
Hari itu di tanggal 10 Oktober, tepat di hari kelahiranku. Seorang manusia yang bernama Candra telah berusia 18 tahun. Ya, itulah namaku. Seseorang yang selalu hidup dalam kebencian dan penderitaan.
Didepan sebuah rumah yang sederhana, aku berdiri. Seakan teringat dengan sesuatu, yaitu masa lalu. Rumah itu adalah rumah masa kecilku dulu. Setiap bagian - bagian darinya tersimpan kenangan - kenangan indah yang selalu membuatku ingin meneteskan air mata. Tapi sekarang ia sudah jarang terjamah oleh banyak manusia. Meskipun begitu, bangunan itu masih cukup terawat dan tidak ada sedikitpun kesan angker yang terlihat.
" Mungkin rumah ini adalah tempatku untuk pulang yang sebenarnya," Ucapku ketika berada didepan rumah itu.
Derap kakiku melangkah berirama dengan rerumputan yang ku injak, ku berjalan memasuki istanaku itu. Masih sama seperti dulu, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan rumah masa kecilku itu. Di pojok sana terdapat sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Sebuah kamar yang dulu pernah menjadi ring antara aku dengan kakakku. Ya benar, dulu aku sering bertengkar di kamar itu dengan kakakku, tapi setiap pertengkaran yang terjadi selalu diakhiri dengan tawa.
Aku berjalan kesana, entah kenapa hati yang mudah rapuh ini selalu ingin meneteskan air mata setiap kali aku melihat hal - hal yang berkenaan dengan masa laluku.
" Cklekkk." Suara pintu kamar yang memang sudah terlalu tua. Aku terperajat ketika baru saja membuka pintu kamar. Bagaimana tidak, masa lalu tetaplah masa lalu. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Kamar itu begitu bersih, maklum saja setiap hari pembantuku selalu membersihkan rumah itu.
Tanpa kusadari, datanglah seorang laki - laki paruh baya yang masuk ke kamarku. Dia adalah Pak Anto, pembantuku, yang setiap hari membersihkan rumah itu.
" Loh, Den, kok ada disini ?." Tanyanya ke aku. Begitulah panggilan dari Pak Anto kepadaku, sebenarnya aku juga tidak mau dipanggil begitu.
" Ehh pak, tolong keluargaku jangan dikasih tau ya kalau aku ada disini," Pintaku ke Pak Anto.
" Tapi Den, kasihan ibu dan ayahnya Den," Ucapnya.
" Tolong pak, jangan dikasih tau ya," Ucapku memelas, berharap Pak Anto mengabulkan permintaanku.
" Hufff, baiklah Den, bapak nggak akan kasih tau keluarga Den kalau Den ada disini. Dan kalau butuh sesuatu, tinggal bilang saja sama bapak," Ucap Pak Anto.
" Terima kasih pak, terima kasih," Ucapku sambil mencium tangannya.
" Ya Den sama - sama," Ucapnya sambil melepaskan ciumanku ke tangannya dan kemudian pergi dari kamarku.
Pak Anto memang sudah begitu dekat denganku. Perannya di hidupku tidak hanya sebatas sebagai pembantu / tukang kebun. Tapi ia adalah seorang pengganti dari orang tuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tanganku tergerak untuk mengambil foto berbingkai itu dari jeratan tajamnya paku yang menancap. Dan tanpa kusadari tangisan air mata ku pun pecah. Bagaimana tidak, melihat sesuatu yang indah dan sudah lama tidak terihat memang benar - benar sangat mengharukan. Meski kebencianku pada mereka sudah mencapai puncaknya, tapi rasa rindu itu tetap mengalahkan segalanya.
" Foto ini......" Ucapku mengambil foto berbingkai itu sambil meneteskan air mata.
Ku usap dengan lembut kaca yang melindungi foto itu, nampaknya kaca itu sudah tertempel banyak debu serta sarang laba - laba. Lelaki kecil yang ada di foto itu sedang tersenyum. Itulah diriku yang dulu, diri yang selalu tersenyum meskipun sudah banyak merasakan penderitaan. Namun sekarang, keceriaan itu seakan sirna dari duniaku.
Ku duduk di kasur yang sudah cukup usang, kasur yang dulu pernah menjadi matras gulat bagiku dan kakakku. Kasur itu pula menyimpan kenangan dimana pernah tertetes air mataku di kasur itu yang mana disebabkan oleh kekalahanku bergulat dengan kakakku waktu itu. Dulu hanya satu yang ku percayai, setiap tetesan keringat, setiap tetesan air mata yang mengalir di kasur itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan di kemudian hari. Dan kepercayaan itu benar - benar nyata.
" Heh, kakak. Dulu kupikir setiap apa yang kamu lakukan kepadaku adalah bentuk pelampiasan akan kebencianmu padaku. Tapi aku sadar, setiap pukulan, tendangan dan bentakan itu adalah sebuah pengajaran yang kau berikan kepadaku agar aku tau arti kuat yang sebenarnya," Ucapku sambil melihat foto itu sembari tersenyum kecil.
" Tapi......... Kenapa saat aku sudah menyadarinya kau malah berubah kak. Seolah - olah, kau itu sosok manusia yang tidak pernah ku kenal sebelumnya. Kau begitu acuh kepadaku, apa ini gara - gara kehebatanmu. Kau disanjung banyak orang. Dikagumi dan dihargai banyak orang. Bahkan keluarga kita pun selalu membandingkan aku dengan kamu. Apa kau malu mempunyai adik yang payah sepertiku, kak," Ucapku antara dengan nada marah dan sedih.
Aku menangis, menangis cuma aku dan sang pencipta yang tau. Merenungi indahnya masa lalu yang digantikan dengan suramnya masa kini. Lalu bagaimana dengan masa depanku nanti, jika dimasa kini saja sudah se suram ini.
Masih memandang foto berbingkai itu, seolah - olah semua peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu bisa kuingat. Raut wajah lucu ku itu membuatku teringat kembali tentang masa laluku. Sebuah potret dari keluarga besar yang sudah lama sekali. 13 tahun yang lalu kami pernah berkumpul seperti itu. Kakekku juga masih ada dan sekarang beliau sudah tinggal kenangan. Beliau meninggal beberapa tahun yang lalu dengan meninggalkan duka yang dalam bagi kami.
Flashback
" Jangan cengeng Candra, kamu itu laki - laki. Jadi harus kuat," Ucap kakekku di kala aku sedang menangis dulu.
Kakekku memang sangat menyanyangiku, bahkan bisa dibilang rasa sayangnya melebihi orang tuaku. Bahkan ketika keadaannya sudah tua dan rapuh, dia tetap ingin menjagaku meskipun beliau bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Aku selalu teringat dengan kata - kata ajaib yang bisa membuat diriku bangkit dari keterpurukan. Namun saat itu, tepat di hari Jum'at beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Dan satu kata - kata yang selalu ku ingat dari kakekku adalah....
" Kamu tak perlu menjadi hebat nak, kamu hanya harus bisa menjadi seseorang yang berharga bagi hidup orang lain."
Itulah kata - kata abadi yang selalu ku ingat selama hidupku. Tapi meskipun begitu kata - kata itu cuma bisa menjadi kenangan tanpa bisa menjadi pedoman. Karena pola pikir manusia lainnya itu berbeda dari kakekku, mereka hanya melihat kehebatan, kekuatan, kekayaan ataupun yang lainnya. Tanpa melihat betapa berharganya seseorang didalam hidupnya.