Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Kejadian Di Masa Lalu



Dentuman keras dari masa lalu menggerakkan hatiku untuk mengingat dengan detail setiap kejadian yang pernah terjadi.


Flashback


" Candra......" Absen guru TK ku. Aku hanya diam tanpa menjawab panggilan itu.


" Hahahahaha bisu, bisu, bisu," Ejek teman - teman TK ku waktu itu.


" Sudah - sudah diam semua !" Ucap guru TK ku menenangkan.


Memang benar, dulu, di masa kecilku. Aku adalah seorang pria yamg penakut, pemalu, pokoknya banyak sekali kekuranganku.


Kejadian semacam itu, terjadi berulang - ulang, bahkan hampir setiap hari. Tentang kenapa dulu aku se menyedihkan itu, aku juga tidak tau. Sifat itu muncul dengan sendirinya. Dan sifat itu terus berlanjut sampai aku mengenyam pendidikan yang baru, yaitu tingkat SD.


Saat itu, saat kelas 1 SD. Dengan sifat lemahku itulah aku selalu di bully oleh teman - temanku. Selalu disuruh - suruh, selalu disakiti dan tak pernah dihargai. Hingga pada akhirnya kakakku lah yang menjadi pahlawan didalam hidupku.


" Dasar lemah," Bentak kakakku ketika aku menangis di sekolahan. Kebetulan waktu itu aku dan kakakku satu sekolah. Perbedaan usia yang cuma 3 tahun itulah yang memungkinkan kami bisa bersekolah di satu sekolah.


Mendengar bentakan itu aku cuma bisa diam. Seorang kakak yang sangat ku kagumi malah membentakku di saat aku sedang dalam titik terendah. Saat itu yang ku pikirkan cuma apa kakakku benci kepadaku. Namun gertakan keras itu perlahan hilang ketika sang kakak membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.


" Candra, ketakutanmu adalah kelemahan terbesarmu. Dan jika kamu menghilangkan ketakutanmu itu maka kelemahanmu pun akan hilang," Ucap kakakku sambil terus membelai rambutku.


Tetesan air mata dari diriku yang payah dan lemah itupun sedikit mereda. Sejak hari itu, kekuatan tersembunyi dari dalam diriku pun muncul. Yaitu sebuah tekad dan keberanian yang mungkin diwariskan oleh sang kakak kepadaku. Mungkin juga lewat kata - katanya itulah ia mewariskan segalanya kepadaku.


Air mataku terus - terusan menetes di kala aku mengingat setiap pertarungan yang terjadi antara aku dengan kakakku dulu. Entah mengapa, seolah - olah semua kenangan yang ada di masa laluku cuma terisi oleh kakakku. Ketika itu, si lemah sedang meringis kesakitan karena terkena pukulan hebat dari sang kakak. Keras sekali pukulannya, bagai pukulan seorang petinju profesional. Malahan, bukan hanya pukulannya yang keras, tendangan yang ia lancarkan ke arah kakiku hingga membuatku terjatuh pun sangat terasa sakitnya. Padahal soal usia, ia baru 16 tahun sedangkan diriku baru 13 tahun. Lagi - lagi aku berpikir, apa ini pelampiasan akan kebenciannya padaku. Karena dengan alasan bagaimana pun juga, pertarungan itu seolah - olah seperti pertarungan sungguhan. Padahal aku hanya menganggap itu sebagai main - main saja.


Raut wajah yang datar itu bagaikan seorang pembunuh berdarah dingin. Kebenciannya pun semakin terlihat dengan diiringi oleh alunan bentakan - bentakan keras yang menggertak ke hati. Tak peduli dengan adik kecilnya yang meringis kesakitan, bentakan ia bagai rudal yang menghantam daratan. Seorang manusia bodoh dan lemah itu hanya menyangka kalau ia bukanlah seorang kakak yang baik. Mana mungkin ada kakak yang tega menyakiti adiknya sampai segitunya. Hingga lagi - lagi indahnya kata - kata dari sang kakak pun terucap dengan lembutnya. Tak tau mengapa, setiap perkataan ajaib itu muncul, kebencian dan kemarahanku pun bisa mereda.


