aku keluar dari rumah sembari menatap dunia yang dihiasi dengan terbitnya sang mentari pagi yang indah.


" Dari sini segalanya akan dimulai, selamat datang impian," Ucapku sedikit berteriak.


Ku kunci rumah itu meskipun aku tau kalau nanti Pak Anto juga akan datang ke rumahku. Namun aku tak mau mengambil resiko, karena dirumah itu sekarang ada aku, ada barang - barang berhargaku pula. Langkah kakiku menuju ke jalanan depan pagar rumah, namun entah mengapa aku merasa seperti diawasi. Ada mata yang sedang mengawasiku, tapi aku tak tau itu siapa. Mungkin juga hanya perasaanku saja.


Seperti biasanya, akupun memakai jaket berkupluk. Tak tau mengapa tak ada yang curiga sama sekali denganku. Padahal aku sudah sering berlalu lalang dengan pakaian seperti itu didepan mereka. Tapi itu adalah hal yang bagus buatku, dengan begitu orang tua ku pun tak akan tau tentang keberadaanku.


Aku terus berjalan sampai jalan raya, entah kenapa perasaanku mengatakan ada yang mengawasi aku hingga perasaan itu hilang ketika aku sudah berada didalam angkot dan melaju ke arah perusahaan tempatku bekerja. Aku tak pernah tau gerangan apa yang sedang mengawasiku, apa itu cuma perasaanku saja ? Namun perasaan itu kerap muncul di kala aku sedang berada di luar ruangan.


" Hah, mungkin cuma perasaanku saja," Gumamku ketika turun dari angkot.


Aku berjalan menuju sebuah perusahaan besar yang ada didepan sana. Ku buang jauh - jauh perasaan yang seolah - olah sedang ada sesuatu yang mengawasi aku. Lama kelamaan perasaan itu hilang dan aku bisa merasa lebih tenang.


Hari pertama bekerja bagiku adalah hari terpenting dalam hidupku. Di hari itulah untuk pertama kalinya aku akan membentuk semua mimpi dan cita - citaku. Bisa dibilang, itu adalah hari bersejarah buatku, dan menjadi langkah awal menuju kesuksesanku.


" Candra, kamu bawa kotak itu ya !" Perintah Yuda yang merupakan seniorku.


" Iya mas," Jawabku. Umur kami memang cuma beda beberapa tahun, kira - kira dia sebaya dengan kakakku.


Aku pun mengangkat kotak berisikan minuman kemasan dalam botol dan memasukkannya kedalam truk. Minuman -minuman itu pula yang nantinya akan ku perdagangkan di suatu tempat yang telah disediakan.


Sampailah kami di tempat tujuan, aku dan beberapa karyawan lain langsung menyusun botol - botol minuman itu dan bersiap untuk menjualnya. Memang pekerjaanku itu beregu, bukan individual. Aku ditugaskan untuk menawarkan minuman - minuman itu secara berkeliling. Sebuah hal yang berat untuk pemula sepertiku, tapi sebagai seorang pejuang mimpi yang sekaligus percaya pada kekuatan tekad untuk bisa mewujudkan impian, aku tak boleh mengeluh. Biarpun cuma sedikit, aku akan mencoba untuk tak pernah mengeluh.


" Minuman segar, minuman segar," Ucapku menawarkan barang daganganku.


Terik panas matahari terasa sudah menusuk tulang, rasa panas dari radiasi sang mentari benar - benar sangat mengganggu. Tanah tempatku berpijak seolah - olah bagai bara api. Keringat deras mengucur di wajahku. Panas sekali rasanya, baru pertama kali aku merasakan beratnya sebuah pekerjaan.


" Mas, minumannya mas," Teriak seseorang yang akan membeli barang daganganku.


Aku pun menghampiri wanita muda yang memanggilku tadi.


" Minuman mbak ?" Tawarku.


" Iya mas, berapaan ?" Tanyanya.


" Rasa jeruk aja mas," Jawab wanita itu.


" Oke, nih mbak," Ucapku sambil memberikan minuman itu.


" Nih uangnya," Kata wanita itu dengan memberikan selembar uang 5000 -an.


" Makasih mbak," Ucapku yang kemudian pergi dan berkeliling lagi.


Itulah uang pertama yang ku dapat dari sebuah perjuangan tanpa lelah. Meski itu bukan sepenuhnya uangku, setidaknya didalamnya tersimpan sedikit bagianku.


Hari itu aku mendapat pelanggan yang cukup banyak, bahkan Pak Ridho yang merupakan bos ku itupun memujiku. Lelaki berumur sekitar 50 -an tahun itu cukup puas dengan pekerjaanku. Pernyataan itu tentu saja membangkitkan semangat kerjaku.


Sore itu aku pun pulang, didepan sana terdapat seseorang yang sedang menunggu kedatanganku. Siapa lagi kalau bukan Pak Anto. Aku mengucap salam kepadanya sekaligus menebar senyum manisku.


" Gimana Den, kerjanya ?" Tanyanya kepadaku.


" Lancar - lanjar saja pak," Jawabku.


" Syukurlah. Oh ya, Den yakin nggak mau pulang ?" Tanyanya lagi.


" Pak, aku tidak akan kembali sebelum aku bisa membuktikan pada semuanya kalau aku bisa," Jawabku.


" Tapi kasihan ibu dan ayahnya Den, tiap hari selalu cemas dan mencari Den kemanapun," Ucap Pak Anto.


" Kenapa mereka baru mencemaskanku, Pak ? Kemana saja saat diriku berada disamping mereka, apa dulu mereka peduli dengan kehadiranku ?. Apa mereka peduli dengan rasa sakit hatiku ?. Aku tak mau durhaka, tapi mereka yang membuatku terlena. Aku minta tolong Pak, jangan pernah memberi tahu tentang keberadaanku ke mereka," Ucapku dengan penuh kesedihan.


" Tapi Den........"


" Sudahlah Pak Anto, aku nggak akan meninggalkan mereka untuk selamanya. Suatu hari nanti disaat impianku sudah tercapai, disaat aku sudah bisa membuktikan pada semuanya tentang kehebatanku, aku pasti akan kembali. Itulah janjiku," Ucapku memotong perkataan Pak Anto.


Mendengar ucapanku itu, Pak Anto merasa sedikit lega. Ia menarik nafas panjang tanda kegelisahannya sudah mereda. Tapi aku, aku benar - benar kesal dengan sifat orang tuaku. Bagaimana tidak, disaat aku ada, mereka tak pernah memperdulikan perasaanku. Namun ketika aku tak ada bersama mereka, mereka malah terlalu mengkhawatirkan aku. Mungkinkah itu yang dinamakan sesuatu akan menjadi indah disaat seseorang kehilangan dia.


Malam itu, bayang - bayang orang yang seolah - olah selalu mengawasiku itu sudah tiada lagi. Aku benar - benar tak tau siapa sosok didalam perasaanku itu. Yang pasti ku simpulkan bahwa itu cuma perasaanku saja.