
Saat itu, ketika umurku sudah menginjak 14 tahun, yang berarti aku sudah kelas 9 SMP. Datanglah kejadian yang sangat tidak menyenangkan tepat ketika aku pulang sekolah sore itu. Bendera kuning, itu tanda ada kematian. Yang paling mengejutkan adalah, itu berada di rumahku. Refleks aku lari masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat cemas.
Dan apa yang aku lihat, tubuh tua itu telah terbaring lemas diatas tempat tidur. Menangislah aku waktu itu. Sang inspirator, sang pelindung, sang penjaga dan banyak lagi yang tidak bisa ku sebutkan telah meninggalkan aku untuk selama - lamanya. Di usianya yang sudah menginjak 80 tahunan itu, beliau tidak pernah sekalipun mengeluh sakit ketika berada didepan keluarganya. Sosok kuat yang selalu mengajarkanku tentang kehidupan itu mungkin mengidap satu penyakit yang tak diketahui oleh semua anggota keluargaku. Menurut diagnosa dokter waktu kematian beliau, beliau mengidap penyakit radang paru - paru. Benar - benar hal yang tak terduga, aku masih menangis sebelum ayahku membisikkan sesuatu ke telingaku.
" Telfon kakakmu !" Bisiknya.
Benar saja, sedari tadi aku belum melihat kakakku. Maklum saja, pulangnya lebih sore dibandingkan aku. Tanpa fikir panjang, ku telfon kakakku yang mungkin masih berada di sekolahnya.
" Kak, kakak dimana sekarang ?" Tanyaku.
" Masih di sekolah, kenapa ?" Tanyanya balik.
" Kakek........"
" Kakek kenapa ?" Potongnya dengan nada yang amat cemas.
" Kakek, meninggal kak," Jawabku. Kembali lagi air mata mengalir dari 2 bola mataku.
" Hah....." Ia kaget dan mungkin ia sedang mengacak - acak rambutnya. Karena jika ia mendengar berita yang tidak menyenangkan, yang bisa membuatnya bingung, dia selalu mengacak - acak rambutnya. Mungkin itu cara dia untuk meluapkan kegelisahannya.
Telfonku pun ditutup. Mungkin ia langsung menuju rumah. Dengan keadaan yang seperti itu aku takut terjadi apa - apa sama kakakku, karena ia pun membawa motor sendiri. Rasa terburu - buru itu mungkin membuat kakakku melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hati siapa yang tidak hancur, ketika mendengar orang yang ia sayangi pergi meninggalkan dia untuk selama - lamanya. Terlebih lagi, kakekku adalah sang penjaga dan pelindung kami di masa kecil dulu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara motor yang amat kencang. Jelas itu suara motor kakakku. Aku bersyukur karena tidak terjadi apa - apa dengan kakakku. Ia langsung memarkirkan motornya dan bergegas menuju jenazah sang kakek. Dibukanya kain penutup jenazah itu dan seketika itu juga air matanya menetes. Sebelumnya, belum pernah aku melihat ia meneteskan air matanya. Ternyata benar, tidak peduli sekuat dan sehebat apapun seseorang, ia pasti akan menangis ketika orang - orang yang ia sayangi meninggalkan dia untuk selama - lamanya. Melihat air matanya yang terus - terusan menetes membuat hatiku tergerak untuk mendekatinya.
" Sudahlah kak, jangan menangis !" Ucapku yang sok kuat. Padahal tadi pun aku terus - terusan menangis.
" Kenapa bisa, kenapa bisa kakek meninggal ? Memangnya kakek sakit apa ?" Tanyanya kepadaku sambil mengusap air matanya. Seakan ia tidak bisa menerima kepergian kakek karena memang tidak ada tanda - tanda apapun sebelum kakek meninggal.
" Dokter bilang..... Kakek menderita radang paru - paru," Jawabku sedih.
