Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Dunia Tanpa Kebencian



Di sore hari yang cerah, dikala aku pulang dari pekerjaan yang melelahkan dan merepotkan, aku langsung menuju rumah sakit tempat dimana sang kakak sedang dirawat. Disana juga sudah ada ayah, ibu dan Pak Anto serta kakakku. Ketika aku baru saja sampai disana, dengan tubuh yang terduduk di kursi roda, kakakku bergerak mendekati aku sembari tersenyum.


" Ayah, ibu, Pak Anto. Aku sudah mengakui dia, karena itu, aku juga ingin kalian mengakui kehebatannya. Seorang manusia dengan penuh mimpi, seorang pemilik tekad kuat, seorang manusia yang benci dengan kata menyerah. Maka dari itu, perlakuan kita dahulu yang selalu meremehkan dia itu salah, namun juga tidak sepenuhnya salah. Karena dengan itu ia bisa tumbuh dan berjuang menjadi lebih baik," Ucap kakakku panjang lebar yang membuat semuanya tersenyum.


" Apaan sih, lebay," Celaku pada kakakku.


" Lebay juga perlu kan demi sebuah kebenaran," Sangkalnya.


" Heh, terserah deh," Ucapku pasrah.


Tawa suka ria terdengar begitu menggema di ruangan itu. Cahaya cinta terpancar dari wajah semua yang ada di ruangan itu. Kebencian itu sudah hilang, penderitaan itupun telah hilang. Kebersamaan telah mengubah semua itu, lewat kejadian menakutkan itulah semuanya berubah. Ayahku, ibuku, kakakku, Pak Anto, semuanya ada didekatku. Andai saja kakekku juga ada, atau paling tidak kakek dan nenekku yang berada di desa yang jauh dimata bisa berada di dekatku, pasti akan terasa berada di surga.


Tak lama kemudian, muncullah sang dokter dari balik pintu kamar pasien itu. Nampaknya ia mau memberitahukan sesuatu.


" Hari ini, Mas Iqbal sudah boleh pulang. Tapi harus dijaga ya kesehatannya !" Ucap dokter.


" Iya Pak Dokter, terima kasih ya," Jawab ayahku.


" Iya, sama - sama. Kalau begitu saya tinggal dulu ya, masih ada pasien lain," Ucap sang dokter sembari meninggalkan kami.


Sore itu juga kami membawa kakakku pulang, di halaman rumah sakit kami masih menunggu kembalinya ayah dari urusannya menyelesaikan administrasi. Hingga ia pun kembali dan bersama - sama pulang ke rumah baru.


Hari hari ku lalui di rumah baru itu, dan aku selalu merasakan hal yang berbeda di rumah itu. Ayahku, ibuku, mereka lebih meluangkan waktunya untuk berinteraksi denganku setelah sebelumnya jarang atau bahkan tak pernah berinteraksi denganku kecuali dengan kata - kata meremehkan. Aku senang sekali, karena itu ku putuskan untuk tinggal disana bersama mereka meninggalkan kontrakanku yang telah ku bayar sewanya untuk bulan - bulan berikutnya. Aku pun menghubungi sang pemilik kontrakan bahwa aku akan keluar dari kontrakan itu.


Meski jarak rumah dengan tempat kerjaku akan bertambah lebih jauh, namun demi sebuah kebersamaan aku rela menjalaninya. Di hari - hari berikutnya keadaan kakakku sudah mulai membaik. Ia sudah bisa berjalan setelah sebelumnya hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda.


" Semuanya, aku berangkat kerja dulu ya," Ucapku.


" Iya, hati - hati !" Jawab ibuku. Kebetulan ayah dan ibuku sudah tidak berangkat terlalu pagi seperti dulu.


" Iya, assalamualaikum," Ucapku.


" Waalaikum salam," Jawab semuanya.


Sore hari setelah pulang kerja, aku rasa aku masih punya banyak waktu. Aku turun dari angkot tepat di pinggir jalan yang menghubungkan ke desa itu. Aku berjalan menuju ke masjid tempat dimana pertama kalinya aku bertemu dengan Ustad Sobri. Berharap aku bisa bertemu dengan dia lagi, namun tak ada tanda - tanda dia datang ke masjid itu. Hingga seorang pemuda datang ke masjid, seorang pemuda berwajah alim dengan peci dan lilitan sarung di perutnya itu berjalan mendekati aku.


" Assalamualaikum," Ucapnya.


" Waalaikum salam," Jawabku.


" Masnya, bukan orang sini ya ?" Pertanyaan yang persis dengan pertanyaan Ustad Sobri waktu itu.


" Bukan mas, saya sedang mencari Ustad Sobri, apa mas mengenalnya ?" Tanyaku balik.


Mendadak raut wajahnya berubah menjadi sedih. Seolah - olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


" Ustad Sobri....... Ustad Sobri telah meninggal satu bulan yang lalu," Jawabnya dengan raut wajah sedih.


Alangkah terkejutnya diriku ketika mendengar jawaban itu. Mau tidak percaya, tapi itu memang terjadi. Dengan sangat sedih, ku minta ia menunjukkan kuburan Ustad Sobri, hingga akhirnya kami pun sampai disana.


" Lagi - lagi, bumi telah menelan seorang manusia yang sangat baik," Ucapku sambil meneteskan air mata.


Aku pun mendoakan Ustad Sobri agar nantinya ia berada di tempat yang indah, yaitu surga. Setelah semuanya terjadi, aku menyesal, mengapa tidak dari dulu aku datang ke desa itu. Mungkin saat itu aku masih bisa bertemu dengannya.


Hingga langit pun sudah merubah warnanya, sang senja dengan cahaya jingganya telah memunculkan diri. Dengan perasaan sedih aku pun pulang.


" Assalamualaikum, aku pulang," Ucapku dengan lesu sambil membuka pintu rumah.


" Waalaikum salam, selamat datang, Candra," Sambut kakeku yang dari desa.


" Kakek, nenek," Teriakku dengan sangat girang sembari memeluk mereka. Bagaimana tidak, sudah sekian lama aku tak bertemu mereka dan rindu itupun sudah mencapai puncaknya.


Akhirnya semuanya lengkap, bisa berada di satu tempat yang sama. Aku selalu berharap selamanya akan selalu seperti itu. Sebuah kebersamaan abadi tanpa ada sebuah perpisahan, kecuali kematian. Namun pastinya semuanya akan sulit diwujudkan, mengingat semuanya sudah mempunyai dunia masing - masing, tapi paling tidak setiap hari kami bisa berkumpul meski cuma beberapa menit saja. Lagipula kakek dan nenekku tak pernah mau jika mereka harus selamanya tinggal di rumahku. Mereka tak bisa meninggalkan rumah di desa yang asri yang sudah sekian lama mereka tempati. Bagi mereka rumah di desa itu adalah rumah kenangan yang tak mungkin mereka tinggalkan, sama sepertiku yang begitu berat meninggalkan rumah lamaku itu. Tapi paling tidak, meski mereka tak menetap di rumahku untuk selamanya, mereka bisa tinggal untuk beberapa hari disana. Untuk melepas segala kerinduan didalam hatiku. Untuk membangun kembali sebuah kebersamaan yang sudah terpecah.