Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Ziarah



Ketika cahaya rembulan telah pudar dan berganti dengan sinar sang mentari yang teramat indah, ku ingat bahwa hari itu adalah hari libur kerja. Pemikiran semalam telah membawaku ke suatu tempat yang menjadi rumah terakhir bagi kakekku. Meskipun jauh tapi tetap ku jalani perjalanan ke makam sang inspirator. Seperti biasa, dikarenakan makam kakek yang lebih dekat dengan rumah lamaku dibanding dengan kontrakanku, aku pun menyamar dengan mengenakan jaket, ditambah dengan masker yang menutupi mulut dan hidungku.


Ketika aku masuk area pemakaman itu, aku merasa sedikit merinding. Sifat penakutku seolah - olah meronta - ronta untuk keluar dari tubuhku. Suasana pemakaman yang sepi menambah rasa takutku. Namun kerinduanku pada sang inspirator mengalahkan ketakutanku, aku terus berjalan melewati banyaknya nisan yang tertancap. Hingga pada akhirnya ku melihat sebuah nisan yang bertuliskan nama kakekku. Aku pun mendekati gundukan tanah dimana letak nisan itu tertancap dan duduk jongkok disampingnya.


" Kakek........" Ucapku sambil membuka masker yang masih menutupi mulut dan hidungku.


" Sekarang, aku telah bekerja kek. Aku sedang dalam tahap mewujudkan semua mimpi dan cita - citaku kek. Aku juga sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dari kakak, seperti apa yang ku idam - idamkan sewaktu diriku masih kecil. Tapi aku selalu berharap kau ada disini untuk melihat segalanya. Aku masih butuh kata - kata penyemangat dan inspiratifmu kek. Aku harap didalam gundukan tanah ini kau bisa mendengarkanku," Ucapku sambil meneteskan air mata.


Aku menadahkan kedua tanganku sebagai bukti doa kepada sang pencipta untuk kakekku. Berbagai doa ku baca dan tak lupa aku pun mencabuti rumput yang sudah memanjang diatas makam kakek. Suasana sepi yang mencekam sudah tak ku hiraukan. Memang, tak ada seorang pun yang berkunjung ataupun berziarah ke pemakaman itu. Hingga pada akhirnya nampak seorang perempuan bersama dengan kakek - kakek yang datang ke pemakaman itu. Tak salah lagi mereka adalah Sherly dan kakeknya. Sherly, seorang anak yatim piatu yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dari ia masih kecil. Sekaligus seorang gadis cantik yang sangat ku kagumi. Namun aku tak mau dia tau kalau aku ada disana, aku kembali menutupi mulut dan hidungku menggunakan masker dan pura - pura berjalan mencari makam lain. Hingga mereka pun berlalu dari pandanganku dan aku kembali duduk disamping makam kakek.


" Kek, selama ini aku selalu mencari tempat untuk pulang yang sebenarnya. Apakah ini tempat bagi semua manusia untuk pulang yang sebenarnya ? Tempat yang pengap dan menakutkan ini, sendirian dan kesepian. Aku..... Aku......" Ucapku yang tak sanggup melanjutkan perkataan dikarenakan tangisanku yang sudah terlalu parah.


Semilir angin menambah aura tidak enak di sekitarku, hingga membuatku tak sadar bahwa Sherly dan kakeknya telah selesai ziarah dari makam ayah dan ibunya Sherly. Alhasil ia pun melihatku yang tak sempat memakai maskerku kembali.


" Kek, kakek pulang dulu aja ya !" Ucap Sherly.


" Kamu mau kemana nak ?" Tanya kakek Sherly.


" Ada urusan kek sama temanku," Jawabnya sambil menunjuk ke arahku.


" Tapi nak....."


" Tenang saja kek dia baik kok," Potong Sherly.


" Iya nak, baiklah, kakek pulang dulu ya," Ucapnya sembari berjalan meninggalkan Sherly.


Kini, Sherly pun berjalan mendekatiku. Aku masih berusaha menutupi mulut dan hidungku menggunakan masker. Namun ia sudah terlanjur melihatku dan sadar kalau itu aku. Hingga pada akhirnya ia pun sudah berada didepan mataku.


