Are You My Brother ?

Are You My Brother ?
Dunia Tanpa Kebencian 2



Esok hari yang cerah, mataku telah disambut dengan terbitnya sang fajar. Semuanya terlihat lewat jendela kamarku. Bukit - bukit yang menjulang tinggi, rasanya aku ingin melakukan petualangan disana. Sesaat kemudian, sinar mentari pun sudah menyinari semesta raya. Aku telah bersiap - siap berangkat kerja. Sesaat aku kembali teringat dengan kepergian Ustad Sobri, entah mengapa sosoknya selalu terbayang didalam diriku, padahal pertemuan dengannya pun cuma sesaat dan secara tidak sengaja. Tapi satu hal yang aku pelajari dari dia, yang membuatku tak bisa melupakannya. Dialah manusia yang sangat mengagumkan, dengan gelarnya yang tinggi ia tak pernah menyombongkannya. Aku benar - benar banyak belajar darinya. Namun ia pun sudah berada di alam yang berbeda, sebuah kisah hidup yang sangat mengharukan.


" Kak, udah sembuh ?" Tanyaku ketika melihat kakakku sedang melakukan olahraga yang lumayan berat.


" Ya sudah lah, luka kecil gitu masa harus sakit terus," Jawabnya dengan sombong.


" Sombong, udah sembuh kok nggak kerja ?" Tanyaku lagi.


" Males ah, mending dirumah," Jawabnya sambil melakukan push up.


" Direktur kok gitu," Gumamku.


" Oh ya, ayah dan ibu kemana ?" Tanyaku.


" Udah berangkat dari tadi," Jawabnya singkat.


" Kalau kakek dan nenek ?" Tanyaku lagi.


" Ada tu di taman belakang rumah," Jawabnya.


" Kalau Pak...."


" Hadeh, banyak tanya deh, mending cari aja sendiri," Ucapnya.


" Ha ha ha, oke - oke," Ucapku sambil meninggalkannya.


Akhirnya aku tau sifat kakakku, dulu ku pikir ekspresi itu cuma sebuah kebohongan. Sebuah ekspresi palsu yang ia gunakan untuk membuatku tersenyum. Namun kini aku benar - benar percaya bahwa itu adalah ekspresi yang menandakan bahwa itulah sifatnya yang sebenar - benarnya.


Aku pun menuju ke taman belakang untuk pamit kerja sama kakek dan nenek. Disana tak nampak Pak Anto, mungkin ia sudah berangkat ke rumah lamaku. Aku pun berpamitan sama kakek dan nenekku untuk berangkat kerja.


" Kek, Nek, aku berangkat kerja dulu ya," Ucapku sambil mencium tangan keduanya.


" Iya, hati - hati ya," Jawab mereka.


" Iya," Ucapku singkat sembari meninggalkan mereka.


Sore hari, ketika aku pulang kerja, tanpa kusangka - sangka aku bertemu dengan seorang sahabat yang dulu pernah menjadi musuhku. Dia adalah Indra, sang musuh yang telah menjadi sahabat sejati. Sudah sekian lama aku tak pernah bertemu dengan dia, namun wajahnya masih sangat ku ingat.


" Woy, Candra," Indra menyapaku dengan sapaan yang biasa dilakukan oleh seorang sahabat.


" Eits - eits siapa lo ?" Tanyaku pura - pura tidak tau.


" Indra ndra, Indra," Jawabnya kesal.


" Indra siapa ya ?" Tanyaku masih berpura - pura.


" Ni anak amnesia atau apa sih ?" Gumamnya.


" Indra teman kamu SMA lah," Jawabnya lagi.


" Ha ha ha ha ha, iya Ndra, apa kabar kamu ?" Tanyaku sambil memeluknya karena memang sudah lama tidak bertemu. Memang benar, dulu kami pernah bermusuhan, tapi setelah uluran tangan tanda perdamaian itu, sudah banyak hal yang telah kami lalui bersama. Sebagai seorang sahabat yang tak bisa terpisahkan.


" Baik, kamu kemana aja, nggak pernah kelihatan ?" Tanyanya.


" Ya aku sih masih bantu - bantu aja di perusahaan papa," Jawabnya.


" Wihh calon bos ya ?" Pujiku.


" Ya bisa dibilang gitu lah," Jawabnya sambil melangkah menuju arah rumahnya, akupun ikut berjalan disampingnya karena memang tujuan yang searah.