"Tidak ada jawaban apapun setelah itu. Tangisnya terus berlanjut hingga beberapa orang datang menggotong jenazah kakek karena akan dimandikan. Ayahku lah yang akan memandikan kakekku. Sambil menunggu acara pemandian jenazah selesai, kami meminta Pak Anto untuk menjelaskan kronologi meninggalnya kakek. Karena dialah satu - satunya orang yang berada dirumah bersama kakek waktu itu. Dia juga lah saksi mata pertama yang mengetahui tentang kematian kakek.
" Oh ya, satu lagi. Pagi tadi beliau sempat menitipkan sebuah surat untuk keluarga . Saat saya tanya kenapa nggak diberikan sendiri saja beliau cuma menjawab, " tidak apa - apa." dan ini suratnya Den," Ucapnya sambil menyodorkan sebuah amplop kepada kakakku.
***Untuk cucu - cucu dan anak - anakku
Kakek rasa, kakek akan pulang. Pulang ke tempat yang sebenarnya, menyusul nenek yang sudah tenang disana. Iqbal, tolong jaga adikmu, jangan terlalu keras sama dia. Begitu juga dengan Candra, kakek yakin suatu saat nanti keinginanmu itu pasti akan tercapai, keinginan untuk menjadi manusia yang kuat. Tapi kakek berpesan kepadamu, jangan sombong dengan apapun yang kamu miliki
Dan untuk Sarah dan Yono. Bapak harap kalian bisa lebih meluangkan waktu kalian bersama anak - anak. Karena walau bagaimanapun juga, sebesar apapun mereka sekarang. Mereka tetap masih membutuhkan kalian. Selama ini Anto lah yang mengurus mereka berdua, meskipun cuma pembantu, ia menyanyangi mereka layaknya anak sendiri. Pesan bapak, jangan biarkan anak - anakmu merasa kesepian, terutama kamu Sarah, jangan cuma memasak lalu pergi meninggalkan mereka. Kalau perlu keluar saja dari pekerjaanmu***.
Sarah adalah nama ibuku, dan Yono adalah nama ayahku. Begitulah pesan terakhir kakekku. Yang mungkin saat ia menulis surat itu, ia merasa waktunya sudah tidak lama lagi.
Ketika acara pemandian selesai, tubuh tua itupun dibalut kain putih yang disebut dengan kain kafan. Itulah pakaian terakhir yang dipakai kakekku. Aku hampir tak sanggup melihat ketika kain itu sudah melilit tubuh kakekku, ditambah dengan beberapa potong tali yang diikatkan ke tubuh kakek. Hingga jenazah itupun digotong menggunakan keranda mayat dan akan di sholatkan di masjid. Aku, kakakku dan lainnya mengikuti dari belakang.
Hari sudah semakin petang, ketika sholat jenazah sudah selesai, kini saatnya sang inspirator harus dikuburkan. Di tempat sempit yang dihimpun dengan tanah itulah kakekku akan tinggal. Ketika jenazah sang kakek sudah diturunkan ke liang lahat, airataku pun kembali menetes. Rasanya aku tak sanggup melihatnya, tapi aku harus melihat. Meskipun dengan hati yang hancur.
" Talinya sudah dilepas kan ?" Terdengar pertanyaan dari seorang tetangga kepada beberapa orang yang berada dibawah.
" Sudah," Jawab mereka spontan.
Itulah kepercayaan, jika tali sang jenazah tidak dilepas, diyakini akan menjadi hantu pocong. Tapi aku tak percaya itu, mana ada orang mati yang menjadi hantu, kalaupun ada itu adalah jin yang menyamar menjadi orang tersebut.
Kini nisan itu sudah menancap, diiringi dengan taburan bunga yang baunya harum. Sang kakek sudah tiada, sudah kembali menjadi tanah, karena memang diciptakan dari tanah. Para warga pun sudah beranjak pulang, tinggal keluargaku yang masih mendoakan almarhum kakekku supaya bisa tenang di alam sana.
Tak lama kemudian, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung hitam yang akhirnya turunlah hujan deras.
" Bahkan langit dan bumi pun menangisi kepergian kakek," Ucapku.
Benar saja, seolah - olah langit dan bumi sedang menangisi kepergian sang inspirator. Karena hujan yang tak kunjung reda itu, kamipun beranjak dari makam kakek dan menuju ke rumah.