
Hari itu, hari dimana sebuah pembuktian akan ku lakukan. Sebuah bukti bahwa aku bisa lebih hebat dari kakakku. Berbagai usaha dan doa sudah ku lakukan agar aku bisa mendapat nilai yang paling tinggi di ujian nasional. Dalam pikiranku cuma satu, aku harus bisa mengalahkan kakakku. Atau paling tidak aku harus bisa menyamai dia. Ambisiku untuk bisa lebih hebat dari dia benar - benar besar. Aku tak mau hal yang sama terjadi lagi, meskipun sebenarnya pun sudah terjadi. Namun aku tak mau membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi.
Soal ujian kala itu benar - benar sulit. Untungnya sebelum itu aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Aku sudah sering belajar bersama sahabatku, Virgo, yang memang dikenal sebagai murid terpintar di kelas. Dia masih satu tingkat diatasku. Namun dalam ujian nasional itu, sebelum mengalahkan kakakku, aku harus lebih dulu mengalahkan Virgo.
" Wahh gila, sulit banget ujian nasional tahun ini," Keluh Indra yang memang beda kelas sama aku, tapi saat ujian nasional kami berada di satu kelas yang sama.
" Iya, sulit banget bro," Sahut Andre, teman sekelasku.
" Payah kalian, Ujian gampang gitu dibilang sulit," Sahut Karin si gadis manis yang juga teman sekelasku.
" Dasar kalian, sudahlah jangan mengeluh dan jangan menyombongkan diri !" Ucapku yang baru membuka mulut.
" Ha ha ha, benar juga kamu Ndra," Ucap Andre dengan kepala tertunduk.
" Kok aku," Kata Indra.
" Candra woy bukan Indra," Bentak Andre menghadap ke wajah Indra yang kemudian disusul dengan tawa yang menggembirakan.
Mungkin aku dan Indra pernah bermusuhan, bahkan pernah berkelahi. Tapi seorang musuh tak akan selamanya menjadi musuh, ia bisa menjadi teman, bahkan sahabat. Tak ada yang namanya musuh abadi, tapi ada yang namanya sahabat sejati. Dan saat itu, satu - satunya ikatan yang masih bisa ku percaya adalah ikatan persahabatan. Karena dalam ikatan itu tak ada satupun dari mereka yang mengungkit ataupun membanding - bandingkan aku dengan kakakku, meskipun mereka pun sudah tau tentang kedudukan kakak.
Hari kelulusan pun tiba, ketika itu sebuah hasil dari usaha keras kami akan di umumkan. Aku berharap bisa menjadi peringkat satu se kota Bandung, dengan begitu artinya aku bisa menyamai kakakku. Atau kalau bisa, nilaiku bisa lebih tinggi dari dia. Supaya nantinya, orang - orang yang sok tau itu, bisa benar - benar tau mengenai diriku. Namun harapanku pun musnah, dikala bapak kepala sekolah mengumumkan bahwa aku hanya peringkat 5 se kota Bandung dan peringkat satu se Sekolahan, kali ini aku yang berada satu tingkat diatas Virgo. Sebenarnya itu adalah pencapaian yang cukup bagus, tapi walau bagaimanapun juga ambisiku untuk mengalahkan kakak belum tercapai. Di kursi sana juga kulihat wajah ibuku yang sedikit murung. Apa mungkin ia kecewa dengan pencapaianku ?. Padahal itu sudah cukup bagus. Bahkan nilaiku pun hampir sama dengan nilai kakakku waktu itu, hanya beda beberapa angka.
" Nilai yang bagus, tapi masih kalah ya sama kakak kamu," Ucap ayahku ketika melihat data nilaiku.
Tapi itu belum seberapa, rasa sakit hatiku terus berlanjut sampai aku benar - benar yakin ingin meninggalkan rumah itu. Saat itu di hari Minggu, 2 orang sahabat SD ku yang memang se kompleks denganku datang ke rumahku. 2 orang lelaki yang dulu selalu menemaniku disaat aku dibully, disakiti dan dicaci itu bernama Yanto dan Ferdi.
" Ehh kalian, ada keperluan ya sama Candra ?" Tanya ibuku dengan senyuman hangat.
" Enggak tante, kami ada keperluan sama Kak Iqbal," Jawab Ferdi.
Entah perasaan apa yang muncul dalam benakku waktu itu, mereka itu temanku, tapi perlunya malah sama kakakku. Dari situ aku berpikir bahwa kakakku telah merebut semuanya dariku. Semua ikatan yang ku punya telah direbutnya. Ketika 2 sahabatku itu masuk dan melewati aku, mereka hanya tersenyum tanpa menyapa. Padahal dulu, kami itu sering bercanda, ejek - mengejek dan banyak lagi hal - hal yang kami lakukan bersama.
Kesal sekali rasanya, melihat sahabat - sahabatku yang seolah - olah sudah tidak menganggapku ada lagi. Lagi - lagi rasa sakit itu ditambah dengan ucapan ibuku dikala kedua sahabatku itu sudah pulang.
" Candra, itu kan teman - teman kamu, tapi kok nyarinya Iqbal, bukan kamu ?" Tanya ibuku kepadaku. Sontak pertanyaan itu membuatku semakin kesal dan marah.
" Nggak usah nanya gitu bu, dan nggak usah banding - bandingin aku dengan kakak lagi," Ucapku dengan nada tinggi sembari naik ke lantai 2 dan masuk kamar.
Lalu apa yang dilakukan ibuku ?. Kuharap dia mengejarku dan meminta maaf soal pertanyaannya. Tapi ia seperti orang yang tidak peduli kepadaku. Aku sadar, satu - satunya ikatan yang ku percayai bisa menemaniku disaat aku rapuh itu telah hilang. Sang kakak telah merebut semuanya dariku. Sakit sekali rasanya.
Aku mengamuk di kamar, segala yang ada aku tendang dan ku pukul. Suara riuh pun terdengar jelas. Namun tetap sama saja, tak ada yang peduli, tak ada yang menasehatiku. Andai kakek masih ada, pasti dia akan peduli sama aku. Saat itu, satu - satunya orang yang bisa mengerti perasaanku dirumah itu hanyalah Pak Anto, seorang tukang kebun yang sangat ku sayangi.
Malam itu, aku menatap langit hitam yang sunyi. Tanpa adanya bintang - bintang. Namun aku melihat bulan yang sedang sendirian diatas sana. Kemanakah bulan akan pergi ketika bintang tidak ada ?. Itulah yang menjadi pertanyaanku waktu itu. Mungkin jawabannya, bulan akan terus mencari dimanapun sang bintang berada, agar ia tetap bisa bersinar menyinari bumi yang gelap. Sama seperti aku, aku pun akan mencari dimana semua mimpi, angan - angan dan cita - citaku bisa tercapai, agar hidup yang ku jalani bisa lebih bersinar. Mungkin jalan yang akan aku pilih itu benar. Yaitu pergi meninggalkan rumah itu untuk menenangkan diriku dan juga untuk meniti semua angan dan cita - citaku. Lalu aku akan kembali dengan sejuta bukti bahwa aku bukanlah orang yang patut untuk diremehkan. Namun sayangnya itu barulah sekedar ekspektasiku saja, bukan realita yang akan benar - benar ada.