Disepanjang perjalanan kami saling berbincang - bincang tentang segala hal. Tentang semua yang sudah lama tidak kami perbincangkan. Hingga sebuah arah telah menuntun kami untuk berpisah. Rasanya kebersamaan itu cuma beberapa saat, hingga akhirnya kami pun harus berpisah. Aku berjalan menuju ke arah rumah tanpa dampingan seorang sahabat.


Malam hari yang sunyi, namun kesunyian itu tidak berlaku didalam rumahku. Kami berkumpul bersama bagai mengulang masa lalu. Ayahku, ibuku, kakekku, nenekku dan juga kakakku. Mereka semuanya bersamaku, benar - benar sesuatu yang sangat menyenangkan. Dikala jam sudah menunjukkan pukul 21.00 ayah, ibu dan kakakku sudah bersiap - siap untuk tidur mengingat mereka harus berangkat ke kantor dengan jadwal yang teramat pagi. Lagipula kakakku sudah sembuh, meski belum sepenuhnya sembuh. Namun kakek dan nenekku masih asyik berbincang - bincang di ruang keluarga dengan ditemani secangkir kopi.


" Kek, nek..... Kenapa nggak selamanya aja tinggal disini ?" Tanyaku pada mereka.


" Kami punya rumah nak, lagipula rumah itu penuh dengan kenangan," Ucap kakekku yang diselingi dengan batuk - batuk.


" Hmmm, tapi kan disini ramai kek, nek. Kalau disana sepi," Ucapku mencoba meyakinkan mereka agar mau tinggal dirumahku untuk selamanya.


" Nak..... Mungkin kamu juga pernah merasakannya kan, bagaimana rasanya meninggalkan sebuah tempat yang penuh kenangan, ya itu rasanya kalau kami harus meninggalkan rumah itu," Ucap nenek dengan suara lembut khasnya.


Mendengar itu aku malah larut dalam kenangan masa lalu, berbagai kenangan indah pun aku ingat ketika masih berada di rumah lamaku itu. Hingga akupun tak mampu melanjutkan niatku untuk memaksa mereka tinggal dirumahku untuk selamanya. Bisa dibilang rencanaku gagal total.


Sore hari di hari yang berbeda, dikala aku sudah pulang kerja, begitu juga dengan kakakku. Aku berada ditaman belakang rumah sembari memandangi indahnya bunga - bunga yang sedang disiram oleh Pak Anto.


" Pak, aku bantu ya," Ucapku pada Pak Anto.


" Nggak usah Den, Den duduk aja disana !" Jawabnya sambil menunjuk bangku taman.


Aku tetap memaksa untuk membantunya hingga sebuah suara terdengar dari belakangku. Suara itu datang dari kakakku yang nampaknya sedang memanggilku. Niatku membantu Pak Anto pun terhenti akibat panggilan itu.


" Ada apa kak ?" Tanyaku.


" Tidak ada apa - apa," Jawabnya sambil duduk dibangku taman. Aku pun ikut duduk disampingnya.


" Nggak jelas banget," Celaku.


" Gini - gini, kita nggak pernah jalan - jalan kan, bagaimana jika hari Minggu nanti kita jalan - jalan," Ucap kakakku.


Sontak ajakan manis itu ku respon dengan mata yang berkaca - kaca, rasanya ingin menangis mendengarnya.


" Aku selalu berharap kakak bisa menganggapku sebagai adik yang sepenuhnya, dan sekarang, aku benar - benar merasakan hal itu kak," Ucapku yang hanya disambut dengan senyuman manisnya.


" Lalu, kita akan jalan - jalan kemana kak ?" Tanyaku.


" Kakak tau, kamu itu selalu memandangi sebuah tempat yang tinggi dari dalam kamarmu, kakak rasa kamu sangat ingin berada disana, bagaimana kalau kita kesana saja ?" Tawarnya.


Yang dimaksud tempat tinggi pasti bukit itu, maklum saja ia bisa tau aku selalu memandanginya. Karena pintu kamarku pun jarang kututup.


" Tempat itu ya kak ? Baiklah, aku sudah nggak sabar menantikan hari Minggu," Ucapku dengan penuh semangat.


Mungkin, harapanku berpetualang ditempat itu pun akan terwujud, menyusuri rimbunnya pohon - pohon dan hijaunya rumput. Dari sana pula mungkin akan nampak semua yang berada dibawah. Aku benar - benar sudah tidak sabar menantikannya.