
Hal terindah dalam hidupku adalah ketika sang kakak yang ku sayangi, ku kagumi namun juga ku takuti mendadak menjadi sangat baik denganku. Tapi meskipun begitu bukan berarti kami tidak pernah berkelahi lagi. Malahan, itu adalah awal dari sejarah panjang pertarunganku dengan kakakku. Sekuat dan sehebat apapun diriku tetap saja aku tidak akan pernah bisa mengalahkan kakakku. Satu pertarungan yang tidak bisa kulupakan sepanjang hidupku adalah ketika kakakku memukul kepalaku dengan sangat kerasnya.
Aku menangis, menangis bukan berarti cengeng. Tapi itu karena pukulan keras dari seorang kakak yang layaknya seorang petinju profesional. Dan kasur di kamarku itu, adalah saksi dari tangisanku. Bahkan air mataku pun menetes diatasnya. Rasa sakit di kepalaku itu benar - benar sangat sakit. Bahkan hampir tidak bisa kutahan dan merasakan akan jatuh pingsan.
" Candra, kamu gak apa - apa kan ?" Tanya kakakku mencemaskan keadaanku.
Dalam hati aku berkata, " Tidak apa - apa, tidak apa - apa, sakit tau." Memang pukulannya sangat keras. Hingga bisa membuatku terkapar tak berdaya, bahkan sampai keluar air mata. Pukulan keras itu adalah pukulan yang paling bisa membuatku terluka parah dari banyaknya pukulan - pukulan yang telah kakakku berikan.
" Maaf ya, hahahahaha," Tawanya.
Tangisku malah diiringi tawa yang menggelikan. Tak kusangka dibalik sifat tegas dan pemberani kakakku tersimpan sebuah sifat bodoh yang mengalir di aliran darahnya. Ketika air mata sudah mereda dan berubah menjadi tetesan kecil yang masih membasahi kasur, kakakku pun melakukan sebuah terapi kecil dengan memijat kepalaku. Tidak ada yang tau soal kejadian itu, tidak ada yang tau tentang tangisku. Kecuali aku dan kakakku, dan pastinya juga sang pencipta.
Hari - haripun berlalu, dimana setiap detik, menit dan jam dari setiap hari itu mengandung sebuah makna yang tak kan terlupakan. Dari situlah aku mulai mengerti tentang indahnya hidup. Yang sebelumnya aku selalu menganggap kehidupan hanyalah sebuah ilusi. Ilusi yang menyakitkan, penuh penderitaan dan rasa sakit. Tapi aku sudah mengerti tentang arti sebuah kehidupan. Tentang kebersamaan dengan orang - orang tersayang. Tentang sebuah cinta dari hati yang terdalam. Penderitaan dan rasa sakit yang dulu selalu kurasakan, nampaknya telah berakhir.
Pagi itu.... Di hari Minggu......
" Kak, apa kau membenciku ?" Tanyaku
" Maksudnya ?" Tanyanya balik sambil berdiri dari kursi teras rumah.
" Entahlah kak, tapi hati dan fikiranku merasa bahwa kau membenciku," Jawabku.
" Candra, bukan dirimu yang kubenci, tapi sifatmu yang dulu. Sifat lemah yang amat menyedihkan......"
" Candra, ingatlah, kakak tidak akan pernah bisa menjagamu selamanya. Suatu saat nanti kita pasti akan dipisahkan oleh jarak dan waktu, karena itulah, sebelum itu terjadi kakak ingin melihatmu menjadi pria yang kuat, yang bisa melebihi kakakmu ini," Ucapnya dengan senyuman.
" Heh, jangan pesimis. Yakin saja bahwa suatu hari nanti kamu bisa melampaui kakak," Ucap kakakku meyakinkan.
" Aku tunggu hal itu terjadi, adikku," Tambahnya sambil berjalan pergi dengan senyum yang tidak biasa.
Aku merasa, aku telah gagal menjadi seorang adik yang baik. Kakakku, sang pelindung dan pembimbing, meskipun ia membimbingku dengan cara yang jauh berbeda malah kuanggap sebagai manusia yang paling membenciku. Seorang pembenci yang tidak mempunyai belas kasihan sedikitpun kepada adiknya sendiri. Namun ternyata dia itu seorang kakak yang baik nan hebat. Seorang kakak yang tidak mau adiknya menyerah pada kerasnya dunia.
Sore itu, aku duduk di ruang tamu bersama kakekku, namun tidak dengan kakakku. Entah kemana dia pergi, dari siang belum juga kembali. Sang kakek yang sudah tua itu mengajakku berbincang - bincang tentang semua hal yang bisa di perbincangkan. Terkadang juga diselingi dengan canda tawa.
" Kek, kenapa aku ini, kenapa diriku ini lemah. Meski kakak sudah mengakui aku, tapi aku merasa aku ini masih lemah. Faktanya aku selalu kalah dari kakak," Ucapku.
" Candra, kekuatan yang sebenarnya itu bukanlah dari fisikmu, tapi itu datang dari hatimu," Jawab sang kakek.
" Dari hati ? Maksudnya apa kek ?" Tanyaku kebingungan.
Sang kakek tak menjawab apapun, ia cuma tersenyum ke arahku. Menandakan ia tak mau memberitahu. Mungkin ia ingin aku sendiri yang mengetahuinya. Hingga ia pun menjawab
" Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti," Jawabnya yang lagi - lagi diselingi dengan senyuman.
Di usiaku yang masih belia, jelas setiap kata yang berharga akan selalu teringat di pikiranku. Meskipun kata - kata itu sudah membusuk karena zaman yang akan berubah. Karena aku percaya, hal itu mungkin bisa mengubah pola pikirku nanti. Di masa depan, masa - masa yang mungkin akan banyak kesulitan, penderitaan ataupun kesakitan. Pesan - pesan yang dirangkai dalam kata - kata indah oleh orang tersayang mungkin adalah sebuah cara untuk membuat seseorang mengingat ia selamanya.
Karena hidup itu keras, dan setiap kali aku ingin menyerah, mungkin kata - kata itu dapat membangkitkanku lagi. Seperti ucapan sang kakak waktu kecil dulu, yang akhirnya bisa membuat pola pikirku berubah. Dan aku sadar pada satu hal, terkadang sebuah cacian, hinaan, bentakan, gertakan ataupun yang lainnya tidak selamanya membuat hati rapuh. Itu tergantung seseorang dalam menyikapinya. Bisa jadi hal semacam itu akan dijadikan alasan untuk seseorang bisa menjadi lebih dan melampaui orang yang telah mengucap kata - kata menyakitkan itu.
Perlahan aku selalu mengingat ucapan kakekku. Apa artinya kekuatan yang sebenarnya itu dari hati. Apa mungkin itu sebuah kebaikan atau sebuah tekad pantang menyerah. Jika itu artinya aku pun belum kuat. Karena aku masih sering menyerah, aku juga belum begitu banyak melakukan kebaikan. Tapi aku juga masih punya banyak waktu untuk memperbaiki itu semua. Sebelum hal yang lebih menyakitkan, sebelum datangnya banyak penderitaan baru, aku harus menjadi kuat terlebih dahulu agar diriku nanti sanggup menghadapi semuanya. Kini saatnya dimana sebuah tekad api ataupun tekad pantang menyerah selalu ku munculkan, tidak seperti sebelum - sebelumnya yang hanya muncul di momen - momen tertentu. Bahkan sampai - sampai, akupun mengemban janji pada diriku sendiri, jika aku gagal memunculkan tekad pantang menyerah itu dan jika aku gagal menebar kebaikan ke orang lain, maka aku pantas disebut pecundang.