Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Akhir Dari Sebuah Misi



Sang pagi telah datang, sinar mentari pun sudah menunjukkan keindahannya. Keindahan pagi dari negri ibu pertiwi. Benar - benar suasana yang sangat hangat didalam jiwa meski terasa dingin di raga. Pagi itu seperti biasanya, aku melakukan aktivitas sehari - hariku. Apalagi kalau bukan bekerja mencari nafkah untuk diri sendiri. Kenapa kusebut untuk diri sendiri, karena meski gaji yang kudapat sebagian kuberikan ke ibuku, tetap saja sang penanggung jawab atas nafkah keluarga juga masih ayahku.


Sore harinya, setelah pulang kerja, entah ada angin apa tiba - tiba kakakku mengajakku ke rumah lamaku. Aku pun menyanggupinya, karena memang aku juga rindu dengan rumah itu setelah sekian lama tak kesana lagi. Tapi sebelum itu kami pergi ke sebuah tempat yang sangat membuat hati pilu ketika melihatnya, tempat itu adalah kuburan kakek, tempat dimana telah bersemayamnya sang inspirator.


" Aku merasa jadi cucu yang durhaka, selama ini aku tak pernah berziarah kesini. Seolah - olah aku telah melupakan jiwa seseorang yang sangat berharga dihidupku," Ucap kakakku ketika selesai ziarah.


" Tak perlu berlebihan begitu Kak, sekarang kamu mengajakku kesini, berarti kamu tidak lupa dengan kakek," Ucapku.


Dibawah rimbunnya pohon - pohon besar di area pemakaman itulah 2 bersaudara tengah berjalan dengan santainya menuju arah keluar gerbang. Meski suasana yang begitu sepi nan sunyi, tapi percakapan kami membuat suasana agak sedikit riuh. Hingga tanpa terasa kami sudah keluar dari pintu gerbang pemakaman.


" Kak, duluan aja ke rumah ! aku masih ada urusan," Ucapku pada kakakku.


" Urusan ?" Tanyanya bingung.


" Iya lah kak, duluan aja sana !" Perintahku.


" Ohh...... Kakak tau kamu akan kemana..... Cie yang udah punya pujaan hati," Godanya.


" Sok tau lo," Balasku.


" Cie.... Ya udah, kakak duluan ya," Ucapnya sembari melangkahkan kakinya menuju rumah lama kami.


Rasanya rindu sekali, melihat tempat dimasa lalu yang sudah sekian lama ku tinggalkan. Kakiku terus melangkah beriringan dengan angin yang berhembus. Mataku bergerak kesana kemari menyaksikan indahnya masa lalu dari tempat - tempat dimasa lalu pula. Kalau soal masa lalu, aku merasa sangat lemah dan selalu ingin meneteskan air mata. Tak terasa aku pun sudah sampai ke tempat yang ku tuju, yaitu rumah Sherly.


" Assalamualaikum," Ucapku.


Namun tak ada sahutan seorangpun dari dalam rumah. Kucoba untuk mengulangi salamku kembali.


" Assalamualaikum, Sherly," Ucapku.


Namun masih tetap belum ada jawaban. Kucoba untuk memberi salam untuk yang ketiga kalinya.


" Assalamualaikum," Ucapku lagi.


Ku menunggu beberapa saat, namun hasilnya tetap nihil. Lagi - lagi tak ada sahutan dari dalam. Entah kemana dia berada, entah kemana sang wanita pujaan hati dan kakek neneknya pergi. Rumah itu terasa sangat sunyi nan sepi. Bagai sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni. Aku bahkan baru menyadari kalau rumah Sherly bisa sesepi itu, wajar saja, aku pun jarang berkunjung ke rumahnya.


" Hufff kemana mereka ?" Keluhku dengan bertanya kepada diri sendiri.


Karena tak ada tanda - tanda orang yang keluar dari rumah itu, akupun memutuskan untuk pulang, pulang ke rumah lamaku pastinya. Dengan perasaan yang sedikit kecewa, aku kembali menyusuri jalanan masa lalu itu. Beberapa rumah yang merupakan rumah teman - teman SD ku dulu pun terlihat. Ada juga salah satu temanku yang nampak ketika aku berlalu didepan rumahnya. Namun aku tak bisa menyapanya, rasanya ada dendam tersendiri didalam hatiku. Bagaimana tidak, seseorang yang selalu menganggap persahabatan sebagai ikatan yang besar malah dimanfaatkan dan tidak dihargai. Meski sebenarnya dulu sudah ada beberapa teman yang sadar akan kesalahannya, tapi juga masih ada yang belum menyadarinya.


