
Hari Minggu pun tiba, dibawah sinar sang mentari yang agak tertutup dengan awan, aku dan kakakku berangkat ke bukit itu. Keindahan alam nusantara sudah mulai nampak dikala kami baru sampai dikaki bukit. Ia bukanlah gunung, ketinggiannya juga jauh dari gunung. Tapi pemandangan indahnya hampir sama dengan gunung. Aku berjalan berdampingan dengan kakakku menyusuri rimbunnya pepohonan di bukit itu, hingga tak lama kemudian kami pun sampai di puncak. Seperti dugaanku, seluruh tempat bisa ku pandang dari atas sana, hawa sejuk menambah ketenangan hati.
" Gimana ? Ini kan tempat yang sangat ingin kamu datangi ?" Ucap kakakku yang kurespon dengan senyuman.
" Dari sini kita bisa melihat semuanya yang berada dibawah, itulah yang ku suka dari tempat ini," Ucapku.
" Kalaulah mataku ini tidak mengalami gangguan, mungkin aku bisa melihat setiap orang yang berada dibawah sana," Batinku.
" Ya, tapi kalau keinginan pergi ke suatu tempat cuma dipendam dan tak berani untuk dijalani buat apa ? Bisanya cuma memandang tempat itu dari jauh, ha ha ha ha ha," Ejeknya ke aku sembari tertawa.
" Nggak usah ketawa kenceng - kenceng, lukamu itu belum sepenuhnya sembuh," Ucapku kesal.
Kami pun saling berdiam diri beberapa saat, sebelum canda tawa terucap lagi dari mulut ke mulut. Sebuah arti dari persaudaraan yang sebenar - benarnya, sebuah kebersamaan dibukit yang berada diatas sana. Ketika sang waktu terus - terusan berjalan, aku yang masih menghadap kebawah memandangi indahnya alam Indonesia dikagetkan dengan sebuah tangan yang aku tak tau tangan siapa itu. Tangan itu mengoles sesuatu ke wajahku, tidak salah lagi itu adalah tepung. Olesan itu dilanjutkan dengan guyuran tepung di kepalaku, dan suasana riuh pun terdengar.
" Selamat ulang tahun," Ucap banyak orang yang terdiri dari teman - teman SMA ku, ayah ibuku, Pak Anto, bahkan Sherly pun ada disana.
Ku ingat - ingat kembali sebuah tanggal, perasaan baru tanggal 9 Oktober, sedangkan hari kelahiranku adalah tanggal 10 Oktober.
" Ulang tahun, perasaan ini bukan ulang tahunku deh," Ucapku bingung.
" Mungkin disini masih tanggal 9 Oktober, tapi mungkin pula jauh dari tempat kita berada ini sudah tanggal 10 Oktober, itu berarti hari ini adalah hari kelahiranmu kan," Sahut kakakku.
" Heh, dasar aneh," Gumamku seakan tidak percaya dengan kejadian itu.
" Candra, gini - gini, mungkin ini baru tanggal 9. Tapi hanya hari inilah kita semua bisa berkumpul, jadi kakakmu meminta ayah, ibu Pak Anto dan yang lainnya untuk datang kesini. Ini semua adalah ide dari kakakmu," Jelas ibuku.
" Begitu ya ?" Ucapku sambil memandang kakakku.
Didepan sana nampak seorang gadis yang sedang membawa kue ulang tahun, gadis itu tidak lain adalah Sherly. Kue itu dibawa ke hadapanku dan aku disuruh untuk meniup lilin - lilin yang menancap di kue itu. Rasanya aneh, seperti anak kecil saja. Namun aku menyimpulkan bahwa itu adalah kejadian yang tertunda, karena dulu diwaktu kecil aku tak pernah merasakannya. Dan bukit yang menjulang tinggi itu menjadi saksi atas hari lahirnya seorang anak dengan berjuta impiannya.
Akupun memotong kue itu menjadi beberapa bagian dan kubagikan kepada mereka semua. Meskipun sederhana tapi rasanya benar - benar sangat menyenangkan. Berada ditempat tinggi dengan ditemani oleh orang - orang tersayang. Gadis cantik itu, rasanya ingin sekali aku menyatakan cintaku. Namun keberanian untuk mengungkapkan itu seolah hilang dari dalam diriku. Dia sudah begitu baik denganku, dia selalu ada di hidupku dalam situasi apapun. Nampaknya kisah cintaku belum bisa dimulai.
" Semuanya, terima kasih atas kejutannya," Ucapku.
" Emang kami mengejutkan kamu ya, Ndra ?" Tanya Andre.
" Enggak kok," Sahut Indra.
" Candra woy, Candra, nyahut aja ni anak," Ucap Andre kesel.
" Syutttt, ada ayah dan ibunya tu, kan mereka yang menamainya," Ucap Edo.
Ayah dan ibu yang mendengar percakapan itupun tertawa kecil, begitu juga dengan yang lain. Virgo, sahabat dekatku waktu SMA, seorang pendiam yang tak pernah geram, nampaknya sudah bisa berubah menjadi manusia yang ceria. Itulah persahabatan, semua bisa berubah dengan satu ikatan itu. Dan satu hal lagi, didalam ikatan yang disebut dengan persahabatan, akan ada dimana seseorang akan bertingkah ataupun berbicara sekonyol mungkin demi membuat yang lain tersenyum.
Canda tawa kami persembahkan di momen itu. Mungkin itulah satu - satunya hari dimana kami bisa berkumpul bersama. Namun satu hari itu akan terasa abadi, karena aku adalah tipe orang yang tidak pernah melupakan sebuah momen penting. Meski kebersamaan itu tidak abadi didalam kenyataan tapi kebersamaan itu akan abadi didalam ingatanku.
Tak terasa hari sudah mulai siang, sang mentari juga sudah mulai tepat berada diatas kami. Panas mulai menyengat, angin sepoi - sepoi pun tak mampu menghilangkan panas itu.
" Pulang yuk, udah panas nih !" Ajak Andre kepada kami.
" Halah, lemah, panas gini aja udah ngeluh, tapi emang panas sih," Oceh Indra.
" Heee, ujung - ujungnya sama, ngoceh aja bisanya," Omel Andre.
" Ya, benar, udah mulai panas nih, sebaiknya kita pulang !" Ajak ayahku.
Kami pun bergegas untuk menuruni bukit itu, dalam perjalanan turun, kakakku selalu menggodaku dengan kata - kata yang membuatku malu.
" Hey, Candra, aku rasa dia suka tu sama kamu," Ucap kakakku sambil memberi isyarat lewat mata yang menunjuk ke Sherly.
" Dia siapa kak ?" Tanyaku.
" Udah, nggak usah pura - pura deh, tu, mending kamu pacarin aja dia, gadis cantik gitu jangan dilepasin," Bisik kakakku.
" Ah, kakak aja masih jomblo, sok - sok an nyuruh aku pacaran." Ejekku yang kemudian berjalan mendahuluinya.
" Ha ha ha, hey Candra, jangan dilama - lama in," Teriaknya.
" Bodoh amat." Ucapku kesal.
Sontak percakapan itupun mengundang rasa bingung dari semua orang, itu terlihat dari wajah mereka yang memperhatikan aku dan kakakku.
" Ada apa Ndra ?" Tanya Virgo.
" Gak apa - apa." Jawabku singkat.
Rasa puasku akan sebuah hari yang penuh dengan kebersamaan itu benar - benar besar, meski sudah berakhir dan kami pun pulang kerumah masing - masing.