" Candra....." Panggilnya.


" S..Sherly," Ucapku gagap karena kaget.


" Kamu disini ?" Tanyanya.


" Iya Sher, berziarah ke makam orang yang paling aku sayangi," Ucapku sambil berbalik dan berjalan ke arah luar area pemakaman. Sherly pun mengikuti aku dan berjalan disampingku.


" Oh ya, apa kamu sudah bertemu dengan ayah dan ibumu ? kasihan mereka, nyariin kamu nggak ketemu - ketemu," Tanyanya.


Sejenak aku pun terdiam, aku sudah tau siapa yang memberitahu tentang keberadaanku. Mungkin Sherly hanya memberitahu kalau dia pernah melihatku di sekitar rumah lamaku, tapi ayah dan ibuku pasti mengerti kalau aku pasti tinggal disana.


" Jadi kamu yang memberitahu soal keberadaanku kepada ayah dan ibuku ?" Tanyaku.


" Iya, aku kasihan sama ayah dan ibumu. Mencarimu tanpa henti tanpa tau kamu ada dimana," Ucapnya.


" Candra, kamu itu bukan pembenci, kamu hanyalah seseorang yang hidup dengan penuh ambisi. Kamu juga bukan pendendam, kamu hanyalah orang yang mempunyai masa lalu yang suram," Tambahnya.


Aku terdiam memendam emosi, cuma ayah dan ibu yang mencariku. Lalu dimana kakak, dimana ia, kenapa tidak ikut mencariku. Dan ketika kami telah keluar dari area pemakaman, Sherly pun membuka pembicaraan lagi.


" Candra..... Pulanglah, dan temui mereka !" Ucap Sherly.


" Cukup.... Jangan pernah ikut campur dengan masalahku, kamu nggak tau apa - apa soal hidupku, kamu juga tidak akan tau tentang rasa sakit hatiku pada mereka," Ucapku dengan suara yang keras.


Tanpa kusadari, itulah pertama kalinya aku membentak seorang wanita yang seumuran denganku. Aku melihat raut wajah gadis itu yang berubah. Wajahnya muram dan dipenuhi dengan aura ketakutan.


" Maaf, maafkan aku," Ucapku.


" Tidak apa - apa," Jawabnya singkat.


" Candra, seharusnya kamu bersyukur masih punya orang tua. Masih ada yang memasak untukmu, masih ada yang mengkhawatirkanmu dan juga masih ada yang memarahimu ketika kamu melakukan kesalahan. Bahkan aku ingin merasakan itu semua, namun selalu tak bisa," Ucap Sherly sambil meneteskan air mata.


Benar saja, Sherly adalah seorang gadis yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dari ia masih kecil. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia pun harus diasuh oleh kakek dan neneknya sampai ia tumbuh dewasa. Aku terdiam mendengar hal itu, rasa bersalah muncul di hatiku. Namun aku juga tak sepenuhnya membenci keluargaku, bahkan tujuanku pun pada akhirnya akan kembali ke keluargaku.


" Sherly, sekali lagi maafkan aku," Ucapku membuka pembicaraan lagi.


" Tidak apa - apa, aku cuma berharap kamu nggak membenci orang tuamu," Ucapnya.


" Dan jangan sia - siakan waktumu bersama mereka," Tambahnya.


" Tenang saja, tujuanku pergi bukan untuk membenci. Tapi untuk membuktikan bahwa aku bukan orang yang pantas untuk diremehkan, jadi tolong, jangan memberitahu siapapun tentang keberadaanku," Pintaku.


Anggukan dan senyum manis itu menandakan persetujuan. Tak terasa sinar sang mentari sudah menyengat tubuh, meskipun tertutupi dengan rimbunnya pepohonan tapi masih ada celah - celah kecil yang membuat sinarnya bisa mengenai kulit. Aku berjalan berdampingan dengan Sherly menuju rumah kami masing - masing. Namun ia pun belum tau tentang keberadaan kontrakanku.