Entah kenapa hati, pikiran, perasaan dan perbuatanku itu berlainan. Di satu sisi aku sangat ingin mengakhiri dendam itu, namun disisi lain aku menolak melupakan dendam masa laluku itu. Sebenarnya bukan dendam, cuma rasa sakit hati yang tak kunjung padam. Bagaimana tidak, 6 tahun aku bersama mereka, namun tak pernah sekalipun aku dihargai oleh mereka sebagai temannya. Selalu dipandang remeh, dicaci, dan dijadikan anak buah. Itulah masa lalu yang kejam buatku.


Tak berselang lama kemudian, akupun sampai di rumah itu, rumah kenangan yang tak bisa hilang dari ingatan. Aku masuk dan bertemu kakakku, nampaknya ia tengah asyik memainkan game di smartphonenya sembari duduk santai.


" Game terus...." Celaku.


" Ehh... Udah pulang..... Gimana ketemuannya ?" Tanya kakakku kepadaku.


" Ha ha ha ha ha, syukurin," Ejeknya.


" Oh ya, kamu dicari Pak Anto tu tadi. Dia ada di taman belakang rumah sekarang, temuin sana !" Perintah kakakku.


" Ada apa Pak Anto nyari aku ?" Tanyaku.


" Ya nggak tau lah, temuin aja, siapa tau ada yang penting," Balas kakakku.


Tanpa basa - basi lagi, akupun menuju ke taman belakang rumah untuk menemui seorang lelaki yang sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Namun bukan Pak Anto yang ku dapat, namun seorang gadis yang posisinya membelakangiku tengah duduk santai dibangku taman. Rasa penasaranku bergejolak, siapakah gerangan wanita dibalik gaun panjang dengan rambut yang berterbangan akibat tiupan angin itu ?


Aku mencoba mendekatinya dengan perasaan ragu, langkahku cukup pelan nan lama. Hingga ketika aku sudah cukup dengannya, ia memalingkan wajahnya menghadapku. Alangkah terkejutnya aku, seorang wanita cantik jelita itu menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan. Senyum manisnya terukir di bibir mungilnya. Dan saat itu pula aku telah menyadari.


" Sherly...... Kau...." Ucapku terpotong.


" Kakakmu yang memintaku datang kesini," Sahutnya.


" Jadi..... Ini semua ide kakak ?" Tanyaku.


" Iya," Jawabnya singat dengan senyuman manisnya.


Aku pun duduk disampingnya. Di sebuah bangku taman belakang rumah sambil memandang kehijauan yang tetap terjaga dari banyaknya pohon, bunga dan rerumputan disana.


" Pantesan, aku tadi ke rumahmu dan nggak ada siapa - siapa. Eh tau - tau kamu ada disini," Ucapku dengan tawa kecil.


" Iya, kakek dan nenekku juga sedang pergi keluar, karena itulah tak ada orang dirumah," Ucap Sherly.


" Begitu ya....." Responku sambil menatap wajahnya.


" Kamu cantik," Sambungku.


Dia hanya malu - malu dengan kata pujian yang ku ucapkan. Tentu saja, dipuji oleh sang pujaan hati memang rasanya sangat berbeda. Bagai merasakan terbang di angkasa dengan perasaan yang amat membahagiakan


" Cie, ada yang malu - malu nih," Ucapku ketika melihatnya senyum - senyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


" Apaan sih." Balasnya masih dengan senyumannya.


Kamipun saling bercanda dan tertawa bersama. Sampai - sampai tanpa kami sadari, hari sudah mulai petang. Sherly pun izin mau pulang dan sebagai seorang lelaki sejati, aku berinisiatif mengantarkannya pulang meski hanya dengan berjalan kaki.


" Kak Iqbal, Sherly pulang dulu ya," Pamitnya sama kakakku.


" Iya, hati - hati ya !" Jawab kakakku.


" Jadi, sudah nggak ada video lagi kan," Sindirku pada kakakku yang dibalas dengan tawa.


Tak lama kemudian akupun mengantarkan Sherly pulang. Berjalan bersama dibawah sinar senja yang menyejukkan jiwa. Sinar yang begitu mencolok akan kejinggaannya. Sebuah momen yang selalu dinantikan oleh banyak orang karena keindahannya. Dan momen itu terjadi padaku, ditambah lagi dengan iringan dari seorang wanita pujaan hati. Setelah mengantarkan wanita cantik itu sampai kerumahnya, akupun pulang.