" Candra, kakak cuma mau kamu menjadi pribadi yang kuat. Maka jadilah kuat, dan suatu saat nanti buktikan kalau kamu bisa mengalahkan kakak," Ujar kakakku dengan suara lantang tapi lembut sembari meninggalkan aku yang masih jatuh tersungkur sambil meringis kesakitan.


Aku lemas tak berdaya, entah bagaimana caranya menjelaskan betapa menyedihkannya aku waktu itu. Disaat seperti itu, seorang manusia pelindung dan pengganti orang tua ku pun datang. Ia adalah seorang pembantu / tukang kebun yang sangat berjasa di hidupku.


" Ya ampun Den, kamu kenapa ?" Tanyanya kepadaku.


" Jatuh pak," Jawabku berbohong.


" Ya Allah, kok bisa jatuh sih Den ?" Tanyanya dengan cemas sambil membopongku masuk ke kamar.


Di kamar itulah Pak Anto menyuruhku istirahat. Dan di kamar itu pula lah nantinya pertarunganku dengan kakakku terus berlanjut. Ia adalah saksi bisu dari kisah 2 saudara yang saling mencicipi indahnya pukulan dan tendangan. Sebuah kenangan yang nantinya pula tak akan pernah bisa dilupakan.


Setiap kata yang keluar dari mulut kakakku bagai titah sang raja. Dia pernah bilang padaku bahwa, " Jangan pernah sebut dirimu pemenang kalau kamu hanya menang dengan curang. Dan jangan pernah sebut dirimu pecundang jika kamu kalah dengan sebuah perjuangan". Sadar atau tidak aku selalu mengingat setiap kata penting yang terucap dari mulut orang - orang yang ku sayangi.


Aku ingin, ingin sekali, merasakan bagaimana mempunyai sebuah tekad api dan keberanian seperti kakakku. Tapi aku hanyalah sosok manusia lemah yang tak bisa apa - apa. Terkadang aku juga berfikir mengapa tuhan harus menciptakan manusia lemah sepertiku, yang hidup hanya untuk tersakiti.


Mungkin kurangnya kasih sayang dari orang tuaku membuatku frustasi pada kehidupan. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing - masing. Kalau boleh memilih, aku tak perlu jadi orang kaya. Yang penting mereka ada disini bersamaku. Buat apa mempunyai banyak harta, buat apa segala kebutuhan bisa terpenuhi kalau kebersamaan dengan keluarga hilang ditelan kesibukan.


Saat itu aku berfikir, mungkin suatu saat nanti rumah yang penuh kenangan itu benar - benar akan menjadi kenangan seutuhnya. Karena aku yakin nantinya disaaat uang sudah bicara, maka kenangan sekalipun akan ditinggalkan. Mungkin benar, hidup itu bagaikan ilusi yang nyata. Yang tidak ada jalan untuk keluar darinya kecuali kematian.


" Gimana keadaanmu ?" Tanya kakakku dengan ekspresi yang sangat datar.


" Apa kakak masih peduli sama aku ?" Tanyaku balik.


Kakakku diam tak menjawab pertanyaanku kemudian pergi meninggalkan aku. Nampak tubuh gagah dan kerennya ketika aku menatapnya dari belakang. Sayup - sayup tubuhnya sudah hilang tak terpandang lagi olehku karena terhalang oleh pintu.


Soal rasa sakit itu, yang ku takutkan cuma satu. Bukan soal rasanya. Tapi soal jawaban apa yang harus aku katakan ketika ditanya oleh kakekku. Kalau ayah ibuku sih aku percaya tak akan menanyakan hal itu. Karena jam kerja mereka yang begitu padat mungkin akan sedikit lupa dengan anaknya. Di satu sisi aku ingin berbohong tapi di sisi lain aku takut berdosa. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berbohong, karena mungkin bohong untuk kebaikan tidak apa - apa juga.